"Kenapa sih! Lu mau kerja di tempat Bapak?" tanya Gio sambil melahap nasi Padang yang masih memenuhi mulutnya. Dalam kondisi seperti ini. Anak ini benar-benar terlihat seperti bocah kemarin sore. Terang saja. Menurut pengakuannya, dia baru saja lulus SMA. Kesehariannya Cuma nongkrong sambil main game online bersama teman seusianya. Hari ini dia ke sini memang bukan atas perintah Om Sentot. Semua atas kemauannya sendiri yang ingin meminta uang kepada ibu tirinya, Bu Saodah. Hal itu dimanfaatkan Bu Saodah untuk menagih uang sewa dariku. Tapi aku rasa dia sedang ketiban sila. Justru karena niatnya menagih uang sewa kepadaku, akhirnya aku bisa tahu 'kelemahannya'.
"Kamu tahu kan? aku tidak punya uang buat bayar sewa kontrakan."
"Ya tapi enggak harus jual diri juga kan?" protes Gio dengan blak-blakan.
Diam-diam aku memperhatikan wajah Gio. Dia sebenarnya anak yang baik, ganteng dan ... bisa dikatakan lugu. Hanya mungkin lingkungannya lah yang tidak bersahabat dengannya. Sama sepertiku.
"Apa aku punya pilihan?" tanyaku tajam.
Gio menatapku sebentar lalu mengambil gelas berisi air putih yang sudah aku sediakan untuknya. Dia memang terlihat sangat lapar. Mungkin karena habis bertempur dengan ibu tirinya. Tapi bisa juga dia memang belum makan dari pagi.
"Tapi Mbak Cintya sudah diapa-apain sama Bapak belum?" tanyanya menatapku lebih serius. "Eh ... aku panggil Mbak enggak apa-apa kan? sebenarnya aku ingin sekali punya kakak yang perhatian kayak Mbak Cintya ini."
Aku kembali tersenyum menatap keluguan Gio ini. Ini berbeda dengan Gio yang tadi menerobos masuk ke pintu kamarku dan meminta 'jatah' dariku. Beruntung aku bisa meredakan nafsunya dengan berjanji mau tidur dengannya setelah makan. Aku beralasan belum makan dari pagi, dan itu memang benar. Dia setuju mau menungguku setelah beli makan.
Aku akhirnya keluar sebentar untuk membeli paket nasi padang 10.000an yang tak jauh dari rumahku. Cukup antre juga, mungkin hampir satu jam aku meninggalkannya. Dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup untuk menurunkan libidonya.
Dan benar saja. Aku menemukan Gio sedang lelap tertidur sambil mendengkur di ranjang kamarku. Sebenarnya tak tega mau membangunkannya. Tapi karena nasi yang aku bawa sudah dicampur, dari pada nanti keburu basi aku terpaksa membangunkannya. Dia menyuruhku makan terlebih dahulu sementara dirinya minta ijin untuk menumpang mandi di kamarku.
"Baru kali ini ada yang membelikan makan untukku." Gio duduk di kursi meja belajarku dengan rambut yang masih basah. Sementara aku hanya mengambil jarak dengan duduk di atas ranjangku sambil memperhatikannya makan.
"Ya enggak apa-apa. Kalau kau mau panggil aku, Mbak! Tapi jangan minta jatah gituan ya?"
"Hah? Kenapa?" Gio menoleh ke arahku setengah mulutnya terbuka.
"Ya enggak boleh, lah! masa adik minta dikelonin sama kakaknya. Durhaka, tau!"
Gio tersenyum lucu. "Iya, tadi kan saya khilaf. Eh ... tapi jangan bilang-bilang sama Bapak ya! Kalau aku begitu-gituan sama Ibu!"
"Eh masih punya rasa takut juga, lu?" cibirku.
"Takut sih enggak, cuma ya ... takut enggak dikasih duit juga sih."
Lelaki itu kembali tertawa kecil sambil melipat kertas bekas bungkus nasi padang yang sudah habis dia makan. Lalu melemparnya ke tempat sampah yang ada di sudut kamarku. Namun lemparannya meleset dan kertas itu jatuh berserakan di lantai kamarku.
"Gio! Kau mengotori kamarku saja!" ucapku sambil berdiri dan mengambil kertas bekas bungkus nasi itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
"Maaf, Mbak!" Gio berkata dengan senyum manisnya. Tapi aku melihat sebuah penyesalan di matanya. "Biar nanti aku yang beresin."
"Nanti kapan? Sudah enggak apa-apa. Lagian ini enggak berantakan," ucapku dengan penuh kesabaran. Mungkin hal itu yang sedikit membuatnya bersikap lebih sopan terhadapku.
Beberapa saat kami masih terdiam ketika aku kembali ke tempat tidur dan duduk di tepi sambil bersender di dinding menghadap ke arahnya.
"Mbak Cintya belum jawab pertanyaanku," ucap Gio tiba-tiba.
"Pertanyaan yang mana?" Aku benar-benar sudah lupa pertanyaan yang mana.
"Itu ... Mbak Cintya sudah digitu-gituin belum sama Bapak?"
Aku nyaris tertawa terbahak-bahak melihat mimik lucu Gio yang memonyongkan bibirnya sambil kedua tangannya menirukan gerakan orang yang berciuman. Dalam hal adegan ranjang, dia terlihat begitu profesional. Tapi untuk menyebut kata bercinta saja dia masih malu-malu.
"Ya ... belum," jawabku setelah tawaku mulai mereda. "Aku baru semalam ke klub bapakmu. Dan rencananya baru nanti malam Om Sentot mencarikan pelanggan untukku."
"Hah? Mbak Cintya masih perawan dong?" mata Gio terbelalak seakan tak percaya apa yang baru saja aku katakan. Ya ... aku memang tak boleh bilang pada siapa pun kalau aku sudah melepas keperawananku kepada Indra. Biarlah ini menjadi rahasiaku demi mendapatkan uang 20 juta untuk membayar kuliahku.
"Ya belum, lah! Bapakmu Cuma–"
Aku tak melanjutkan ucapanku karena keburu Gio tertawa terbahak-bahak.
"Aku sudah menduga sebelumnya. Burung Bapak itu tak bisa berdiri lama."
"Hus!" Aku melotot ke arah anak itu.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Buktinya, Bu Saodah saja sampai minta jatah dariku sampai ketagihan. Bahkan, isunya aku juga bukan anak kandung Bapak. Ibuku hamil dari pria lain."
"Apa?" Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Gio dengan gamblang membuka rahasia keluarganya di depanku yang notabene orang yang baru saja dikenalnya. Artinya, ada maslah dalam keluarganya.
"Dih ... enggak percaya! Mbak Cintya perhatikan baik-baik deh. Apakah ada mirip-miripnya antara wajahku dan wajah bapak. Enggak ada kan?"
Aku memperhatikan wajah Gio dengan saksama, memang tak ada sedikit pun kemiripan antara wajahnya dengan wajah Om Sentot. Namun, aku justru melihat wajah Gio ada sedikit kemiripan dengan wajah Indra.
"Ya ... bisa saja gen ibumu lebih mendominasi. Jadi kau tak mirip dengan ayahmu, tapi lebih ke ibumu."
Gio kembali tertawa. "Mbak Cintya belum pernah melihat ibuku, kan? Ibuku itu orangnya putih bersih, tapi lihat kulitku? Item kayak pantat panci."
E buset. Ini anak kalau ngomong enggak pernah disaring. Tapi justru itu yang membuatku merasa asyik saja mengobrol dengannya. Dan memang benar sih. Kulit Gio memang tidak putih. Namun kulit hitamnya justru yang membuatnya terlihat manis. Tapi kalau memang benar yang dikatakannya kalau ibunya itu berkulit putih. Bisa jadi yang dikatakannya itu benar. Bahwa Om Sentot bukan bapak biologisnya.
"Kok kamu bisa berpikiran seperti itu."
"Ya bukannya tanpa alasan, Mbak! Aku mau cerita tapi Mbak Cintya jangan bilang sama siapa-siapa ya? Apalagi sama Bapak!"
Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
"Jadi ... aku pernah memergoki ibuku berdua dengan seorang lelaki di dalam kamarnya. Dan itu bukan bapak. Mereka main kuda-kudaan, Mbak!"
"Hah bagaimana kau bisa tahu?"
"Ya tahu lah! Aku kan sering nonton film begituan. Jadi ceritanya siang hari. Ya kayak tadi siang itu. tengah hari bolong kan mungkin bapak ada di rumah. Dia pasti masih bekerja di kantor. Sedang seisi rumah juga gak ada selain ibu. Aku saja seharusnya sekolah. Cuma pas hari itu aku bolos dan diam-diam menyusup ke kamarku. Maksudnya mau masuk dari jendela."
"Nah ... pas aku diam-diam jalan melewati kamar ibuku. Aku mendengar suara ... ck ... ck ... ck ...." Gio menggunakan mulutnya untuk menirukan suara orang sedang bersanggama. "Mbak Cintya pasti tahulah suara apaan itu."
Aku benar-benar dibikin tertawa terpingkal-pingkal oleh cerita Gio yang dibarengi menirukan suara orang bersanggama itu. Tapi beberapa saat kemudian aku berpikir. Kehidupan Gio memang terbilang rumit. Mungkin masalah yang aku hadapi saat ini tak serumit masalah yang dihadapinya.
"Jadi Mbak Cintya masih perawan?" tanya Gio kembali menanyakan pertanyaan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
