selamat membaca 💘
.
.
.
🌼🌼🌼
Daisy sudah selesai dengan riasan tipisnya, kata bundanya tadi Saka akan datang dengan kedua orang tuanya untuk bertanggung jawab.
Daisy sudah tidak mau terlalu jauh mengecewakan Aster, mulai sekarang ia akan menuruti perkataan bundanya.
Masalah menikah dengan musuh bebuyutan ia akan pikirkan nanti saja, yang penting Aster merasa dirinya tidak gagal lagi.
"mah adek kemana?" tanya Daisy, sejak pulang sekolah Daisy tidak melihat Kenzo.
"lagi nginep di rumah temennya kak, banyak tugas katanya" jawab Aster membuat Daisy mengangguk mengerti, tapi ia tak percaya jika adiknya menginap untuk mengerjakan tugas, tugas mabar kali ya.
"udah yuk turun, kakak cantik banget pasti Saka bakalan pangling sama kakak deh" goda Aster namun Daisy hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Mereka berdua sudah sampai di lantai bawah, baru saja ingin duduk bel berbunyi beberapa kali.
"nah itu pasti mereka, kakak di sini aja biar bunda yang buka pintunya" Aster menuju pintu utama dan membukanya, betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa calon besannya adalah orang yang ia kenali.
"Berlina!! ya ampun ini kamu?! gila ya masih cantik ajaa" sama dengan bunda Saka, kedua wanita itu saling terkejut lalu berpelukan membuat kedua laki-laki di sana memutar bola matanya malas.
Saka memutuskan masuk terlebih dahulu meninggalkan semuanya.
"ya ampun Saka ga sopan banget kamu ya!!! teriak Berliana, bundanya.
"biarin lah Lin, lagian nantinya juga bakalan sering ke rumahku" Aster kemudian mempersilahkan teman masa kecilnya dan ayah Saka untuk masuk.
Daisy bergerak canggung saat netranya melihat Saka berjalan ke arahnya, Saka sangat tampan malam ini dengan tuxedo berwarna hitam, di tambah lagi luka di wajahnya yang entah sejak kapan singgah, namun itu menambah kesan tersendiri bagi Saka.
"lo jelek banget, gada bedanya pake make up atau pun engga, sama-sama jelek" inilah hobi Saka, mengejek.
"Saka!! bunda jewer kamu ya, gak sopan bilang kaya gitu ke cewek!!" Berliana menarik telinga Saka untuk duduk di sampingnya.
"dih di sekolah aja sok-sok an kece, di hadapan bundanya kaya kucing lagi di marahin" batin Daisy.
Di chapter ini gue agak bingung pembicaraan orang dewasa mau nikah kaya gimana, jadi gue skip aja ya, langsung intinya.
"jadi kapan pernikahan akan di langsungkan?" tanya Aster memastikan, sementara Daisy, gadis itu diam dan mendengarkan semua kata dari orang tua yang berada di sana.
"3 hari lagi, kami sudah mempersiapkan semuanya sejak tadi sore" Berliana memang selalu excited, apa lagi mendengar dirinya akan segera menjadi oma, bukannya marah ia justru senang dan segera mempersiapkan semuanya.
Berbeda dengan Arthur, ayah Saka yang langsung menonjok anak laki-lakinya.
"apa gak kecepetan?" batin Daisy, namun ia sama sekali tidak memiliki mental untuk bergabung dengan topik ini.
"oh iya ayah Daisy mana?" tanya Berliana, tanpa sadar Daisy menekuk wajahnya, hal itu tak luput dari pandangan semua orang yang ada di sana.
"bunda kalau tanya yang bener!! jangan sok tau ah, Daisy itu yatim" bisik Saka pada Berliana, reflek, wanita itu menutup kedua mulutnya.
"ayah Daisy ada kok, nanti aku kabarin dia biar dateng" Daisy menatap bundanya, jadi benar ayahnya masih hidup?
"apa sih? kamu tuh yang sok tau!" bisik Aster pada putra sulungnya.
"jaga image please" Arthur berdehem lalu ia menyetujui untuk segera melakukan pernikahan anaknya.
...
Saka membawa Daisy pergi malam ini, tentu saja dengan izin dari orang tua mereka.
"lo mau makan gak?" tanya Saka pada akhirnya karena sedari tadi mereka tetap diam.
"enggak, kan tadi udah" goblok, pertanyaan yang goblok, jelas-jelas tadi mereka sudah makan bersama.
"oh, kirain masih lapar, lo kan kalau makan banyak" tolong ya, kenapa Saka sangat cerewet padanya? namun ketika di hadapan orang lain Saka sok keren, cih.
"ih itu beli itu Ka!!" Saka dengan segera mengerem mobilnya di depan toko tanaman, malam-malam begini belum tutup nih toko.
"beli apaan? lo bawa duit gak?" tanya Saka bercanda.
"beliin dulu, nanti gue ganti suer" pinta Daisy, entah kenapa ia sangat ingin membeli tanaman anggrek dan menanamnya.
"dih berani ya lo minta-minta ke gue" Saka mendengus kesal lalu turun bersama Daisy memilih-milih tanaman itu.
"mau ini, sama bunga mawar yang merah pekat!!" teriak Daisy.
"gada uang, banyak mau" Daisy sungguh ingin menampol mulut Saka yang sangat lemes.
Pada akhirnya Saka membayar semua tanaman yang di beli Daisy, di tambah lagi Daisy meminta berhenti setiap ada makanan di pinggir jalan.
"udah jangan beli lagi makanan di pinggir jalan, gak sehat buat anak gue" Daisy tersedak minumannya, kenapa kata-kata Saka tadi begitu menggelikan?
"makanya minum yang bener!! anak gue keselek kan ga lucu" wajah Daisy semakin memerah, untung saja cahaya mobil remang-remang.
"geli dikit, tapi lucu juga" batin seorang Saka.
.
.
.
🌼🌼🌼
vote + komen bang
KAMU SEDANG MEMBACA
paint without t [end]
Teen FictionMarried By Accident? Hal itu tidak pernah terlintas dipikiran Daisy, apa lagi menikahnya dengan orang yang notabennya adalah musuh kita sendiri. Start : 19 September 2021 cover : Pinterest
![paint without t [end]](https://img.wattpad.com/cover/285523865-64-k806724.jpg)