Bab 21 Pesona Istri Simpanan Papa

1.6K 5 0
                                        

POV – Indra

Dua hari sebelum pertemuan.

Seorang wanita keluar dari ATM Center dengan wajah tertunduk. Ada binar kesedihan terpancar dari kedua matanya yang redup.

"Woy ... Bengong aja, lu!"

Lisa sengaja menabrakkan dada besarnya ke punggungku. Namun perhatianku masih acuh, mengikuti langkah wanita itu.

"Lu kenapa sih lihat Cintya seperti itu?" tanya Lisa lagi. Dia pura-pura mengancing kemejanya, namun aku tahu dia sebenarnya ingin memamerkan buah dadanya padaku.

"Lu kenal dia, Sa?" tanyaku sambil melirik sedikit kulit dadanya yang putih. Ada deretan warna merah membentuk struktur gigi yang masih membekas di atas kulitnya.

"Kenal, dong! Aku kan satu kos sama dia."

Mataku terbelalak, bukan karena terkesima melihat payu dara Lisa, tapi entah kenapa aku seperti tertarik dan penasaran dengan gadis yang baru saja kulihat tadi. Dan begitu aku tahu dia satu kos dengan Lisa, ada kegembiraan sendiri dalam hatiku.

"Oh ... Satu kos sama kamu? Siapa tadi namanya?"

"Cintya!"

"Oh Cintya ... Hm ...." Aku berpikir keras mencari cara untuk bisa mendekati wanita itu. "Lu bisa kenalin gue sama dia enggak?" tanyaku akhirnya mengambil inisiatif untuk memakai Lisa sebagai perantara.

"Mau ngapain?" tanya Lisa setengah berteriak. Dia jelas kaget dengan pertanyaanku. Di fakultasku ini, tak banyak yang tahu sepak terjangku selain Lisa dan teman-teman dekatku. Aku sendiri mengenal Lisa karena tanpa sengaja bertemu dengannya di salah satu acara ulang tahun temanku. Lisa dipanggil ke acara pesta yang diadakan di sebuah vila. Usut punya usut, ternyata temanku membooking Lisa untuk 'menjamu' kami.

"Ya mau kenalan lah!" jawabku santai.

"Eh dia gadis baik-baik lho, bukan orang blangsak kayak gua." Lisa mendekatkan mulutnya ke telingaku sambi berbisik. " Kalau lu mau cinta satu malam. Booking gua aja napa? Gua kasih diskon, deh!"

"OGAH!" ketusku sambil menoyor kepalnya agar menjauh dariku. "Pentil kamu hitam."

"Eh bangsat, lu! Mana ada pentil warna merah, gua cat pakai pewarna makanan, mau?"

Lisa bersungut-sungut memalingkan wajahnya dariku. Tapi tetap saja dia duduk di atas kap mobilku menunggu seseorang yang bisa ditumpanginya untuk mengantarnya pulang. Paling-paling kalau enggak ada teman yang satu arah, dia akan merengek padaku minta diantar.

Aku memang tak pernah memilih siapa yang jadi temanku, selama orang itu asyik, aku juga pasti akan membalasnya lebih asyik. Sama halnya dengan Lisa. Meski aku sudah tahu dia seorang wanita panggilan, aku tak pernah mempermasalahkannya. Pekerjaan dia adalah urusan dia, meski kadang jika kami hanya berdua atau berada di lingkungan yang sudah sama-sama tahu latar belakang pekerjaannya, aku sering berkata blak-blakan.

Aku terkekeh melihat mimik wajahnya yang lucu. "Enggak, aku mau jadiin dia pacar," ucapku setelah tawaku mereda.

"Hah? Pacar?" Lisa kembali menoleh ke arahku sambil mencibir. "Mau lu ke manain si Rindi? Lagi pula, gua rasa si Cintya enggak bakalan cocok sama gaya lu! Dia itu—" Lisa membuang wajahnya sebentar seakan enggan meneruskan kalimatnya. "—enggak cocok saja sama anak gaul macam elu, dia itu enggak level."

"Nah! Justru itu," ucapku sambil menepuk paha Lisa yang masih duduk tanpa dosa di atas kap mobilku. "Gua bosan ketemu sama orang-orang seperti Rindi."

"Maksud lu, kayak gua?"

"Bu-bukan seperti itu maksudku." Aku berusaha meralat ucapanku yang mungkin sedikit menyinggung perasaan Lisa. "Cewek seperti elu, itu enak banget buat temenan, teman nongkrong, teman curhat, teman buat teler, syukur-syukur ngasih daging gratis."

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang