🌵

3 0 0
                                    

Husna tengah mengyiapkan makan malam bersama Bi Ai di meja
"Panggil aja Pak Asep nya bi, kita makan bareng"tutur Husna setelah selesai menata piring

"Pak Asep udah makan duluan tadi non soalnya mau ambil berkas di kantor bapak bibi juga barengan tadi sama pak Asep, bibi permisi ke belakang ya non"pamit bi Ai

"Wow makanannya enak nih kayanya" Haidar datang dan duduk di kursinya

"Adek buatin ayam kecap ini buat ayah, di bantu bi Ai sih sebenernya" Husna membantu mengalaskan makanan untuk Ayahnya

"Terima kasih putri ayah, ayo kita makan"ajak Haidar

Mereka makan khidmat tidak ada percakapan yang keluar dari keduanya sampai kegiatan makan selesai, mereka lantas pindah ke ruang tengah, seperti biasa mereka akan sharing kegiatan masing-masing seharian ini

"Besok anter ayah main golf mau? Atau adek mau jalan sama Mario?" Tanya Haidar

"Boleh, adek ikut ayah,adek gak ada janji apa-apa kok besok"Husna mengiyakan ajakan Ayahnya

"Kamu lagi marahan sama Mario? Pas kemaren kesini kamu juga gak keluar" Haidar menatap putrinya

"Itu ..emm..aku..emm..ayah jangan nanyain itu deh,aku bingung jawabnya"Husna menyerah

Haidar tertawa kecil"it's oke kamu masih remaja gak masalah kalau berantem, lagi pula kamu hanya pacaran dengan Mario jangan terlalu serius untuk sekarang"Haidar memberikan pengertian

Husna mengangguk"adek kan sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kalau liburan nanti adek di pesantren gak papa?"tanya Husna

Haidar nampak berfikir"emm setengah-setengah gimana? Kamu sembilan hari disana nanti sisanya disini barengan ayah, ayah juga pengen weekend bareng kamu" tawar Haidar

"Deal,makasih ayah"Husna masuk kedalam pelukan ayahnya

"Kamu belajar yang rajin oke, jangan sering dulu keluar bawa motor nanti" nasihat Haidar ia khawatir Husna jatuh dan tidak bisa mengikuti Ujian

"Iya ayah, besok mampir ke toko buku juga ya ayah, Adek mau beli buku buat ujian universitas"tutur Husna

Haidar langsung menatap Husna "jadinya mau kuliah gak jadi nikah?" Goda Haidar

"Ayah,adek kan kemaren cuma becanda doang"sebal Husna kenapa kemarin ayahnya malah ikutan dengar sih jadinya dia malu

Haidar tertawa geli"ya sudah ayah juga hanya becanda, tidak apa-apa kalau kamu kuliah disini tidak keluar negeri?"tanya Haidar lagi"Ayah sanggup biayain kamu keluar tapi ayah ingin kamu disini barengan sama ayah, kalau musti jauhan lagi ayah kayanya gak bisa"terang Haidar ya hampir lima belas tahun lamanya Husna jauh darinya dan dia enggan melepas putri semata wayangnya itu lagi

Husna mengangguk"Tidak masalah lagi pula univ disini juga banyak yang bagus, adek ingin masuk universitas negeri yang bagus kalau misal tidak masuk jalur undangan adek akan persiapan dari sekarang untuk masuk jalur SBM"terang Husna

"Jalur mandiri juga bukan masalah" Haidar menambahkan

"Jangan dulu, adek mau ikut karena kemampuan adek dulu, ayah bantu doa aja supaya adek masuk dengan jalur yang adek pengen"larangg Husna

"Memangnya mau ambil jurusan apa?" Kepo Haidar karena anaknya ini benar-benar semangat membahas kuliah sekarang

"Emmm belum tau hihi"cengir Husna

"Dasar, udah sekarang naik waktunya buat tidur"perintah Haidar

"Ayay kapten"Husna lantas beranjak dari tempat duduknya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya

Husna dan Ayahnya berangkat pada jam setengah enam karena sudah membuat janji dengan yang punya tempat jam sembilan, jaraknya yang lumayan jauh membuat mereka harus berangkat pagi sekali, mereka menyempatkan diri untuk sarapan bubur di jalan

Husna melihat akun media sosialnya, di Instagram dia masih memfollow Mario, dia mencoba membuka story' milik laki-laki itu dan isinya ternyata membuatnya menyesal membukanya Mario tengah bersama dengan Gea mengenakan setelan serasi di tengah sebuah pesta

