10🍁

163K 12.3K 149
                                        

🍁🍁🍁🍁🍁

"Kenapa?" Arana menatap pemuda yang sekarang sedang bersandar pada mobil ini.

Menggunakan kaos polos hitam serta celana training. Arana pikir Hades baru saja selesai jogging.

"Masuk" Hades berucap tegas. Seperti ingin memberitahukan jika dia tidak ingin di bantah.

Menghela nafas panjang, gadis itu memasuki mobil menyusul sang tunangan.

Lalu, mobil itu menjauh dari tempat semula.

"Sarapan ya?"  Arana mengangguk setuju. Lagi pula dia memang belum sarapan.

Sebelumnya dia juga sudah mengabari para teman nya agar membawakan barang miliknya yang masih tertinggal di tempat gym.

"Akhir-akhir ini lo beda" ucap Hades memecah keheningan

Arana membatu mendengar nya. Apa  perbedaan sifat antara dirinya dan Arana asli se kontras itu?

Arana merapikan poninya
"Ehemm perasaan lo doang kayak nya" jawab gadis itu mencoba untuk tenang.

Mendengarnya membuat Hades tersenyum miring
"Yahh, maybe"

"Kita mau sarapan di mana?" Tanya Arana mencoba mengalihkan pembicaraan

"Nanti lo juga tahu"

🍁🍁🍁🍁🍁

"Masak apa?" Seorang gadis tersentak kala merasakan lilitan di perutnya.

"Malvinn" cicit gadis itu.

Pemuda itu menyembunyikan wajahnya pada pundak sang istri
Kepalanya menyeruk dalam, menghirup rakus aroma yang menguar dari dalamnya.

"Miraa" bisik pemuda itu rendah

"Gue pengen"

Deg

Jantung Mira semakin bertalu-talu. Tubuh nya mungkin sudah luruh jika Malvin tidak menahan nya.

"Mal-

"Stttttt" Malvin mengeratkan lilitanya

"Persiapkan dirimu my rose"

Cup

Pemuda itu mengecup basah luka yang belum kering di leher sang istri hingga membuatnya meringis. Lalu pergi berlalu.

Mira tersenyum miris. Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Menolak pun rasanya percuma. Yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah. Setelah ini di mana lagi sayatan akan bersarang dalam tubuh nya?

Mira tak tau, di balik wajah tampanya itu, Malvin memiliki kelainan menyimpan tentang seks.

Jika saja Mira tau...jika saja..... Mira tidak akan---

Ahhh lagi-lagi seandainya...

Karena semuanya sudah terlambat...

🍁🍁🍁🍁🍁

Arana tidak habis pikir dengan orang-orang yang berada dalam novel ini. Meskipun Arana belum bisa mengenal mereka dengan sepenuhnya tapi yaa tetap saja. Contoh nya Hades ini. Hanya ingin makan semangkok bubur ayam harus ke retoran bintang lima yang bahkan harga semangkok nya bisa buat beli kuota dia selama dua bulan.

"Lo itu royal banget ya?" Mendengar itu membuat Hades menatap heran Arana. Salah satu alisnya menaik.

"Yaaa ini hanya bubur ayam lohh. Kan bisa makan di pinggir jalan. Kenapa harus ke sini yang mahal nya minta di tabok" lanjut gadis itu

Hades terkekeh ringan mendengar nya. Bukannya terpesona Arana malah merinding di buat nya.

"Lo amnesia ya?" Tanya Hades. Kini Arana yang menatap bingung pemuda itu.

"Mak-

"Dugaan gue gak pernah meleset. Lo emang beda akhir-akhir ini."

Arana terdiam

"Lo aneh"

Kini Arana merutuki kecerobohanya.
Dalam hatinya berkata bodoh, bodoh,bodoh.

Bodoh banget Arana

Seharus nya Arana tidak ingin banyak tahu karena Arana yang asli pasti sudah tahu. Ini salah penulis yang tidak menceritakan keseluruhan cerita Hades dan Arana. Bibir gadis itu mengerucut memikirkan itu. Memangnya apa yang bisa diharapkan. Dirinya hanya tokoh figuran.

"Bibir lo minta dicium?"

Arana menatap Hades penuh permusuhan.

"Ngeselin lo"

Pemuda itu memutar bola matanya malas

"Makan"

Dengan kesal Arana menyendokan bubur yang sudah diaduk itu. Ketika satu suap sudah menerobos ke mulut nya matanya berbinar.

"Hadessuuu enak banget."

Hades mendelik
"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu gue robek mulut lo"

"Hadessuuu jelek... Hades anjing hadeeees anjing jelek jelek jelek." Ucap Arana dalam hati tentunya

Kalian pikir Arana berani bilang secara langsung?

Oh.......ya tentu ajaaa.....tidak

Sekarang gadis itu sedang membekap mulut rapat. Melindungi mulut nya.

🍁🍁🍁🍁

Setelah berhasil menbujuk Arana untuk memberikanya kesempatan kedua, Malvin mengantarkan Arana pulang.

Tadi, berangkatnya Arana memang jalan kaki, karena jarak rumahnya dan taman kota tidak terlalu jauh. Jadi yaa sekalian olahraga.

Sampai di halaman rumah, Arana turun dan disusul Malvin.

Di depan pintu, ternyata ada Dika yang menatap tajam Arana dan Malvin.

Siapa sangka jika Dika akan menunggu kepulangan Arana?

"Pa..?"

"Papa ngapain?"

Bukanya menjawab, Dika malah memerintah Arana agar masuk ke dalam.

"Masukk" tegas Dika tanpa mau dibantah.

"Tap--

"Masukk Rana, Papa...mau bicara dengan dia" tegas Dika melirik Malvin.

Menyadari kondisi tak kondusif Malvin mengelus punggung tangan Arana seolah meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.

Akhirnya Arana hanya bisa menghela nafas pasrah tanpa mau ribut kembali.

Gadis itu masuk ke dalam meninggalkan Malvin dan Papa-nya di luar rumah.

Masuk ke dalam rumah, gadis itu terkejut mendapati seseorang sedang makan di dinning room rumahnya.

"Hades? Kok disini?"

🍁🍁🍁🍁

Tunangan Antagonis Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang