Bab 27 Tuntutan

107 1 0
                                        

"Kamu kenal Indra?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja aku kenal, sangat kenal." Kedua tangan Gio terlihat mengepal. "Dia adalah kakak tiriku, kami memiliki ayah yang sama."

Aku tak bisa berkata apa-apa. Terkejut sudah pasti. Mau heran, tapi ini Indonesia, apa pun bisa saja terjadi. Namun, yang membuat aku tidak mengerti, kenapa aku harus terjebak dalam lingkaran permasalahan keluarga mereka.

Gio mulai terlihat tenang, tapi aku bisa melihat hatinya hancur. Mungkin lebih hancur dari yang aku alami sekarang ini. Dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu yang tertutup karena tendangannya tadi, lalu tubuhnya merosot terduduk di lantai.

Aku menghampirinya sambil mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, namun dia tak mengacuhkan uluran tanganku. Aku pun memberanikan diri duduk di atas lantai bersebelahan dengannya.

"Sejak kapan kau tahu kalau Indra adalah kakakmu?"

Gio tersenyum sinis, tatapan matanya kosong ke depan.

"Kemarin. Kemarin aku hampir saja membunuhnya jika mamaku tak mencegahku."

Kemarin? Aku berpikir keras. Semalam aku bersama Indra dan Opa. Meski aku tak melihatnya karena lampu kamar itu padam, tapi aku yakin dengan semua bukti yang aku temukan. Indra adalah orang yang ada di kamar itu.

"Kemarin saat kita bertemu dengannya di mal, setelah mengantarmu aku langsung pulang. Dan Mbak Cintya tahu apa yang aku lihat? Mereka berdua sedang bermesraan di ruang keluarga tanpa sehelai benang sedikit pun."

"Apa? Kamu serius Gio? Jangan mengada-ada, deh! Bagaimanapun, Ibumu adalah istri ayah Indra, artinya ibumu juga ibu Indra juga, bagaimana mungkin Indra melakukan hal gila seperti itu?"

Gio kembali tersenyum sinis. "Aku tidak mengada-ada, Mbak! Buat apa sih aku bohong. Aku enggak mabuk, dan mataku masih normal. Itu kejadian masih sore. Masih jam delapan-an. Mbak Cintya ingat kan aku pulang dari sini jam berapa kemarin?"

Aku mengingat-mengingat dan berusaha mencocokkan waktu kejadian. Kalau Indra masih di rumah Gio jam 8, artinya masuk akal dan dia masih punya waktu untuk menemuiku. Jadi, dugaan yang tidur denganku memang Indra.

"Dan itu bukan untuk yang pertama kali aku melihatnya, karena kemarin lusa, aku juga memergoki mereka."

"Sebentar! ... Sebentar!" cegahku. Gio mengatakan kemarin lusa dia memergoki Indra dan mamanya. Aku kembali berpikir keras untuk mencocokkan semua kejadian. Lepas dari masalah pribadiku dengan Indra, aku harus tetap berpikir obyektif mencari tahu, siapa di antara mereka yang benar.

"Bisakah kau menceritakan dari awal kejadiannya?" Aku menatap Gio dengan penuh pengharapan.

Lelaki yang masih sangat muda itu terlihat menarik napas berat, ia berusaha menenangkan amarahnya, sebelum kembali berkata setelah mengembuskan napasnya perlahan-lahan.

"Tiga hari yang lalu, aku pulang ke rumah sudah larut malam. Aku sempat berpapasan dengan mobil bapak yang baru saja keluar dari rumah. Namun, saat aku masuk, aku melihat ada sebuah mobil yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ada di halaman rumahku."

"Apakah itu CRV warna merah?"

"Iya!"

Ternyata benar. Itu mobil yang sama yang dipakai Opa mengantarku. "Terus?"

"Aku tak terlalu memikirkan siapa pemilik mobil itu. Bapak biasa gonta-ganti pakai mobil rekannya. Jadi aku langsung masuk ke rumah dan naik ke lantai dua. Namun, saat aku melewati pintu kamar Bapak, aku mendengar suara desahan seorang laki-laki dari dalam kamar. Padahal aku jelas-jelas melihat Bapak keluar rumah, mungkin dia pergi ke klubnya."

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang