"Cukup, Rindi!" Suara lelaki yang terdengar tidak asing di telingaku membentak wanita yang menyerangku.
"Hey ... Siapa elu? Berani sama gue?" Balas wanita yang bernama Rindi itu.
Dengan kepala yang masih sakit dan pandangan sedikit mengabur, aku menatap punggung lelaki yang baru saja menahanku dari dorongan Rindi.
"Aku rasa satu kampus ini tidak ada yang tak mengenalmu, Rindi. Si Ratu dugem, doyan mabuk, lalu membuat onar dengan teriak-teriak naik ke atas meja di diskotek Winner."
"K-KAU!"
Rindi terlihat sangat geram mendengar apa yang baru saja Gio katakan. Aku sendiri sangat tidak yakin, bagaimana bocah ingusan itu bisa tiba-tiba datang dan berbicara seolah-olah tahu semuanya tentang Rindi. Bahkan dari cara berbicaranya, sangat berbeda dengan sebelumnya.
"Nimas! Singkirkan bocah idiot ini dari hadapanku!" perintah Rindi kepada wanita berbadan besar yang tadi sempat memukulku.
"Hei, Gendut!" bentak Gio. "Berani lu maju selangkah, gue hancurin rumah makan Padang milik bapakmu. Gue pastiin keluargamu miskin dan tak bisa lagi membiayai kuliahmu."
Perempuan yang dipanggil Nimas itu terlihat ragu. Bertemu seseorang yang langsung mengungkap usaha keluarga dan mengancam akan menghancurkannya seolah menjadi bertanda, lelaki itu bukan orang sembarang.
"Dan elu, Reisa!" tunjuk Gio pada perempuan satunya. "Jangan sampai gue nyuruh orang-orang gue buat hancurin toko kue milik ibumu yang sudah janda itu."
Aku menengok ke kanan dan ke kiri memeriksa apakah ada orang lain lagi yang datang bersama Gio. Dan memang benar, ada dua orang berkulit hitam tinggi besar, berdiri tak jauh dari tempat kami.
"Ti-tidak! Aku tidak punya urusan denganmu," jawab Reisa gugup. Dia sepertinya menyadari, lelaki di depanya bukanlah lelaki biasa karena bisa tahu toko kue yang menjadi usaha ibunya.
"Hei! Kalian mau saja dibodohi sama bualan bocah ini. Dia hanya mengada-ada, asal tebak." Rindi terlihat berang melihat nyali kedua temannya menciut. Namun Gio terlihat santai, ambil tersenyum dia melangkah maju menghampiri Rindi.
"Anggap saja gue asal tebak, tapi bagaimana kalau gue mengadu pada KPK kalau semua proyek yang dikerjakan bokap lu adalah hasil suap? Bagaimana kalau gue mengadu pada petugas pajak kalau bokap lu mengemplang pajak dan menyelundupkan barang-barang ilegal dari luar negeri?"
"Ah banyak bacot, lu!"
Rindi melayangkan tangannya ke arah Gio, namun dengan sigap Gio menangkap tangan itu dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Au ... sakit!" erang Rindi. Seolah tak mendengar erangan itu, Gio justru memutar tangan Rindi membuat wanita itu terpaksa harus menundukkan badannya setengah berlutut untuk mengurangi rasa sakit dari pelintiran tangan Gio.
"Dengar baik-baik, Jalang! Gue enggak peduli urusan elu sama Indra! Tapi kalau elu berani nyakitin Cintya lagi, tangan lu ini benar-benar akan gue patahin."
Selepas berkata itu, Gio mendorong Rindi hingga tubuhnya mendarat di atas bangku yang semula aku duduki dengan keras. Nimas dan Reisa bergegas menghampiri Rindi dan memeganginya. Namun wanita itu menepis kedua tangan yang memeganginya itu.
Baru saja Rindi berusaha berdiri, kaki menghalangi wanita itu dengan menjejakkan kakinya di atas bangku, sama persis yang dilakukan Rindi padaku.
"Kalau saran gue, elu enggak usah ngelakuin hal konyol seperti ini demi Indra, gue tahu lu mau deket-deket sama Indra karena hartanya, kan? jadi mending lu cepet-cepet cari cowok yang lebih tajir dan enggak usah gangguan Cintya. Karena sebentar lagi, semua harta Indra, akan menjadi milikku. Paham, lu?"
Rindi hanya menatap Gio dengan penuh kebencian. Ia lalu bergeser dan bergegas meninggalkan berjalan meninggalkan kami diikuti kedua temannya. Namun sebelum dia pergi, dia berkata lantang kepadaku.
"Urusan kita belum selesai, Cintya! Gue punya foto-foto pose telanjang elu dan akan gue sebarin. Biar seisi kampus ini tahu kalau elu tak lebih dari wanita murahan yang menjual tubuh untuk bisa kuliah di tempat ini. Camkan itu!"
Seketika wajahku memerah. Rasa sakit di kepalaku hilang berganti dengan rasa takut yang menyelimuti hatiku. Om Henry? Orang yang semalam mengaku sebagai fotografer dan mengambil pose telanjangku apakah suruhan Rindi? Jika benar, artinya Rindi tidak main-main dengan ucapannya. Biaya yang dia keluarkan tidaklah sedikit untuk bisa mendapatkan fotoku dan pura-pura booking aku.
"Kau tak perlu khawatir, selama aku ada di sini, tak akan ada yang bisa menyentuhmu," ucap Gio yang sudah berdiri di depanku. Dia lalu melambaikan tangan kepada dua orang lelaki yang sedari tadi hanya mengawasi kami dari tempat mereka berdiri. Kedua orang itu lalu pergi dan tak lama kemudian, kembali lagi dengan menaiki sebuah Alphard yang berhenti tak jauh dari kami.
"Kau harus segera ke dokter, pukulan wanita itu sudah mulai terlihat membiru di wajahmu," ucap Gio seraya menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobil itu.
*****
"Ini rumahmu, Gio?" tanyaku menatap takjub pada bangunan rumah berlantai dua dengan halaman yang luas. Saat aku memasuki ruangan tamu rumahnya, interior tertata apik dengan seisi perabot rumah dengan kualitas high class.
"Tentu saja rumahku, kita langsung ke ruang atas saja," ucap Gio sambil berjalan mendahuluiku, membawaku ke ruang tengah lantai dua yang sepertinya ia jadikan sebagai ruang keluarga.
"Duduklah, Cintya! Aku akan mengambilkan minum untukmu."
Sebenarnya ada sedikit yang mengganjal dalam benakku mendengar Gio hanya memanggil namaku. Sebenarnya itu bukan hal yang besar, tapi tetap saja aku menemukan perubahan yang sangat drastis dari sikapnya.
"Aku sudah bilang kau tak perlu open BO lagi, kenapa kau masih melakukannya?" Ucapan Gio seperti menghakimi saat menyodorkan minuman kaleng padaku. "Untung kata dokter tidak ada yang serius dari lukamu, coba kalau Rindi dan teman-temannya berbuat nekat dan mencederaimu? Bisa-bisa kau sudah masuk rumah sakit atau malah justru masuk ke liang lahad."
"Memangnya mereka bisa senekat itu?" tanyaku penasaran.
"Ini Jakarta, Cintya! Apa pun bisa terjadi. Apa kau tak pernah mendengar kasus seorang mahasiswa yang tega membunuh temannya cuma karena rebutan cowok?"
"Ya iya sih," jawabku sembari bergeser, memberi tempat kepada Gio untuk duduk di sebelahku.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa kau menerima open BO lagi?"
Aku menghela napas. "Aku tidak punya uang," jawabku singkat seraya memalingkan wajahku darinya.
"Kenapa kau tak bilang padaku dan memilih pindah kos?" cecar Gio.
Aku kembali menatap lelaki yang terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. "Aku tidak mau merepotkanmu. Lagi pula, urusan uang mana bisa kau membantuku?"
"Ha ha ha ha," Gio tertawa terbahak-bahak. "Kalau kemarin-kemarin aku memang tidak punya uang, tapi kalau sekarang? Aku sudah memiliki segalanya. Rumah ini, Crown dan Winner. Semua sudah menjadi milikku."
"Maksudmu?" Aku menatap serius ke arah lelaki yang ada di sampingku itu. Sama sekali tak ada nada candaan dari ucapannya.
"Kau tadi mendengar waktu aku bilang sama Rindi, kalau aku tahu semua tabiatnya di Winner?"
Aku menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaannya. Winner sendiri aku tidak tahu itu tempat apaan.
"Rindi itu ceweknya Indra, dia biasa menghabiskan waktu di Winner bar. Bukan bar sih sebenarnya, tapi tempat biliar. Namun di tempat itu menyediakan minuman ya ... sekelas bar sih. Dia begitu keras mempertahankan Indra dan takut kau merebutnya karena berharap bisa menjadi bos di Winner yang ia pikir akan menjadi milik Indra jika dia masih pacaran sama Indra dan menjadi istrinya. Tapi Rindi tidak pernah tahu, kalau Winner sekarang sudah menjadi milikku."
"Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanyaku penasaran.
Dengan senyum penuh kemenangan, Gio menjawab. "Aku mendatangi kediaman Papaku, Doni Wibawa. Aku meminta hakku sebagai anaknya dan kompensasi karena telah menelantarkanku bahkan sejak sebelum aku lahir. Kau tahu apa yang aku dapatkan?"
Aku kembali menggeleng.
"Uang tunai 5 miliar, diskotek Crown yang Om Sentot kelola, Winner Biliar dan rumah ini. Semua sudah berpindah tangan atas namaku. Giovano Wibawa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