Haidar yang kebetulan sudah selesai makan melihat apa yang menjafi fokus putrinya itu "udah putus sekarang?"tanya Haidar

Husna hampir saja menjatuhkan handphone nya karena kaget "ayah untung gak jatuh loh ini handphonenya, iya kayanya udah putus"Husna mematikan kembali handphone nya

"Kok kayanya? Ya sudah jangan cemberut begitu kan masih ada yang lain nanti ayah cari yang lebih tampan"gurau Haidar

"Apasih ayah, udah ah ayok jalan lagi nanti kita telat nyampenya"Husna beranjak dari sana dan diikuti oleh Haidar

Seharian ini Husna benar-benar menikmati weekend nya bersama Haidar mereka main golf bersama lalu jalan-jalan di area kota dan membeli beberapa buku dan novel yang husna inginkan

"Kalau baca buku harus inget waktu ya kasian matanya"pesan Haidar karena Husna memang sesuka itu membaca buku

"Diusahakan ayah"timpal Husna

"Ayah ke kantor sebentar tidak apa-apa bada yang harus ayah urus dulu sekarang"izin Haidar

Husna mengangguk dan untuk pertama kalinya dia masuk ke area militer tempat ayahnya bekerja, rumahnya memang ada di komplek militer hanya saja itu bukan rumah dinas dibagian belakang banyak rumah warga biasa, Husna tidak terlalu tahu mengenai pekerjaan ayahnya dia hanya sekedar tahu kalau Haidar adalah tentara itu saja

Husna tidak turun dia memilih membaca di dalam mobil saja, meskipun weekend disini masih cukup ramai orang yang beraktivitas

"Kamu mau ayah bisa kasih satu"goda Haidar lagi saat masuk mobil

"Ayah"peringat Husna"kok sebentar adek kira bakalan lama"tanya Husna mengalihkan topik

"Orangnya sudah pang katanya besok saja, lagi pula kalau kamu masih betah liat mereka gak masalah ayah bisa nunggu"Haidar masih saja menggoda putrinya itu

"Nggak ih, adek mau pulang" Husna cemberut sekarang

"Kalau kamu mau sama salah satu mereka ayah senang-senang aja sih soalnya nanti kamu punya suami yang satu profesi kaya ayah" Haidar lantas menjalankan mobilnya keluar dari sana

"Ayaaaaah"rengek Husna

"Hahahaha lagian sama dokternya kan gak jadi, oke kok sama tentara juga dek"Haidar malah makin-makin

Husna badmood ya iya paham Ayahnya ini sedang meroasting dirinya yang suddah putus dari Mario yang cita-citanya ingin menjadi dokter

Mereka berhenti di lampu merah, Husna menotice seseorang di samping jendela mobil ayahnya, ya Mario sedang membonceng Gea diatas motornya

Mario sendiri melihat sekeliling dan dia merasa melihat sesuatu yang familiar 'mobil ayahnya Husna' dia langsung harap-harap cemas, semoga Haidar tidak melihat ke arahnya ya meskipun dia sendiri sanksi Haidar akan mengenalinya karena memakai helm full face sekarang, dia juga tidak dapat melihat siapa yang ada didalam mobil karena kaca mobil itu berwarna gelap

"Ayok jalan udah ijo itu"Gea menepuk bahunya

Lamunan Mario buyar, dia belum sempat mengobrol dengan Husna malah hubungannya mungkin sudah dianggap tidak ada oleh gadis itu akan tetapi dia akan mencoba berbicara dulu dengan Husna meluruskan semuanya, dia tidak ingin putus dengan kekasihnya itu, Mario hanya berharap Haidar belum mengetahui kalau mereka bertengkar, entah apa yang terjadi dengan dirinya kalau sampai Haidar mendengar Mario selingkuh dengan perempuan lain bisa gak dikasih restu dia

Ya keinginan Mario itu terkabul bukan Haidar yang melihatnya di lampu merah melainkan Husna sendiri memang kalau berdoa itu gak boleh setengah-setengah wkwk

"Adek ke kamar ya ayah gerah mau bersih-bersih dulu"pamit Husna dengan menenteng kantung belanjaan yang isinya buku yang ia beli tadi

Haidar mengangguk"Bi tolong ini di bereskan"perintah Haidar pada Ai lalu ia juga masuk ke dalam kamarnya


Our Story'Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang