percaya pada Saka

74.7K 3.9K 21
                                        

Hari demi hari, Saka tidak pernah absen dari hadapan Daisy. Kurang lebih satu bulan ini, Saka selalu mengunjungi Daisy.

Daisy pun sudah mulai biasa saja, tidak mengusir Saka lagi. Kandungannya sudah berumur 8 bulan, mungkin sekitar satu bulan lagi ia akan melahirkan.

"gue mau Ka" Saka mendongak saat sedang memakaian Daisy sepatu.

"mau apa?" tanya Saka mendengar perkataan ambigu Daisy.

"mau pulang ke rumah" Saka mencoba menahan senyumannya namun tak bisa, ia pun tersenyum lebar menampilkan giginya.

"beneran?" Daisy mengangguk.

Masih ada satu bulan kebersamaan mereka, Daisy tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Saka menutup setengah wajahnya sambil bertengger di pilar rumah Daisy.

"emang udah bilang bunda?" Daisy mengangguk.

"barangnya nanti aja bawanya, sekarang kita jalan-jalan ya?" Saka kembali mengangguk, ia menggandeng tangan Daisy dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.

....

Mereka berdua berada di dalam mall untuk membeli keperluan bayi mereka. Saka bahkan sangat antusias.

"beli warna netral aja ya, kita kan gatau jenis kelamin bayi nya apa" saran Daisy, memang selama ini mereka tidak pernah ingin mencari tahu jenis kelamin anak mereka, biar saja menjadi kejutan nantinya.

"gue tebak sih cewe, jadi beli warna pink aja ya? lucu banget ini" Saka menenteng baju bayi warna pink.

"engga! yang netral aja Saka"

Daisy mengambil pakaian dengan warna cokelat, biru, hijau dan warna sebagainya. Saka juga diam-diam memasukan baju pink tadi.

"maaf ya kalau gue selama ini banyak salah sama lo--"

"gak romantis banget minta maaf kaku banget gitu" cibir Daisy.

Saka mengusap tengkuknya yang tak gatal, ia bingung, ia tak tahu cara minta maaf yang romantis.

"sungkemannya nanti aja di rumah ya? aku laper pengin makan" mendengar suara Daisy yang sangat lembut menyapa telinganya, Saka segera tersadar bahwa istirnya sedang hamil dan sudah beberapa jam mereka berkeliling tanpa mengisi perut.

....

Daisy memalingkan wajahnya saat suara kamera dan flash menganggunya.

Saka mengusap wajahnya malu, sialan ia lupa mensilent dan mematikan flash kameranya. Ia pun berdehem pelan.

"khm, ka - kamu cantik banget hari ini" ujar Saka kaku dengan nada datarnya.

"jangan di paksa bilangnya, aneh tau" cibir Daisy.

"jadi diri kamu sendiri aja Saka, aku nerima kamu apa adanya kok" Saka menyengir sedikit salting dengan Daisy.

Padahal dulu ia sudah bersumpah tidak akan jatuh pada Daisy, tapi lihat sekarang, perkataan istrinya saja sudah membuatnya lemas.

"boleh gue post gak?" Daisy menatap Saka sebentar.

"nanti kalau ada yang kenal gimana?" tanya Daisy cemas, jujur saja ia masih takut dengan publik yang mengenalnya.

"ya biar tau aja" jawab Saka menyuruh Daisy duduk di bangku pinggiran outlet Mall.

"jangan, nanti citra kamu di sekolah rusak gara-gara aku" cegah Daisy.

"kayanya gue pengin keluar sekolah aja" Daisy melotot mendengarnya.

"mulutnya sembarangan! inget ya ijazah SMP kamu itu gak bisa nafkahin aku! emang iya kamu mau ngandelin ayah terus?" tanya Daisy.

"siapa yang ngandelin? selama kamu pergi, aku nyoba bangun usaha toko sepatu sama baju gitu, allhamdulillah laku, meskipun modalnya dari ayah, tapi aku balikin lagi, itu juga demi kita buat kedepannya nanti" tanpa sadar Saka ikutan merubah kosa katanya melembut.

"kita bakalan usai gak bakal lama lagi, Saka" batin Daisy.

"pantesan aja kamu kurusan, kantung mata kamu juga buktiin semuanya, aku malah nambah pikiran kamu, maafin aku ya? kamu pasti capek tiap hari kunjungin aku" Daisy minta maaf dengan tulus.

"jangan merasa bersalah gitu ya, yang salah di sini aku" jawab Saka.

"mau pulang sekarang? bunda pasti kangen banget dan pengin ketemu sama kamu" Daisy mengangguk, ia juga rindu dengan suasana rumah mertuanya.

"aku niatnya mau beli rumah minimalis gitu, tapi kamu bentar lagi melahirkan, aku gamau kamu kecapean sendiri, aku juga gamau nyewa baby sitter, insya Allah aku bakalan ada waktu luang buat jagain anak kita nanti, terus bunda juga bakalan bimbing kita nantinya" ujar Saka dengan sedikit geli.

"tumben hawa kita beda gini, kaya adem gitu ya? kaya kurang aja deh dengernya" pancing Daisy.

Cewek emang gitu ya, adem pengin ribut, ribut pengin adem.

...

Arsakahi, love

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Arsaka
hi, love.

paint without t [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang