POV – Cintya
Apartemen Mediterania, dini hari.
"Jadi, siapa yang sudah meniduriku?" tanyaku dalam hati, kesal. Ini benar-benar tidak fair kalau ternyata aku sudah digilir oleh mereka. Bayaranku harus dobel. Pantas saja pakai acara lampu dimatiin lah, pakai penutup mata lah.
Aku terus menggerutu sambil memakai kembali pakaianku. Karena terburu-buru, tanpa sengaja aku menyenggol meja kerja Opa dan menjatuhkan gelas kopi yang ada di atasnya.
Bunyi gelas pecah yang jatuh berantakan seketika menggema di ruangan apartemen itu. Opa yang tertidur di atas sofa ruang tamu seketika terbangun dan menghampiriku. Namun, bukannya aku merasa takut, tapi justru menatap sinis terhadapnya dan bergegas menuju kamar tanpa memedulikannya.
"Nona, tunggu, Nona!" cegah Opa menarik tanganku.
Ada yang janggal di telingaku. Nona? Ya ... dia memanggilku 'Nona'. Ini jauh berbeda saat pertama aku bertemu dengannya tadi. Opa yang dingin dan kaku, kini berubah menjadi Opa yang menciut dengan tatapan penuh rasa takut.
"Kenapa?" ketusku. "Aku cuma ingin tahu, siapa yang sudah tidur denganku."
"T-tapi, Non! Tuan tidak ingin Nona Tahu atau pun melihat wajah Tuan, jadi–"
"Kenapa? Takut aku minta bayaran dobel? Ya iya lah aku minta bayaran dobel, ini enggak ada dalam perjanjian kalau aku bakal kasih servis sama kalian berdua."
"I-ya, Non. P-pasti saya akan membayar dua kali lipat," ucap Opa terbata-bata. Telapak tangannya sangat dingin dan bergetar saat memegangiku. "Non Cintya duduk dulu ya, biar saya ambil uang dulu." Opa menarik dan menuntunku untuk duduk di sofa.
Aku menghela napas berat. Dalam pikiranku, bodo amat siapa orang yang sudah meniduriku. Yang penting aku mendapatkan uang, dan ini dua kali lipat.
Sesaat bibirku mengulum senyum sendiri. Tapi senyuman itu tidak berlangsung lama. Aku melihat Opa masuk ke dalam kamar yang berbeda. Banyak kejanggalan yang aku rasakan. Dari sikap Opa yang mendadak terasa hormat kepadaku, sampai kegigihannya yang berusaha menutupi siapa lelaki yang meniduriku.
Ingin rasanya aku diam-diam pergi ke kamar di mana aku bercinta tadi. Membuka pintu, menyalakan lampu dan melihat sosok lelaki itu. Tapi ...
Ah sudahlah! Tidak penting aku tahu siapa orang itu. Yang terpenting aku sudah mendapatkan uang dan besok bisa langsung berangkat ke kampus dan membayar uang biaya administrasi kuliahku.
"Ini uang sisa untuk pembayaranmu, Non! Dan ini uang tambahan pelayanan ekstra."
Opa keluar dari kamar dan menyodorkan amplop berwarna cokelat untuk sisa pembayaran sesuai kesepakatan dan satu ikat uang tanpa amplop. Aku langsung menghitung uang yang dalam amplop terlebih dahulu. Sepuluh juta. Sudah sesuai dengan kesepakatan. Karena sepuluh juta lainnya sudah dia bayarkan lewat Om Sentot sebagai tanda jadi.
Aku memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop dan menaruhnya di atas meja lalu menghitung uang pembayaran pelayanan ekstra yang tanpa amplop.
"Kok cuma lima juta?" protesku menatap tajam ke arah Opa yang masih berdiri tak jauh dariku.
"Ya memang segitu," ucap Opa dengan wajah dibuat serius. "Memangnya kamu minta berapa?" Pertanyaannya terdengar dingin, tapi aku tetap bisa merasakan kalau sikap Opa seperti dibuat-buat.
"Ya ini kurang, lah! Masa lima juta? Tarifku enggak segitu. 10 juta lagi!"
Opa mengerutkan kening. "Kamu mau peras kami? 5 juta itu sudah angka yang sesuai buat kamu. Coba kamu pikir, dibilang cantik, kamu biasa saja. Dibilang seksi? Seksi dari mananya? Pelayanan juga biasa-biasa saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
Fiksi UmumWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
