Menurut Rena terperangkap dalam tubuh seorang tokoh novel hanyalah dongeng dari sebuah cerita.
lalu bagaimana jika ia mengalami kejadian yang menurutnya hanya sebuah dongeng tak nyata itu?
*****
Arana Wilson, tunangan dari Hades Giovandrick, dalam n...
Hades menghindar ketika sebuah keripik potato terbang ke arahnya.
"Yang sopan" seru Kevan tajam
Hades mendengus mendengarnya. Lalu dia menyerigai "Memangnya lo siapa?"
"Ayah.kandung.mu" tegas Kevan penuh penekanan.
"Ohh benarkah?" Kejut Hades. "Jangan karena lo punya wajah mirip dengan si bajingan itu, lo bisa ngarang cerita ini dan itu. Lo pikir gue bakal percaya?" Bantahnya malas.
Kevan menghela nafas lelah mendengarnya. Dia meminum Americano yang tadi di pesannya lalu memijit pelipisnya.
"Nak dengar, mungkin ini gak mudah buat kamu. Tapi memang ini kenyataanya. Dulu ada sebuah insiden yang mengharuskan aku meninggalkan ibumu. Dan membuat Kevin menggantikan tempat ku"
"Lalu untuk apa lo kembali?"
Kevan tersenyum smirk. "Tentu saja merebut apa yang seharusnya menjadi milikku"
"Jangan harap!"
"Selama ini mama sudah menderita gara-gara bajingan Kevin. Gara-gara dia mama harus masuk rumah sakit jiwa!"
Entah mengapa mata Hades tiba-tiba memanas. Mengingat penderitaan yang di alami oleh sang ibu membuat hatinya berdenyut ngilu.
Melihat suaminya membawa wanita lain ke rumahnya. Mengenalkanya sebagai istri keduanya. hingga membuat ibunya stres. Setelah kejadian itu ibunya selalu melamun dan kadang mengamuk. Sampai akhirnya dia harus di rawat.
Dan sekarang ada seseorang yang mengaku sebagai ayah kandungnya dan merupakan kembaran dari si bajingan itu? Jangan harap dia bisa mendapatkan ibunya kembali.
"Ayolah Hades, kita harus kerja sama buat hancurin Kevin"
🍁🍁🍁🍁🍁
"Heyyy, maaf telat. Ada apa? Kangen ya?"
Arana mendengus malas mendengar penuturan pemuda itu.
"Bisa langsung ke intinya?"
Pemuda itu terkekeh melihat raut kesal gadis yang kini sedang duduk itu.
Menggemaskan
"Ayolah sayang jangan terlalu serius"
"Duduk Malvin"
Malvin mengendikan bahu acuh "Oke"
Setelah duduk pemuda itu menompang dagunya. Melihat Arana lebih intens. Kenapa gadis ini sangat menggemaskan? Bahkan Mira kalah jauh manisnya dengan Arana. Tentu saja, Mira lebih cantik apalagi jika dihiasi cairan berwarna merah.
"Lo tau? Gue kangeeeeen banget sama lo."
Arana tidak menghiraukan kicauan pemuda itu. Fokusnya sekarang adalah menggali informasi sedalam-dalamnya tentang dia, Hades, dan Malvin.
"Malvin"
"Ya? Lo juga kangen sama gue kan?"
Ck
"Malvin sebelumnya, lo anggep hubungan kita sedalam apa?"
Pemuda itu tersenyum manis. Lebih tepatnya sok manis. Karena tampang seramnya sama sekali tidak cocok.
"Kalo lo sendiri gimana? Selama ini lo anggep gue siapa?"
"Jangan membalikan pertanyaan."
Pemuda itu terkekeh. Dirinya menyeruput jus alpukat milik Arana. Manis seperti orangnya.
"Maaf karena gue harus nikah sama Mira. Ada alesan untuk itu dan gue gak mau lo luka karena gue."
"Maksudnya?"
Pemuda itu menghembuskan nafas panjang. Kemudian berdecak
"Entahlah"
"Satu yang pasti Arana, gue sayang sama lo"
Dari sini Arana menyimpulkan jika dulunya Arana yang asli pernah ada hubungan dengan Malvin.
Mungkinkah, dulunya mereka adalah sepasang kekasih? Dan karena Malvin harus menikah dengan Mira, mereka harus mengakhiri hubungan mereka.
"Hades-
"Jangan sebut namanya Arana. Gue gak suka namanya keluar dari mulut manis lo"
"Ada hubungan apa lo sama tunangan gue?" Tanya Arana, menekankan kata tunangan.
Malvin menggeram kesal. Tidak dirinya harus bisa menahan diri agar tidak melukai gadis manisnya.
"Kenapa lo tanya? Lo udah tahu semua kan?"
Arana terdiam. Tidak, dirinya harus memutar otak agar Malvin mau menjelaskan semuanya secara rinci. Karena jika dia bertanya kepada Hades maka pemuda itu akan marah dan Arana tidak suka.
Ketika Arana ingin berbicara, ponsel Malvin berdering. Pemuda itu menekan ikon hijau.
"Halo"
"......"
"Saya kesana"
Tut
"Sayang, maaf sebenarnya gue masih kangen tapi gue harus pergi"
Bahkan belum sempat Arana menjawab pemuda itu sudah pergi tanpa menunggu jawaban.
Ada apa?
🍁🍁🍁🍁🍁
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.