Bab 39 Apakah Ini Kebetulan?

70 0 0
                                        

POV – Indra

Cintya masih tertidur pulas di jok tengah saat aku membawa mobilku keluar parkiran basemen gedung itu. Ia terlihat sangat letih setelah beberapa kali aku memberi semprotan kenikmatan. Tubuhnya dipenuhi peluh meski AC mobil menyala.

Papaku memiliki sebuah ruko berlantai tiga di kawasan segitiga emas Jakarta Barat. Rencananya, aku akan membawa Cintya untuk tinggal bersamaku di sana. Ya ... Setelah Gio masuk ke dalam kehidupanku, semua keuangan keluar begitu ketat atas pengaturannya. Papaku tak bisa berbuat apa-apa karena itu juga sudah melalui persetujuan mamaku. Dan aku ... sekali lagi aku harus rela tak mendapatkan uang saku apa pun tanpa izin dari Gio.

Aku bukan tipikal orang yang suka mengemis-emis atau mengharap belas kasihan. Sejak kecil saat mamaku sakit, aku sudah terbiasa melakukan apa pun sendiri. Aku tumbuh dewasa seperti laki-laki pada umumnya, hidup di lingkungan yang keras, saling sikut dan saling dorong, saling mencari muka dan saling menjatuhkan, semata-mata mencari simpati dari papaku yang saat itu sudah mulai tak fokus mengurus usahanya.

Jika dibandingkan dengan laki-laki seusiaku pada umumnya, mungkin aku juga tergolong anak yang menderita karena jauh dari kasih sayang orang tua seutuhnya. Meski aku percaya, di luar sana banyak yang bernasib lebih buruk dari pada aku. Ya, setidaknya aku memiliki semuanya, harta yang cukup dan uang yang berlimpah.

Tapi itu dulu. Status putra seorang pengusaha kenamaan Doni Wibawa hanya sekedar status. Faktanya, mulai saat ini aku harus bisa memikirkan cara untuk bisa bertahan hidup lepas dari semua kemewahan yang pernah aku miliki. Apakah aku menyesal? Sama sekali tidak. Demi mamaku dan demi masa depanku sendiri.

Beruntung papa masih memiliki ruko yang sekarang akan aku tempati ini. Satu unit motor dan mobil yang sekarang aku pakai ini, rencananya mau aku jual untuk kujadikan modal. Aku bisa saja meminta sama papaku untuk memberiku sedikit uang, tapi sekali lagi, TIDAK! Aku tak mau berdebat atau pun ribut dengan Gio yang pada akhirnya berimbas pada kesehatan mamaku.

"Kau akan membawaku ke mana, Ndra?"

Aku melirik dari kaca spion tengah untuk melihat Cintya yang sudah terbangun dan duduk di belakangku. Wajah lelahnya tetap terlihat ayu dengan sebagian rambut terurai dan sebagian kecil lainnya menempel di lehernya yang masih basah oleh keringat.

"Kau sudah bangun, Sayang?" tanyaku sambil menelan ludah melihat dua payudaranya tergantung indah di dada mulusnya. Dua buah kembar itu masih terlihat segar dan sekal.

Cintya hanya mengangguk seraya mengambil BH-nya dan memakai kembali pakaiannya.

"Aku belum tahu di mana rumah kosmu yang baru, jadi aku akan membawamu ke ruko di mana sekarang aku tinggal."

"Kau sekarang tinggal di ruko?" tanyanya sedikit terkejut. "Kamu sudah tinggal di rumah keluargamu lagi? Apa Gio–"

"Tidak! ... Tidak! Ini semua kemauanku sendiri. Lagi pula aku punya rencana membuka sebuah bengkel dan toko sparepart motor. Ya ... kita kan enggak selamanya mengandalkan orang tua kita."

Cintya menggigit bibirnya dan mengangguk lemah. "Kau beruntung terlahir dari keluarga yang berada, Ndra! Sekalipun tak meminta uang dari mereka lagi, seenggaknya punya harta yang bisa dijadikan modal. Tidak sepertiku, modalku adalah tubuhku."

Aku menghela napas. "Jangan berkata seperti itu. Setiap orang punya tingkat kesulitan hidup yang berbeda-beda. Sering kali kita mengukur kebahagiaan orang dari apa yang kita lihat tanpa mau tahu kesusahan apa yang sudah menimpa mereka. Seperti aku misalnya. Mungkin aku akan memulai semuanya dari nol. Termasuk menjual mobil ini untuk aku jadikan modal."

Cintya menatapku nyaris tak berkedip melalui kaca spion tengah mobilku. Aku tak peduli dia akan mempertimbangkan untuk bertahan atau meninggalkanku. Yang jelas, untuk saat ini aku ingin berusaha hidup lebih baik, menjalani hidup semampuku dan memanfaatkan apa yang aku miliki. Tidak termasuk dengan Cintya, aku akan memberinya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Kecuali ...

