Dalam kondisi normal, lelaki seusia Opa seharusnya membutuhkan waktu paling cepat 30 menit setelah ejakulasi untuk bisa berdiri tegak lagi. Tetapi yang aku rasakan pada lelaki ini sungguh berbeda. Meski berulang kali dia mengerang, tapi keperkasaannya masih berdiri tegak keras menantang.
Bahkan menurut buku yang pernah aku baca. Lelaki usia dua puluhan pun, butuh waktu 15 menit untuk membuat burungnya berdiri lagi.
Aku turun dari atas tubuh Opa karena berpikir dia butuh waktu untuk mengembalikan keperkasaannya. Tak peduli cairan kental dari rahimku yang mungkin menetes ke atas pahanya karena terlalu penuh oleh muntahan burungnya, aku merangkak sambil meraba-raba di atas kaki panjangnya.
Mataku yang masih tertutup, tak bisa melihat apa yang dilakukan lelaki tua itu. Namun aku bisa merasakan kalau dia sedang bergerak dari kasur yang aku pijak.
"Ini mustahil!" gumamku. Aku merasakan lelaki itu sudah kembali berdiri di belakangku. Dengan posisiku yang masih merangkak, dipastikan dia berdiri dengan menekuk lututnya untuk meluruskan kejantanannya agar sejajar dengan bokongku.
Dan benar saja, selang beberapa saat, aku sudah merasakan sesuatu yang hangat menempel di belahan pantatku. Memang tidak sekeras tadi, tapi benda itu tetap bergerak-gerak mencoba membakar lagi gairahku.
Bak seorang joki yang sedang berpacu dalam turnamen pacuan kuda. Opa merebahkan tubuhnya di atas punggungku. Tangannya melingkar melalui kedua sisi pinggangku dan meraih kedua payu daraku.
Aku sempat menahan napas ketika secara bersama-sama kedua tangannya meremas buah dadaku, menggunakan ujung jari telunjuknya berputar-putar mempermainkan puting susuku. Ya ... Selama percintaan tadi, kedua payu daraku sama sekali tak disentuh olehnya. Padahal secara alami, aku bisa mendapat kenikmatan yang lebih jika dia melakukannya secara bersama-sama. Memasukkan keperkasaannya sambil memainkan buah dada. Akan tetapi hal itu terlewatkan dan tidak dilakukan olehnya tadi.
Seolah ingin mencari keadilan, kedua payu daraku kini kembali mengeras. Tak terlalu besar namun padat dan sintal. Ingin rasanya aku berbalik ke arahnya dan menyuruhnya untuk melahap kedua payu daraku itu. Namun kedua tangannya mengunci tubuhku sehingga membuatku tidak bisa melakukannya.
"Aku mau coba cara yang lain," bisik lelaki itu. Aku sama sekali tak mengerti maksud ucapannya. Yang aku tahu, burungnya memang sudah kembali mengeras dan berdenyut-denyut memukul bokongku.
Opa melepas cengkeraman kedua tangannya. Ia pun sudah mengangkat tubuhnya dari atas punggungku dan sudah siap menunjukkan keoerkasaannya. Posisi tangannya kini sudah berada di atas pantatku. Seperti seorang penjual buah yang akan membelah duren, jemarinya menarik bokongku ke arah yang berlawanan, seolah ingin menguliti pantatku. Dan ujung kepala burungnya, sudah berada di dalam garis pembatas belahan daging bokongku. Tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu empuk. Namun aku yakin, Opa akan menyukai goyanganku.
Kepala burung yang plontos itu sepertinya kembali mengeluarkan liur. Hal itu dimanfaat oleh Opa untuk membasahi daerah kewanitaanku itu agar licin. Ia lalu sedikit menekan burungnya mencoba memasukkan ke dalam lubang yang salah.
"Aw!" teriakku. "Sakit Opa!" rintihku saat Opa mencoba memasukkan kembali burungnya ke dalam lubang yang salah. Kepala burungnya memang belum sempat masuk ke dalam lubang pembuangan. Namun saat dia menekannya, aku tak bisa menggambarkan rasa sakit yang tak tertahankan meski dia berulang kali membasahi lubang itu dengan air liurnya.
"Di sini lebih hangat dari pada lubang yang di bawah," bujuknya. Namun secara refleks, otot-otot sekitar lubang pembuanganku bekerja keras membuat perlindungan agar burung Opa tidak bisa menerobosnya.
Opa kembali menarik daging bokongku, menyibaknya agar lubang itu kembali terbuka lebih lebar. Aku hanya pasrah jika dia bersikeras mencoba memasukkannya lagi. Dan tepat seperti yang aku bayangkan. Opa kembali menekan burungnya ke dalam lubang yang salah.
