Untuk beberapa saat kami terdiam. Tante Lauren seperti tak ingin buru-buru berdiri. Bahkan dia sengaja menggeser bokongnya untuk memberikan gesekan dan sensasi kenikmatan pada burungku.
"Ma-maaf, Tante! Tubuh Tante berat banget," keluhku. Refleks kedua tanganku menembel di kedua bokongnya menahan agar tekanan tubuhnya tidak menggencet kepala burungku.
"Eh ... Sakit ya, Ndra? Maaf! Kepala tante sedikit pusing." ucapnya seraya mengangkat sedikit pantatnya. Tanganku segera menyingkir dari daerah itu, namun bukannya langsung berdiri, Tante Lauren justru mengangkat dan menggulung dasternya hingga ke atas perut, lalu kembali duduk di atas pangkuanku.
"Aghh ...." Aku kembali mengerang. Area sekitar daerah sensitifnya yang sudah tak tertutup kain, menempel tepat di kepala burungku. Meski aku masih memakai celana utuh. Namun kehangatan daerah itu membuat aliran darahku mendidih.
"Kepala Tante pusing, Ndra! Bisa tolong papah Tante?" ucap Tante Lauren pelan sambil meraih kedua tanganku. Sekarang justru tangan kanannya menuntun tangan kananku, menyusup ke balik dasternya dan meletakkan di atas payu daranya yang tidak memakai BH. Sementara tangan kirinya ... Ah, aku yakin kalian bisa menebak, ke mana tangan kiriku dituntun oleh Tante Lauren.
Ya ... Dia membawa tanganku masuk menjelajahi rerumputan yang rimbun dan lembap yang memenuhi sekitar mulut gua.
"Jangan, Tante! Kalau ada yang lihat bagaimana?" ucapku seraya berusaha menarik tanganku. Tapi kedua tangan Tante Lauren semakin erat mencengkeram dan menahan di dua daerah paling sensitifnya. Bahkan kini tubuhnya sengaja menyandar dan mengimpit tubuhku di antara tubuhnya dan sandaran sofa.
"Tidak ada yang akan melihat kita. Mas Sentot pasti sudah mendengkur di dalam kamar," ucapnya sambil kedua tangannya yang masih menguasaiku bergerak-gerak agar memberi sentuhan padanya.
"Tapi, Tante ...." ucapku tertahan. Aku masih lelaki normal. Sealim-alimnya kucing, kalau disodorin ikan, pasti akan dimakan juga. Dan Tante Lauren bukan hanya sekedar ikan, dia adalah daging yang lezat.
Tangan kananku mulai meremas payu daranya, hanya sekali menekannya lalu menahannya. Membiarkan aliran darahnya berkumpul di sekitar daerah itu. Setelah beberapa saat, aku kembali melepasnya. Aku yakin, dia pasti merasakan sensasi aliran darah yang begitu deras di sekitar payu daranya. Seperti aliran sungai yang tadinya biasa lalu ditutup dengan tiba-tiba. Setelah airnya penuh, bendungan itu dibuka, maka arus aliran itu akan mengalir deras dari aliran sebelumnya.
Tante Lauren terdengar menghela napas panjang. Dia pasti ingin aku melakukan lagi. Tanpa menunggu bimbingan tangannya, aku pun kembali meremas payu daranya. Kali ini aku tidak menahannya. Aku terus menekan-nekan buah dadanya dengan lembut, persis tukang bakso yang sedang membuat adonan.
"Uh ...." Tante Lauren menggeliat. Dia sepertinya sudah merasa nyaman dengan sentuhan tanganku di area gunung kembarnya. Sekarang gerakannya justru berfokus pada tangan kiriku. Dia menarik jari telunjukku dan mengarahkan ke lubang kemaluannya.
"Punya Tante sudah basah, Ndra. Apa kau tidak kasihan membiarkannya menangis sendirian?"
Aku tidak tahu maksud ucapannya. Apa hubungannya coba? Namun ketika jari telunjukku sudah menempel pada daerah lentur yang becek tapi hangat, aku sedikit mengerti. Terlebih, tepat ketika jari telunjukku menyentuh untuk yang pertama kali, tubuh Tante Lauren bergetar dengan hebat. Bahkan aku bisa merasakan, mulut guanya bergerak-gerak seperti ingin menggigit jari telunjukku.
"Apakah Om Sentot tidak pernah menyentuhmu, Tante?" Aku memberanikan diri bertanya padanya, meski apa pun jawabannya, itu sama sekali tak penting bagiku.
"Kau sudah lihat sendiri tadi, kan? Jangankan di sentuh. Burungnya itu terlalu lemah untuk melakukan tugasnya. Pernah sekali aku memaksa untuk memasukkannya. Tapi baru saja menempel, burungnya langsung teler."
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
Fiksi UmumWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