Cintya tiba-tiba melangkah di antara jok depan dan langsung duduk di sebelahku.

"Aku sama sekali tidak keberatan dengan keadaanmu saat ini, Ndra. Aku akan selalu di sampingku selama kau menginginkanku."

Aku tersentuh mendengar ucapannya. Mengangkat tangan kiriku, dan menarik kepalanya untuk bersandar di bahuku.

"Jika kau sudah berkata seperti itu, aku pasti akan berusaha yang terbaik untukmu, untuk kita."

Sesaat kami terdiam dan hanyut dengan pikiran kami masing-masing. Terkadang, banyak kebahagiaan yang tak bisa kita siratkan hanya dengan kata-kata. Diam akan mewakili semuanya. Hanya jemari tangan kami yang terus saling menggenggam.

"Oh ya ... kenapa kau bisa berurusan dengan orang-orang itu? apa ada masalah?" tanyaku melepas tangan kiriku yang berada dalam genggaman tangannya ketika harus melakukan manuver karena belokan tajam.

Cintya menegakkan badannya. "Om Sentot dan Lisa. Mereka telah merencanakan semuanya untuk menjebakmu dan Gio."

"Maksudmu?"

"Aku sempat mencuri dengar dari obrolan mereka, Lisa sengaja memberimu obat perangsang kepadamu agar .... "

Aku tersenyum hambar. "Sudah kuduga. Aku memang merasakan ada sesuatu yang lain saat masuk ke rumah mereka. Pandanganku sedikit kabur dengan dada berdebar kencang. Aku memang sempat meminum minuman yang diberikan Lisa saat mengantarnya sebelum ke rumah Om Sentot."

"Kau mengantar Lisa? Kapan?" kening Cintya mengerut.

"Sehari sebelum aku bertemu denganmu di klub malam itu. Aku ... aku yang menyuruh Lisa untuk membujukmu pergi ke klub malam Om Sentot. Aku juga pergi ke rumah Om Sentot agar mengatur semuanya. Tapi yang terjadi ... justru di luar dugaanku."

"Kau meniduri Tante Lauren?" cecar Cintya.

"Aku ... entah apa yang merasuki pikiranku, semuanya seperti sebuah kesengajaan yang membuatku tak bisa menghindari kejadian itu."

Cintya terdengar menarik napas panjang. "Aku bisa mengerti itu, Ndra. Karena memang Lisa sudah memberikan obat perangsang kepadamu. Om Sentot sendiri juga memang sudah memasang jebakan untukmu. Mungkin Lisa sudah memberi tahunya akan kedatanganmu, sehingga membuat adegan seolah-olah tak menyadari kehadiranmu. Aku bisa mengerti. Lelaki mana pun pasti tak bisa menghindar saat melihat–"

"Terima kasih kau sudah mau mengerti, Cintya!" Aku sengaja memotong ucapannya karena tak tahan mendengar ceritanya. Malu pada diri sendiri itu tentu. Sebejat apa pun seorang lelaki, pasti dia akan merasa malu sendiri jika seorang yang dicintainya membuka aibnya.

"Tapi yang aku tidak mengerti, kenapa mereka juga menjebak Gio dan sepertinya sengaja untuk mengadu domba denganmu?"

"Entah, lah!" Pikiranku belum bisa mencerna sejauh itu. "Mungkin Om Sentot merasa Gio sebagai kartu As yang akan mengendalikan semua kekayaan papaku. Jadi dia menghasutnya untuk menyingkirkanku dan menguasai harta papaku."

"Itu memang masuk akal." Cintya menghela napas berat. "Mereka bisa melakukan apa pun selama bisa mendapatkan harta dari keluargamu. Yang sekarang menjadi beban pikiranku, Om Sentot, Lisa dan Bu Saodah sudah tahu kalau aku mendengar semua pembicaraan mereka. Mereka pasti tak akan melepaskanku dan akan terus mencariku."

Aku kembali mengulurkan tangan kiriku dan membelai rambut Cintya. "Kau tak perlu khawatir, untuk sementara kau tinggallah bersamaku."

Cintya hanya tersenyum lalu kembali menyandarkan tubuhnya di bahuku. Ruko tempat tinggalku sudah terlihat. Aku membelokkan mobilku dan memarkirkannya persis di depannya.

"Kita sudah sampai. Ayo kita turun."

Cintya sudah bersiap menarik hendel pintu, namun tiba-tiba dia kembali berbalik menatapku. "Ngomong-ngomong, kenapa bisa kebetulan kau berada di tempat orang-orang itu mengejarku?"

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang