Gairah Liar Om Sentot

38.1K 107 0
                                        

Tiba-tiba Om Sentot menarik tanganku dan meletakkan di selangkangannya. Aku merasakan ada sesuatu yang besar dan hangat berdenyut-denyut di balik celananya.

Seculun-culunnya wanita yang sudah kuliah semester lima, aku pernah belajar anatomi manusia sejak SMP kelas satu. Aku tahu alat reproduksi laki-laki, aku tahu ereksi dan aku juga tahu bagaimana cara manusia berkembang biak. Namun bukan hal itu yang membuat aku merasa bergidik dan mengeluarkan keringat dingin.

Aku pernah merasakan hal yang sama ketika Doni, cowok pertamaku pencium pipiku. Otot-otot syarafku seperti mengejang dengan seluruh tubuh yang bergetar saat tangannya menerobos nakal meremas payu daraku yang sedang ranum-ranumnya. Takut? Tentu saja aku takut. Ini kali pertama aku merasakannya. Ada dorongan ingin menolak, namun kenikmatan saat bibir Doni menyentuh kulit dadaku yang sudah telanjang membuatku hanya diam.

Untung saja Doni bukan tipe lelaki yang begitu brengsek, atau mungkin karena saat itu kita masih sama-sama remaja, masih duduk di kelas dua SMA. Masih takut dosa dan masih meminta uang dan segala kebutuhan dari orang tua. Dia kembali mengancingkan baju seragamku setelah meninggalkan gigitan kecil di payudaraku yang membekas berwarna merah dan tak hilang selama hampir satu minggu.

Dan sekarang, aku tak mau apa yang pernah aku lakukan sama Doni terulang lagi. Dipaksa memegang kemaluan lelaki asing yang belum lama kita kenal, itu sangat menjijikkan. Ingin rasanya aku menarik tanganku dan menampar Om Sentot. Namun, sekali lagi ini masalah kebutuhan. Bukan hanya perut, tapi masa depanku yang bisa saja diusir dari rumah kontrakan milik istrinya, nasib kuliahku yang bisa saja tak bisa melanjutkan karena terbentur keuangan keluargaku yang sedang ambruk.

Aku menahan segala rasa muak dengan tetap membiarkan tanganku berada di antara pangkal pahanya. Dari bibir Om Sentot, seulas senyum nakal dan wajah penuh birahi tergambar dari binar kedua matanya.

“Apakah kau pernah melakukan begituan?” tanya Om Sentot sambil beringsut mendekatkan tubuhnya lebih merapat ke arahku.

“Begituan bagaimana maksud Om?” tanyaku pura-pura tak tahu maksud arah ucapannya. Aku menahan tubuhku agar tak menggigil karena ketakutan.

“Ya ... masa kamu enggak tahu sih? Adegan ranjang.” Om Sentot semakin berani melingkarkan tangan kirinya ke atas bahuku, sementara tangan kanannya masih menahan tanganku agar tetap berada di selangkangannya.

“Belum, Om,” jawabku jujur.

“Hah? Serius lu?” Om Sentot terdengar kaget dengan pengakuanku. Tapi hal itu tidak terjadi lama. Karena lelaki sekaliber Om Sentot, dia pasti bisa membedakan mana wanita yang sudah berpengalaman, wanita yang pura-pura polos dan wanita yang benar-benar polos sepertiku. Dari caraku yang kaku, sekuat apa pun aku berusaha menyembunyikan ketakutanku, aku yakin Om Sentot bisa merasakan itu. Apalagi tanganku berkeringat dan terasa sangat dingin.

“Kau bisa mendapatkan duit banyak dengan keperawananmu, Cintya! Jangankan untuk membayar kontrakan satu bulan, kau bisa membayar biaya kuliahmu selama satu semester. Bahkan jika kau terus bekerja sama Om, kau tak akan pernah kekurangan uang.”

“Tapi, Om! Aku ke sini mau cari kerja yang halal, jadi Cleaning Service atau cuci piring juga enggak apa-apa, deh! Yang penting saya bisa membayar kontrakan dulu.” Aku berusaha keras menolak bujukan Om Sentot.

“Cleaning Service? Memang gaji Cleaning Service berapa? Jangankan buat bayar kontrakan, buat makan saja enggak bakalan cukup, Cintya.”

“Tapi, Om–“

Aku ingin membantah ucapan Om Sentot, tapi tangan kirinya yang berada di pundakku menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Wajahku sampai membentur dadanya. Degupan kencang tak beraturan bisa aku rasakan dari dalam dadanya. Sementara tangan yang mendorongku tadi mulai membelai-belai punggungku.

“Awalnya memang sedikit Cintya, tapi lama-lama kau akan ketagihan. Apalagi kau akan mendapatkan uang yang banyak.” Om Sentot berhenti berkata untuk beberapa saat. Bibirnya mulai mengendus-endus rambut di kepalaku. Aku merasakan kumis tebalnya seperti menyisir di ubun-ubunku.

“Atau begini saja, aku akan membayarmu 10 juta sebagai uang muka. Sisanya 10 juta lagi jika kau sudah melakukannya, bagaimana?”

“Bangsat!” rutukku dalam hati. Dia menawar keperawananku seenak jidat seolah-olah keperawanan adalah sesuatu yang dengan mudah bisa diperjual belikan. Tapi katakan padaku, apakah aku punya pilihan? Bayangkan kau seorang perantauan, jauh dari saudara, keluarga apalagi orang tua. Tak punya uang, hampir tak punya tempat tinggal dan sebentar lagi bakal dikeluarkan dari kampus karena belum membayar uang kuliah.

Beban terbesar seseorang yang sedang mencari ilmu di perantauan adalah kegagalan. Dia tak mau pulang dengan tangan kosong dan harus menanggung cibiran dari orang-orang karena tidak menjadi apa-apa setelah sekian tahun mencari ilmu jauh dari kampung halaman. Dan perasaan itulah yang saat ini sedang menekan ketakutanku untuk menerima tawaran itu.

“Tapi aku belum siap, Om. Aku takut!” Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibirku. Tubuhku mulai merasa panas dingin ketika tangan Om Sentot mulai meraba bawah pinggulku. Jemarinya bergerilya menarik dan menggulung rok panjang yang aku kenakan. Sementara tangan yang lain terus merapatkan tanganku akar lebih menempel pada benda besar yang sudah benar-benar keras.

“Bagaimana kalau aku memberikan sedikit pemanasan kepadamu?”

Aku belum sempat menjawab pertanyaan Om Sentot, namun kepala lelaki itu sudah mendorong kepalaku untuk memberikan jarak terhadap dadanya. Aku sedikit kaget dengan dorongan kepalanya membuat tubuhku condong ke belakang hingga membentur sandaran sofa. Pada saat itu kepala Om Sentot langsung menunduk dan mendarat di leherku.

Aku tersentak dan segera menunduk, menjepit kepalanya di antara dagu dan dadaku. Namun, kecupan nakal bibirnya seperti sebuah pijatan kecil yang membuatku harus mendesah menahan rasa geli dan sedikit kenikmatan yang berangsur-angsur menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Aku kembali mengangkat kepalaku dan membiarkan bibirnya bermain-main di leherku.

“A-apakah k-kau akan memberiku uang j-jika aku mau melakukannya, Om?” tanyaku terbata-bata. Napasku mulai memburu menahan sensasi luar biasa yang baru kali ini aku rasakan. Sama seperti ketika Doni memainkan lidahnya di ujung puncak payu daraku saat itu. Namun perbedaan usia dan hormon, menyebabkan gerakan-gerakan Om Sentot lebih mengena daripada apa yang pernah dilakukan Doni. Mungkin juga karena dari faktor pengalaman. Yang jelas yang aku rasakan saat ini lebih menegangkan dari film-film horor mana pun yang pernah aku tonton.

“Jangan khawatir, aku pasti menepati janjiku,” ucap Om Sentot mengangkat sebentar kepalanya, lalu kembali mendaratkan bibirnya. Kali ini daerah yang ia serang adalah daerah leher di bawah telingaku. Sesekali lidahnya menjulur, memainkan daun telingaku yang tanpa memakai anting. Tangan kirinya masih berada di belakang punggungku, terjepit antara sandaran sofa dan tubuhku. Sementara tangan yang lain, bergerak-gerak mencoba membuka ritsleting dan menuntun tanganku agar memegang benda menonjol yang masih terhalang celana dalamnya.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang