- penerus ferendika -

35 3 0
                                        

Okta menggendong bayi nya dengan perasaan yang hancur. Air matanya hingga detik ini tak kunjung berhenti, bukan hanya anaknya namun dirinya sendiri masih sangat membutuhkan kehadiran Alan.

"Kamu gada niatan bangun lan?" Ucap Okta seraya sesekali mengusap batu nisan yang terpasang kaku disana.

Okta menatap kearah gundukan tanah yang sudah tidak mungkin untuk ada jiwa yang mampu keluar dari sana lagi.

"Maaf ya lan.. kalau kamu harus sakit dengan keputusan aku, tapi nyatanya aku ga sebisa itu tanpa kamu.. aku tau kalau kamu gabakal setuju sama keputusan aku. Alan.. sekarang anak-anak yang tersisa cuman aku, Fristya, Aluna, Aldi sama Faisal.. banyak amak-anak yang lebih milih untuk nyusul kamu sayang.." Okta mengusap air matanya. Ia sedikit mengelap wajahnya yang berlinang air mata. "Malaikat ku.. kamu tau? Pascal itu rumah dan kamu.. om El.. itu dua pondasi yang nguatin rumah ini.. sayang, kamu ingat kan? Semenjak om El meninggal se hancur apa kita.. walaupun kita masih bisa berdiri tapi kita hancur kan? Susah kan? Dan bahkan kita lebih banyak sakit nya semenjak om El gada.. karena apa? Ya.. karena salah satu pondasinya sudah rubuh. Teruss sekarang pondasi satunya akhirnya ikut hancur kan?? Dan kamu tau apa? Se isi rumahnya sekarang juga udah hancur." Okta menghela nafasnya kasar. Rintik hujan mulai turun Okta memilih untuk segera pulang dikarenakan ia membawa anaknya

Didalam mobilnya Okta sedari tadi sibuk menelfon fristya. "Kemana sih tya. Tumben ga angkat telfon" guman nya merasa aneh

Sekitar 7 menit kemudian ia mendapatkan pesan dari Fristya kalau dirinya berada di rumah sakit. Tanpa basa-basi Okta melajukan mobilnya kearah rumah sakit.

* * * * *

Sesampainya dirumah sakit, Okta bergegas masuk ke dalam bersama anak nya yang berada di gendongan nya.

"Kak.." Tegur Fristya dari arah belakang. Okta menoleh dan melihat Fristya sudah mengenakan pakaian yang sangat rapi. "Mau kemana lo?" Tanya Okta kebingungan

Fristya melipat kerah lengannya. "Gua mau ke US, gua harus ngelupain ini semua ta. Gua juga harus ngelanjutin mimpi gua sebagai seorang psikiater" Jelas Fristya.

Okta menghela nafasnya gusar. "Gapapa tya, semangat ya.. gua pamit dulu" Okta melanjutkan langkhanya melewati lorong-lorong ruma sakit. "Bawa kesini ta." Suara Fristya lagi dan lagi menghentikan langkah Okta. Ia menoleh kearah Fristya.

Okta kembali melangkah kearah Fristya. Ia tak kuasa untuk menahan rasa sedih di dalam hatinya. "Pastiin dia jadi anak yang  baik ya tya.. pastiin semua mimpinya gak terhambat sama apapun ya.. pastiin tuan putri ini menjadi penerus ferendika."

Dengan rasa sakit perlahan Okta menyerahkan bayinya kepada Fristya. Ada rasa tida ikhlas untuk kembali kehilangan separuh hidupnya, apakah setelah ia kehilangan suaminya untuk selama-lamanya ia harus kehilangan buah hatinya juga? Sekalipun putrinya dirawat baik oleh Fristya tetap saja ia harus merelakan jikalau anaknya tumbuh besar di bawah asuhan orang lan.

Kedua tangan Fristya secara perlahan menerima bayi dari tangan Okta. "Makasih kepercayaan nya ta.. gua bakalan jadiin dia sebagai sebaik-baiknya manusia yang pernah ada." Ucap Fristya, ia membiarkan Okta untuk mengecup kening putrinya untuk terakhir kalinya.

"Gua pamit ya ta.." Ucap Fristya lalu segera bergegas membawa amak bayi itu pergi.

Okta hanya mampu menatap langkah Fristya yang mulai menjauh. "Bahagia selalu peri kecil Alan.. kebanggan mamah dan papah..."

Bersambung.

ALANARA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang