Aku tidak mengatakan apa pun tentang lelaki yang bersama mamanya Gio. Pun Gio tak menanyakan atau pun siapa lelaki yang bersama mamanya. Sepanjang perjalanan ke rumah kos, dia hanya terdiam. Ada kemarahan dan mungkin bercampur kesedihan yang ia redam di balik mata hitamnya.
"Aku langsung pulang saja ya, Mbak!" ucap Gio begitu motornya sampai di depan pagar rumah kosku.
"Enggak mau mampir dulu?" tanyaku tulus, aku bisa memahami perasaannya. "Lagi pula kau belum pamit sama Bu Saodah kan?"
Gio hanya menggeleng. Ada tatapan aneh yang sekilas aku tangkap dari kedua bola matanya. "Kalau Gio boleh kasih saran, mending Mbak Cintya enggak usah Open BO deh. Kasihan para istri yang suaminya tidur sama Mbak! Lagi pula melakukan seks bebas dan bergonta-ganti pasangan jenis memangnya enggak takut kena HIV?"
Aku tercengang mendengar ucapan bocah ABG itu, tapi mau bagaimana lagi, aku butuh uang dan itu tidak bisa ditawar kecuali ....
"Aku tahu Mbak Cintya perlu uang. Jika seandainya aku bisa memberi uang untuk biaya kuliah Mbak Cintya, apakah Mbak akan berhenti menjual diri?"
Aku meragukan ucapan Gio, tapi aku benar-benar melihat ketulusan dari ucapannya. "Kita lihat saja nanti," ucapku penuh kebimbangan. Tapi sejujurnya aku benar-benar dilema. Aku begitu bodoh menyerahkan keperawananku kepada orang yang baru aku kenal. Malahan sekarang lelaki itu bersama tante-tante. Dan itu adalah Mama Gio, istri pertama dari Om Sentot yang menjadi bosnya.
"Tapi Mbak mau kan?" tanya Gio ingin memastikan.
Aku mengangguk. "Tentu saja. Dan kau juga harus jadi anak baik, Gio! Sekarang pulanglah! Hati-hati di jalan dan jangan ngebut."
Gio tiba-tiba menarik tanganku dan mencium punggung telapak tanganku seperti anak yang sedang berpamitan kepada ibunya. Aku tak sempat memprotes tindakannya karena dia keburu pergi.
Aku menghela napas. Langit sudah benar-benar gelap, aku segera membuka pintu kamar rumah kosku. Namun saat membuka pintu rumah, Bu Saodah tiba keluar dari dalam dan mencegatku.
"Apa kau melihat Gio, Cintya?" tanya ibu-ibu yang memiliki ukuran bentuk tubuh yang super big itu. Pikiranku sudah membaca, pasti dia ingin menagih lagi uang sewa.
"Barusan dia pulang, Bu!" ucapku tak bisa membohonginya.
"Kok dia enggak pamit sama Ibu?"
"Ya ... Saya kurang tahu, Bu! Katanya dia buru-buru mau pulang."
"Lah ... Bagaimana itu anak? Katanya mau nginep, malah main ngabur aja."
Pikiranku jadi teringat kejadian siang tadi. Aku tidak membayangkan kalau Gio menginap di rumah Bu Saodah, mereka pasti melakukan adegan yang sangat hot semalaman.
"Oh ... Ya Cintya, uang sewa kamar kos kaku bagaimana?"
Benar dugaanku, intinya masalah ini kan. "Maaf , Bu! Semalam saya sudah diterima bekerja di kafe bapak! Katanya uang sewa kamar kos dia yang akan menanggung."
Wajah Bu Saodah terlihat datar dan biasa saja, sepertinya jawabanku sudah dia ketahui sebelumnya, mungkin Om Sentot sudah memberitahukannya.
"Ow ... Jadi kamu sudah bekerja di tempat bapak? Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa kalau gajian nanti traktir Ibu martabak ya!"
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Bu Saodah langsung membalikkan badannya untuk kembali ke dalam rumahnya yang hanya terpisah beberapa meter dari bangunan rumah kosku.
Sekilas aku melihat bokong besarnya yang bergerak-gerak saat berjalan. Kain dasternya yang tipis membentuk garis lipatan bokongnya. Aku bisa menebak, Bu Saodah tidak memakai celana dalam.
Aku melanjutkan langkahku menuju kamar. Baru saja aku meletakkan belanjaanku di atas kasur. Suara dering dari ponselku menggema memenuhi ruangan kamar tidurku. Susana kos masih sepi. Penghuni yang lain masih belum pada pulang.
"Halo!" Aku menjawab panggilan telepon itu setelah tahu, kalau yang menelepon adalah Om Sentot.
"Kamu sudah siap bekerja malam ini Cintya?" tanya Om Sentot tanpa basa-basi.
"Insya Allah saya siap!"
"Astaga naga, Cintya! Jangan bawa-bawa Tuhan dalam pekerjaan kita."
Aku hampir lupa, pekerjaan yang akan aku jalani adalah jalan sesat, kenapa aku masih bicara sok sebagai orang yang beragama.
"I-iya, Om! Maaf!"
"Oke enggak apa-apa. Om sudah dapat orang yang mau tidur denganmu, tapi dia maunya kau yang datang ke apartemennya. Bagaimana?
"Bayarannya bagaimana, Om?" Aku berjalan mendekati lemari bajuku dan menatap tubuhku sendiri dari balik cermin besar yang ada di lemari. Hatiku sebenarnya berdegup kencang. Aku harus tidur dan melayani seseorang yang tidak aku kenal. Uji coba yang aku lakukan dengan Indra semalam, masih belum sepenuhnya membuatku percaya diri.
"Ya sesuai kesepakatan kemarin. Aku akan mentransfer 10 juta, sisanya akan kau dapatkan setelah kau melakukan pekerjaan itu. Orangnya langsung yang akan membayarmu, jadi kau jangan lupa untuk menagihnya."
"Eh ... Jadi aku melayani semalaman Om?"
"Ya iyalah! Masa sekali crot? Ini namanya long time. Kalau sekali crot namanya short time, dan 20 juta itu tarif yang sangat mahal kalau hanya sekali crot."
"Iya, Om. Tapi ngomong-ngomong saya bisa dapat lebih enggak Om? Apa sesuai perjanjian?"
"Ya itu tergantung pelayananmu dan kepuasan pelanggan. Kalau mereka suka, kau bisa mendapat uang tambahan, apa lagi kalau mereka sampai ketagihan, kau bisa menjadi langganannya dan enggak menuntut kemungkinan jadi istri simpanan. Kalau sudah menjadi istri simpanan, apa yang kau minta pasti akan mereka turuti, hand phone, mobil bahkan rumah."
Aku tergiur dengan kata-kata Om Sentot. Tanpa sadar, tangan kananku menarik payu daraku sendiri dan mengangkatnya ke atas agar terlihat lebih besar. Aku sedikit kecewa karena ternyata buah dadaku tak sebesar punya bintang film khusus adegan dewasa. Aku sedikit memutar tubuhku menyamping dan memperhatikan bokongku. Sama. Tidak terlalu besar. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana memberikan kepuasan pada pelangganku agar mendapatkan uang lebih.
"Kamu kirim nomor rekeningmu, ya! Aku akan mentransfer 5 juta sebagai tanda jadi. Sisanya sepuluh juta kau pinta setelah selesai."
"Lho kok lima juta, Om? Katanya sepuluh juta?"
"Jangan khawatir, aku akan memberikannya padamu nanti, tapi kita harus bertemu langsung, aku juga mau mendapatkan bagianku. Kamu tahu kan maksudku?"
Aku menyeringai mendengar ucapan Om Sentot. Buset ... Masih minta jatah saja dia. Tapi enggak apa-apa, aku justru bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan uang lebih.
"Jadi sisanya 10 juta, ya?" tanyaku dengan nada menggoda. "Nanti aku servis deh burung Om Sentot. Aku jamin bikin Om merem melek."
"Serius? Oke, Deal."
Aku mengakhiri panggilan telepon Om Sentot. Tak lama berselang, dia mengirim bukti transfer sebesar 5 juta beserta alamat apartemen yang harus aku datangi.
"Apartemen Mediterania Tower 3 Nomor 1022." Aku mengeja alamat yang diberikan Om Sentot. Tapi dia tak memberikan nama orang yang memesanku.
Aku baru saja akan meneleponnya kembali untuk menanyakan hal itu. Tapi sebuah pesan lain dari nomor yang tak aku kenal masuk ke dalam aplikasi whats app-ku.
"Temui aku jam 10 malam nanti. Alamatnya sudah aku kirim lewat Sentot, kau bisa langsung meneleponku jika sudah sampai. Ingat! Jangan datang terlambat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
Ficción GeneralWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
