🍁🍁🍁🍁🍁
"Hades, gue kok deg degan ya?"
Mendengarnya Hades tersenyum. Lalu tangannya bergerak mengelus tangan Arana dan membawanya dalam pangkuannya.
"Tenang, papa gak gigit kok" ujar pemuda itu dengan tatapan rumit.
Entah kebetulan atau apa, hari ini sekolah bubar lebih awal karena katanya salah satu guru SMA Cendana ada yang menikah.
Arana tidak tau pastinya, lagi pula dia tidak begitu mengenal guru guru di sini.
Hades langsung membawa Arana untuk pulang ke rumahnya sesuai permintaan papanya.
"Tetap aja hadessssuu, gue grogi"
Bagaimana tidak? Dia akan bertemu calon mertua kan?
"Kenapa harus? Ini bukan pertemuan pertama kalian."
Gadis itu terdiam. Mungkin ini adalah kesekian kalinya untuk Arana asli. Tapi dia hanyalah jiwa yang tersesat. Di kehidupan pertamanya saja dia tidak pernah di ajak cowok untuk bertemu orangtuanya.
"Hehehe iya juga ya?" Arana tertawa canggung. Hampir saja
"Hades"
"Hm?"
"Tidak jadi" jika Arana bertanya mengapa mereka bisa bertunangan apakah Hades akan berpikiran aneh tentang Arana?
"Gak jelas"
Arana tertawa garing mendengar penuturan sang tunangan. Dunia ini yang membuat gadis itu stress menjerumus gila.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka sampai pada rumah besar bergaya eropa klasik.
Arana terkagum-kagum melihatnya. Baru luarnya saja sudah semewah ini. Apalagi dalamnya?
Penjaganya saja tak dapat dihitung menggunakan jari.
Seperti rumah mafia di novel novel batin Arana
"Rumah lo jauh juga ya? Kalo mau sekolah berangkat jam berapa?"
Mata Hades memicing
"Lo lupa? Gue tinggal di apartment"
Arana terdiam mendengarnya. Mungkin lebih baik dia diam. Ingatkan dia jika dia adalah orang hilang di dunia antah berantah ini.
"Ayo"
Ketika mereka berjalan, tiba-tiba ada mobil hitam melaju meninggalkan rumah mewah ini.
Mata Arana menyipit. Dia seperti pernah melihat mobil itu, tapi di mana?
"Ara" mendengar suara bariton itu membuat Arana buru-buru menyusul Hades.
"Kalian sudah datang?" Seorang pria paruh baya menyambut mereka di ruang tamu.
Lagi-lagi Arana dibuat melongo oleh aksen di setiap sudut ruangan.
"Arana apa kabar?"
Arana tersenyum. Gadis itu berjalan mendekat pada pria paruh baya itu yang Arana pikir adalah papanya Hades.
"Kabar Arana baik om"
"Baguslah."
"Mau makan dulu Arana? Om belum makan temani ya?"
"Arana sud-
"Apa ada tamu?" Tiba-tiba seorang wanita paruh baya dengan dress ala rumahan datang dari tangga.
"Kenapa tidak pakai lift sayang, kau pasti lelah." Wanita itu memutar bola matanya malas mendengar penuturan suaminya.
"Jangan lebay deh"
Melihat itu ada sepasang mata yang menatap mereka muak
"Arana, tante kangen banget sama kamu"
Arana hanya terdiam kaku ketika wanita itu menariknya lalu memeluknya erat.
"Dia bisa mati" Hades menarik Arana agar menjauh
"Maaf Arana. Tante terlalu bersemangat"
"Tidak apa tante"
"Ayo kita makan bersama. Akhhh sayang sekali kakak Hades sudah pergi. Jika tidak kita bisa makan bersama-sama."
Hades punya kakak?
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi itu Arana berjalan melewati gerbang sekolah. Keadaan masih sepi karena memang masih pagi.
Langkah Arana terhenti ketika melihat dua orang berbeda gender yang tak asing berjalan beriringan.
Di sana, tampak Malvin tengah menyeret Mira agar mengikutinya.
Langkah Mira terseok-seok mengikutinya Malvin yang memang memiliki jangkah yang panjang.
Dengan rasa penasaran yang kuat, Arana mengikuti keduanya. Gadis pendek itu mengendap-endap di belakang kedua orang itu
Hingga Malvin membawa Mira ke belakang kelas 10 MIPA. Tampak Malvin memojokkan Mira ke dinding lalu mengurung pergerakan Mira dengan kedua tangannya.
Di ujung kelas Arana bersembunyi dengan kepala yang molongok sedikit.
Sayangnya Arana tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, hingga akhirnya Arana memutuskan untuk masuk ke salah satu kelas 10 dan bersembunyi di bawah jendela.
Syukurnya, di sini pembicaraan mereka terdengar lebih jelas
"Lo gak berhak ngelarang gue berhubungan dengan Arana Mira..."
Ada apa ini? Kenapa namanya dibawa-bawa? Batin Arana bertanya.
"Aku berhak Malvin..!! Aku ist--
Tak ada suara lagi yang terdengar. Karena penasaran dengan pelan-pelan Arana mengintip dari jendela.
Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat dua orang itu sedang berciuman. Malvin mencium bibir Mira menuntut dan Mira yang mencoba mengimbanginya.
Dada Arana terasa sesak. Mata gadis itu memanas.
Tidak mungkin Malvin selingkuh kan!! Jerit Arana dalam hati.
Tak kuat menahan rasa sesak di dadanya, Arana berlari keluar dari kelas itu, namun sampai pada pintu keluar dirinya dikejutkan oleh seseorang yang dibencinya.
"Gimana?" Tanya orang itu ambigu
Arana mendengkus kesal. Rasa sesaknya digantikan oleh perasaan kesal yang menggebu-gebu
"Lo buntutin gue?" Sentak Arana
Pemuda menggendikan bahu acuh
"Sekedar lewat" lalu dia tersenyum miring. "Ehh malah liat orang lagi patah hati"
Arana memandang pemuda itu tak suka
"Bukan urusan lo Hades..!!"
"Hm, emang bukan."
Tak ingin menggubris Hades, Arana hendak pergi meninggalkan Hades
Namun perkataan pemuda itu berhasil menghentikan langkahnya
"Berhenti Ara. Berhenti sebelum menyesal"
Tanpa menjawab Arana melanjutkan langkahnya, meninggalkan Hades yang menatap punggung Arana rumit.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dirimu bagai pelita dalam pekatnya malam
Indah pelukmu dalam sebuah teluk kekeringan
Meski kadang hati ini kesal akan tingkahmu yang menyebalkan
Percayalah
Dirimu tetap hero di setiap insan
KAMU SEDANG MEMBACA
Tunangan Antagonis
AcakMenurut Rena terperangkap dalam tubuh seorang tokoh novel hanyalah dongeng dari sebuah cerita. lalu bagaimana jika ia mengalami kejadian yang menurutnya hanya sebuah dongeng tak nyata itu? ***** Arana Wilson, tunangan dari Hades Giovandrick, dalam n...