Jleeeb!
Burung opa terpeleset ke bawah dan masuk ke dalam liang kenikmatan. Namun, yang dia inginkan, menerobos masuk ke dalam lubang pembuangan air besar, tapi justru terpeleset dan tercebur ke dalam lubang yang memang seharusnya dimasukinya.
Tentu saja Opa merasa keberatan. Bukan lubang itu yang dia inginkan. Dia ingin lubang lain yang menurutnya lebih hangat dari pada lubang yang seharusnya.
Memang. Lubang yang dia inginkan memang lubang yang lebih rapat di banding lubang rahim. Organ yang menjadi terusan dari usus besar itu memiliki saraf-saraf yang kuat. Dia tidak selentur lubang rahim dan tidak juga mengeluarkan cairan pelumas sendiri yang membuatnya sulit dimasuki.
Tapi ketika lubang itu berhasil dijebol, sarafnya tak akan kembali dan cengkeramannya tak akan sekuat sebelumnya. Percaya tak percaya, wanita tak akan menikmati hubungan seks melalui lubang itu tanpa adanya bantuan sentuhan organ yang lain. G-spot misalnya.
Opa kembali menyiapkan strategi untuk menjebol lubang itu. Ia membasahi kepala burungnya dengan air liur dari dalam mulutnya. Dia melakukan uji coba dengan memasukkan jarinya. Mencelupkan jari tengahnya yang sudah ia basahi, lalu memutar-mutarnya di bibir lubang pembungaanku.
Merasa itu akan berhasil, Opa mencoba menekan lagi kepala burungnya ke dalam lubang yang salah. Kali ini tangannya memandu dan membimbingnya agar tak terpeleset lagi, sementara tangan yang lain membantu dengan membelah bokongku agar lubang itu lebih terbuka tanpa terhalang apa pun.
"Aaaa ...." Aku menjerit lagi, kali ini jeritannya lebih keras. Seandainya kamar ini tak berperedam, mungkin tetangga-tetangga akan bisa mendengar jeritanku.
Ujung kepala burung Opa sedikit berhasil masuk ke dalam lubang meski tak sampai leher kepala burung. Merasa sangat sakit, tubuhku yang sudah bebas dari tangannya bergerak ke depan untuk melepas tusukan terong panjangnya. Aku tahu dia pasti kecewa.
Untuk bisa menebusnya, aku segera memutar tubuhku, meraba-raba mencoba menggapai burungnya. Ketika tanganku berhasil mendapatkannya. Aku segera mencengkeram dan menuntun terong itu agar masuk ke dalam mulutku.
Sama persis seperti yang aku lakukan tadi di luar kamar, aku melahap terong panjang itu, mengulum dan menyedotnya sekuat tenaga.
Opa mendesah, usahaku untuk memberinya kenikmatan dalam bentuk lain telah berhasil. Aku semakin intens dan agresif memanjakan burungnya. Tak butuh waktu lama, Opa sudah memintaku untuk kembali telentang. Dan ...
Jlebbbb!.
Tusukan yang telak berada di lubang yang tepat membuatku memejamkan mata, merem melek. Kami kembali berpacu dalam kenikmatan hingga merasakan klimaks di waktu yang bersamaan.
*****
Aku terbangun karena kebelet buang air kecil. Tubuh Opa masih terkapar di sebelahku. Aku lalu membuka penutup mataku tanpa memperhatikan lelaki di sampingku itu. Kondisi kamar masih dalam keadaan gelap membuatku tidak bisa melihat keadaan sekitarku denganku jelas.
Aku bergegas keluar dari kamar masih dengan dalam keadaan telanjang. Aku sengaja pergi ke toilet di luar kamar karena bermaksud mengambil pakaian dan gawaiku yang tadi aku tanggalkan di meja kerja Opa seusai kencing nanti.
Aku melangkah tanpa pikiran buruk apa pun, karena seingatku, aku sudah mengunci pintu apartemen sesuai perintah Opa. Namun jantungku hampir saja melompat keluar begitu melihat ada seseorang yang sedang tidur di sofa ruang tamu.
Dengan hati yang berdebar-debar, aku hanya menutup tubuhku dengan pakaian yang belum sempat aku kenakan lalu berjalan dengan sangat hati-hati mendekati sosok yang ada di sofa itu.
"Astaga!" Mataku terbelalak. "Ini kan Opa. Lalu siapa yang tidur denganku di dalam kamar? Siapa yang baru saja bercinta denganku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
