13🍁

138K 10.7K 195
                                        


🍁🍁🍁🍁🍁

Seorang pemuda berjalan santai melewati koridor sekolah, salah satu tangan nya ia masukan dalam saku celana dan tangan lainnya sibuk memutar-mutar Polpen.

Ralat

Maksudnya pisau yang berkamuflase dalam bentuk polpen.
Tampak nya suasana hatinya sedang bagus. Terbukti dari raut wajahnya yang berseri dan siulan yang keluar dari mulutnya.

Brukkkk

Pemuda itu terhuyung ke belakang. Berdecak kesal dia menoleh ke depan. Melihat siapa yang sudah berani menghalangi jalan nya. Ketika itu terjadi tatapan nya menajam. Rahangnya mengeras. Giginya bergemelatuk.

Sedangkan orang yang berada di depan nya hanya menatap malas lalu berlalu

"Lepasin dia." Langkah kaki itu berhenti.
Dengan langkah mundur orang itu mendekati posisi semulanya.

"Lo ngomong sama gue?" Telunjuk orang itu menunjuk dirinya sendiri

"Gue gak main-main" desis pemuda itu tajam.

Orang itu hanya bisa terkekeh. Merasa lucu dengan apa yang di ucapkan pemuda itu.

"Jangan terlalu serius, nanti gak seru."

"Masalah lo sama gue, jadi jangan pernah libatin siapa pun termasuk dia."

"Terus?" Orang itu maju selangkah.

"Ngelepasin dia sama orang yang bermasalah kayak lo?" Dia tersenyum remeh. "Bukanya dia bakal lebih menderita?"

Kedua tangan pemuda mengepal kuat. Tanpa sadar telapak tangan yang memegang polpen pisau terluka hingga membuat lawan bicaranya menatap remeh.

"Jadi-

Orang itu meraih tangan pemuda di depan nya, mengambil sapu tangan di saku celana nya, lalu mengusap darah pemuda itu.

"Lo terima saja kekalahan lo-
Orang itu menekan luka yang sedang dia bersihkan.

"Abang"

"Sialan"

🍁🍁🍁🍁🍁

Dua remaja perempuan sedang duduk berjajar di sebuah taman. Kedua nya diam dalam waktu yang lama. Menatap anak-anak yang sedang bermain basket dari kejauhan.

"Kapan, lo balik lagi?" Gadis dengan rambut tergerai memulai pembicaraan.

Sedangkan lawanya hanya mengeryit bingung. Apa maksudnya?

"Maaf, tapi apa sebelumnya kita saling kenal? Mak-maksud gue apa kita sebelumnya deket?"

Gadis rambut panjang itu terkekeh mendengarnya.
"Entahlah, Menurut lo apa interaksi kita selama ini bisa dibilang emmm dekat?" Tanyanya.

Arana bertambah bingung. Ada banyak rahasia dalam novel yang tidak ia ketahui.

Setahu Arana, Mira dan Arana tidak saling kenal, tapi apa ini? Aisshhh lama-lama Arana cekek juga tuh penulis.

Apa kedekatan Mira dan Arana ada hubungan nya dengan Malvin? Atau malah Hades?

"Lo tau? Awal gue tahu tentang lo dan Malvin. Gue marah banget." Mira terkekeh miris.
"Wajar kan Ran?"

Tapi sejak itu, Malvin berhenti Ran. Hanya saja dia selalu nyebut soal lo"

Arana hanya diam Mendengarkan. Bukanya lebih baik dia diam? Daripada nanti merusak alur.

Atau memang sudah rusak?

"Bukanya sama aja ya Ran?" Mata Mira mulai berair.

"Fisik gue memang sehat, tapi mental gue yang hancur Ran hiks"

Tunangan Antagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang