- PROLOG -

1K 12 0
                                        

ALANARA
  
      - P R O L O G -

tikk... tik... tikk...

Rintik air hujan mulai terdengar dari arah luar jendela, sepasang mata dari balik jendela menatap kearah beberapa kendaraan yang masih melaju dikala hujan yang mulai deras membasahi kota bandung. Keadaan sunyi dan hanya ia sendiri membuat dinginnya malam semakin mudah untuk merasuk masuk kedalam tubuh anak lelaki itu, kedua kakinya mulai melangkah ke arah saklar lampu yang ada di dekatnya.

kik.
S

eketika ruangan yang awalnya gelap gulita itu menjadi terang, namun masih dalam keadaan sunyi tak berpenghuni. Matanya mulai menatap sekeliling, mempelajari beberapa hal yang mungkin terasa sedikit baru baginya, ini.. dimana (?)

"Woy!! Balik lo kerumah sialan!!" Di tengah heningnya malam terdengar suara bak petir yang menyambar. Tubuh itu menoleh kearah sumber suara, menatap tajam kearah sosok yang berdiri disana, keduanya hanya saling menatap berusaha menerka-nerka setelah ini apa yang akan terjadi (?)

Sosok yang semula berdiri di ambang pintu itu mulai melangkah maju kearah sosok lainnya. Salah satu tangannya dengan tegas menyeret sosok yang semula hanya terdiam mematung. "Bang, lo bisa pelan?!" Gertak nya.

Belum sampai di tempat tujuannya langkah mereka terhenti. Menciptakan keheningan dalam kecemasan. "Gua? Lo berharap gua bakalan pelan ke lo?, gua udah baik ya mau ngajak lo pulang, sekarang lo minta jemput aja, teman-teman yang lo puja-puja itu." Ucanya tegas. Ia mulai melangkah pergi meninggalkan sosok yang sepertinya adalah adiknya (?)

Kembali hening. Sama seperti sebelumnya, di tengah hujan yang mulai menjadi lebih deras dari sebelumnya, sosok itu mulai kembali ke tempat sebelumnya, ia duduk di salah satu bangku kosong disana, mulai menelungkupkan kepalanya dan secara perlahan memjamkan matanya.

* * *

Nyatanya sosok itu mampu melewati malam yang sangat menyeramkan. Udara angin pagi mulai memberikan ia suasana baru yang lebih segar dan terasa menyehatkan. Ia mulai merapikan rambutnya dan berjalan kearah saklar untuk mematikan lampu ruangan itu.

"Alan, kamu tidak pulang?" Tanya seorang wanita yang sedari tadi ternyata telah memperhatikan nya.

"Pulang bu, mungkin nanti siang atau sore" jawab nya, tanpa benar-benar melihat sosok  yang sebelumnya melemparkan pertanyaan kepadanya.

"Baiklah, ini ibu bawakan makanan, dimakan ya nak Alan" ucap wanita itu lalu melenggang pergi dari hadapan Alan.

Ia hanya tersenyum menatap bungkusan yang berisi beberapa makanan berat dan buah-buahan yang ibu tadi tinggalkan untuknya. Ia beralih berjalan kearah koridor dan mulai mengirup udara pagi dengan damai.

"Benar ya, terkadang orang sekitar lebih memiliki empati dibandingkan orang yang di sebut sedarah namun ia terus membangun api, yang pada akhirnya hanya mampu di padamkan dengan kata mati"


     

     

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ALANARA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang