Suara ketukan pintu berulang-ulang membangunkan aku. Dengan tubuh yang masih terasa nyeri, tertatih aku berjalan ke arah pintu setelah menyambar handuk yang masih tergeletak di tempat tidur.
"Lu enggak kuliah, Cin?" tanya Lisa begitu aku membukakan pintu. Dia sudah berdandan cantik seperti biasanya sambil menggendong tas branded di punggungnya.
Aku menoleh ke arah jam dinding kamarku. "Ebuset ... Sudah jam sembilan," pekikku tertahan. Tapi badanku benar-benar masih lemas dan sakit semua. Pergumulan semalam bersama Indra benar-benar menguras energiku. Burungnya yang besar dan panjang membuatku harus megap-megap melayaninya empat ronde.
Aku menggeleng dengan lemah. "Sepertinya hari ini aku bolos deh, Sa! Badanku pada pegal semua," keluhku.
Bukannya prihatin dengan keadaanku, Lisa justru tersenyum lebar. "Lu jadi jual keperawanan elu? Dibayar berapa?" Pertanyaan Lisa membuatku sedikit panik. Aku tidak keperawananku kepada Om Sentot ataupun tamu yang akan membayarku. Aku justru memberikannya gratis sama Indra. Tapi tentu saja hal ini tak akan kuceritakan sama Lisa.
"Eng ... Enggak! Aku belum melakukannya," kilahku. "Aku cuma enggak enak badan saja karena semalam mesti mainin burung Om Sentot. Kamu pasti tahu kan bagaimana ritual anak baru?"
Akhirnya aku berbohong seperti yang apa diajarkan Indra. Sebelum dia pulang, Indra memang sudah berpesan padaku, besok aku pasti akan merasakan tubuh yang sakit semua. Jika ada yang menanyakan keadaanku. Aku disuruh bilang karena baru pertama kali disentuh laki-laki, jadi masih sedikit trauma. Karena rata-rata wanita anggota klub malam itu pasti menjalani test drive dari Om Sentot.
"Ow ...." Lisa membulatkan mulutnya dengan wajah yang kecewa karena tebakannya salah. "Ya memang begitu ritualnya, tapi kamu gak dicicipin kan sama Om Sentot? Soalnya burungnya kecil. Sekali pegang langsung teler," bisik Lisa sambil terkikik.
"Enggaklah! Tar harga jualku turun drastis kalau diperawanin sama dia." Aku mulai berani berkata-kata vulgar di depan Lisa.
"Ya udah kalau begitu, aku berangkat dulu! Aku cuma mau nyampein, tadi Bu Saodah ke sini. Biasa lah! Nagih uang sewa. Tar kamu ke sana ya!"
"Iya," jawabku sambil menutup pintu setelah Lisa berlalu.
Aku kembali ke atas ranjangku dan meraba bercak di seprei yang sudah mengering. Kain itu terasa kaku dengan noda darah bercampur kerlap kerlip bekas cairan lendir kami. Aku masih bisa mencium aroma kenikmatan semalam.
Aku kembali merebahkan tubuhku sambil pikiranku melayang, mengingat betapa dahsyatnya percintaan semalam. Indra yang berkasa berkali-kali membuatku melayang-layang. Benar katanya. Awalnya memang sakit. Tapi setelahnya, aku begitu menikmati pergumulan itu. Aku bahkan lupa, sudah berapa kali Indra memasukkan spermanya ke dalam rahimku tanpa memakai perlindungan.
"Bagaimana kalau nanti aku hamil, Ndra?" tanyaku waktu itu ketika untuk yang ketiga kakinya dia melepaskan cairan hangat itu ke dalam rahimku.
"Enggak bakalan. Ini kan malam pertamamu, rahimmu masih sempit, jadi butuh ekstra kerja keras agar benihku bisa membuahi rahimmu." Indra berkata dengan sangat yakin seolah-olah ia terbiasa melakukan ini.
"Kamu yakin?" tanyaku ingin memastikan.
"Kau bisa buktikan sendiri. Setelah malam ini, jangan melakukan hubungan dengan siapa pun. Kalau pun harus, kau harus menyuruh orang itu memakai kondom."
Aku ingin sekali membantahnya dan menanyakan dasar atas ucapannya. Namun bibirnya sudah membungkam mulutku dengan pagutan penuh nafsu. Kami pun kembali terhanyut untuk melakukan pergumulan untuk yang ke sekian kali.
*****
"Cin! Cintya!"
Suara ketukan dari luar pintu kamar diiringi teriakan yang memanggil-manggil namaku membuat kedua mataku kembali terbuka.
"Cintya, bangun Cintya! Sudah tengah hari blong gini anak perawan kok masih tidur! Cepat bangun Cintya!" Lamat-lamat aku sudah bisa mengenali suara itu. Ibu Saodah, pemilik rumah kos yang aku tempati.
"Sebentar, Bu!" teriakku dengan suara masih setengah serak. Benar saja, jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 11 lewat, rupanya tadi aku tertidur lagi setelah kepergian Lisa. Aku bergegas bangun dan membukakan pintu untuk Bu Saodah, masih dengan tubuh yang hanya berbalut handuk.
"Astaga!" Aku terperanjat dan hampir menutup kembali pintu kamarku begitu tahu, yang berdiri di depan pintu kamarku bukan hanya Bu Saodah, tapi ada lelaki muda yang usianya mungkin hanya sekitar dua puluh tahunan, mungkin dia masih SMA atau baru lulus SMA. Yang jelas, aku merasa tidak nyaman dengan kondisiku yang hanya berbalut handuk ini.
Tangan kekar Bu Saodah yang besarnya mirip dengan pahaku bergerak cepat menahan pintu. Alhasil, aku tak berhasil menutup pintu kamarku dan tetap terbuka. Aku sempat melihat lelaki muda itu terbelalak melihat setengah dadaku yang terbuka.
"Eit ... kamu mau coba menghindar?" ucap Bu Saodah yang mengira aku mau menutup pintu karena tak mau menemuinya.
"B–bukan itu, Bu! A–aku baru mau mandi, jadi hanya memakai handuk. A–"
"Dia?" Bu Saodah melirik ke arah lelaki itu. Lalu tertawa terbahak-bahak. "Dia mah masih bau kencur. Dia itu anak tiriku, anak bawaan Om Sentot. Masa iya nafsu lihat kamu? Dia saja baru lulus SMA, mana mungkin burungnya bisa berdiri lihat kamu."
Aku memperhatikan lelaki itu. Wajahnya memang terlihat masih muda. Mungkin karena badannya yang bongsor, tinggi besar sehingga dia terlihat seperti lelaki dewasa. Kalau diperhatikan lagi, wajahnya sangat tidak mirip dengan Om Sentot. Bisa aku akui, dia cukup menarik. Hidungnya yang mancung dengan potongan rambut yang cepak, matanya lebar dengan bulu alis yang tebal.
"Namanya Giovano, kau bisa memanggilnya dengan sebutan Gio!"
Aku mengangguk ke arah lelaki yang bernama Gio itu. Dia pun melakukan hal yang sama.
"Bagaimana? Uang untuk sewa sudah ada belum? Ini si Gio katanya disuruh bapaknya buat minta uang sewa."
Aku mengernyitkan keningku, bukankah Om Sentot bilang urusan sewa kamar dia yang mau urus. Kenapa tiba-tiba dia menyuruh anaknya untuk menagih?
"Hei ... Kok bengong? Ditanya malah bengong. Sudah ada belum? Ibu mau pakai ini duitnya."
"Sudah ada sih, Bu! Tapi aku belum mengambilnya. Masih di ATM," dustaku. "Aku mandi dulu ya! Setelah mandi aku akan ambil ke ATM!" Aku mencoba berkilah agar mereka cepat-cepat pergi dari kamarku. Tatapan Gio benar-benar meresahkan. Sorot matanya terus memperhatikan ke arah dadaku.
"Bener nggak? Tar lu bohong lagi!" Bu Saodah terlihat ragu dengan alasanku.
"Benar, Bu! Lagi pula, sebenarnya mulai nanti malam aku sudah bekerja di kafe Om Sentot! Dan Om Sentot bilang, biaya sewa kamar dia yang akan menanggung selama aku bekerja di kafe miliknya."
"APA? KAU BEKERJA DI KLUB, PAPA?" Gio seperti tersentak. Tiba-tiba tatapannya berubah seperti orang yang jijik terhadapku. Apakah jangan-jangan dia tahu bisnis apa yang dilakukan Om Sentot.
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
