Aku menatap Gio nyaris tak berkedip. Bocah ingusan yang kemarin terlihat labil, ceroboh dan kekanak-kanakan. Kini berubah menjadi sosok yang hampir tak aku kenal. Angkuh dan arogan.
"Jadi rumah ini bukan rumah yang di tempati Mamamu dan Om Sentot?" tanyaku.
"Tentu saja bukan, rumah yang di tempati mamaku, adalah hak Mama, sedangkan rumah ini, adalah rumah yang memang seharusnya menjadi milikku."
"Bagaimana ceritanya kau melakukan ini semua, Gio?"
Gio membuka minuman kaleng yang tadi ia bawa, lalu menenggaknya. "Minumlah minumanmu, nanti akan aku ceritakan."
Aku mengikuti apa yang dia katakan, meski aku tahu ada tertera tulisan 'Minuman beralkohol' pada kaleng yang ia berikan, namun aku tetap meninumnya.
"Jadi, seperti ini ceritanya." Gio mulai bercerita.
***
Aku memikirkan semalaman tentang statusku sebagai anak yang tak diharapkan oleh Doni Wibawa. Dari pada memusuhinya, kenapa aku tak mencoba mendekatinya dan meminta hakku sebagai seorang anak?
Aku lalu meminta mamaku untuk memberikan alamat Papaku. Semula ia menolaknya. Namun Om Sentot memberi pengertian kepada Mama, bahwa aku berhak bertemu dengan Papa kandungku, akhirnya Mama pun memberikannya.
Tidak mudah untuk bisa memasuki rumah itu. Aku harus membuat alasan yang tepat agar petugas keamanan yang berjaga selama 24 jam di pagar rumahnya mau membukakan pintu rumahnya untukku. Kau tahu apa yang terjadi setelah aku berhasil masuk ke rumah itu Cintya?
Seorang wanita yang terlihat lebih tua dari mamaku, duduk di atas kursi roda dengan tatapannya yang kosong. Dari wajahnya yang pucat dan bibirnya yang terlihat mengering, aku yakin wanita itu sedang sakit. Sementara papaku, yang sebelumnya berdiri di belakangnya begitu melihatku langsung berjalan menghampiriku seakan tak membiarkanku mendekati wanita itu, wanita yang telah membuat mamaku harus menanggung penderitaan sepanjang hidupnya.
"Siapa kamu? Ada perlu apa datang ke sini?"
Itu pertanyaan Papaku yang terdengar lucu. Aku tersenyum mencibir. "Apakah kau tak melihat ada dirimu di wajahku?"
Lelaki kurus tinggi dengan rambut klimis disisir ke belakang dan beberapa uban yang sudah mulai memenuhi kepala serta kumis tipis itu memang kelihatan nyentrik. Meski perutnya tidak terlalu buncit, jelas sekali bahwa hidupnya serba kecukupan, selain penyakit yang di derita istri pertamanya itu.
"Apa maksudmu? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumah ini?"
Indra Wibawa masih belum mengerti ucapanku. Aku memang ingin memberinya sedikit teka-teki untuk membuat shock terapi.
"Apakah kau masih ingat dengan wanita yang bernama Lauren?"
"Lauren?"
Papaku terlihat sedikit terkejut. Aku melihat kedua matanya mulai memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Giovano? Kaukah anakku, Giovano?"
"Anak? Kau bilang aku anakmu? Lalu ke mana kau selama ini, hah?"
Aku berteriak, membentak lelaki yang memang ayah kandungku. Menurutmu ini lucu enggak, Cintya? dua puluh tahun lebih aku dibesarkan dan hanya mengenal lelaki yang bernama Sentot itu sebagai ayahku, tapi ternyata lelaki yang berdiri di depanku saat itu, adalah ayah kandungku, ayah biologisku.
Saat aku masih kecil memang sempat berpikir, apakah Om Sentot itu ayah kandungku? Karena selama ini dia begitu asing denganku. Bahkan dia sering tak segan-segan memukulku jika aku berbuat salah atau tak menuruti perintahnya. Dan hari ini ... aku benar-benar melihat ayah kandungku berdiri di depanku.
"Anakku? Di mana anakku?"
Wanita yang duduk di atas kursi roda itu tiba-tiba berteriak histeris ke arah kami, sepertinya dia mendengar ucapanku. Kedua tangannya langsung bergerak memutar kursi rodanya dan bergerak mendekati kami. Wajahnya yang semula tak ada semangat hidup, kini seperti memiliki kekuatan yang membuatnya mampu berdiri dan meraih wajahku dengan kedua tangannya.
Dia mengusap-usap kedua pipiku. "Oh anakku, kamu ke mana saja, Nak? Mama sudah lama menunggumu."
Itu sangat dramatis, Cintya! kalau saja aku tak punya tujuan untuk meminta hakku, sudah kutendang wanita sialan itu.
"AKU BUKAN ANAKMU!" bentakku seraya mendorong wanita itu hingga kembali jatuh terduduk di atas kursi rodanya sebelum pingsan.
"JAGA SIKAPMU, GIO!" bentak Papaku. Dia langsung menghampiri wanita itu sambil berteriak memanggil suster. "SUSTER! SUSTER! CEPAT KE SINI SUSTER!"
Tak lama dua orang wanita berseragam putih datang menghampiri kami.
"Istriku pingsan, cepat periksa dia, Suster!"
Kedua suster itu hanya mengangguk dan langsung mendorong kereta wanita itu masuk ke dalam rumah. Sementara Papaku menghampiriku dan langsung menamparku.
"Apa seperti itu Lauren mendidikmu?"
Aku memejamkan mata menahan geram, lalu membukanya lagi dan membalas tatapannya yang melotot ke arahku. "Jangan berkata yang tidak baik tentang mamaku, kamu sendiri bagaimana? Mana tanggung jawabmu sebagai seorang ayah?"
"Aku sudah mencukupi semua kebutuhanmu dan mamamu, mau apa lagi?"
"KAMU KIRA ITU CUKUP, DONI?" Aku membentaknya langsung memanggil namanya. "Yang kau berikan kepada mamaku, hanya biaya perawatanku. Bagaimana dengan masa depanku? Bagaimana dengan kasih sayang yang tak pernah kau berikan padaku? Kau pikir semua hartamu bisa mengganti semua itu?"
Papaku membuang muka. Aku tahu dia pasti berpikir keras.
"Lalu apa maumu, sekarang?" tanyanya dengan suara pelan.
"Aku ingin kau mengakuiku sebagai putramu di depan istrimu dan membuat pernyataan di media masa."
"Gio, itu tidak mungkin," jawabnya cepat. "Aku bisa memberikan apa pun, tapi jangan minta untuk yang satu itu."
"Kenapa?"
Papa langsung terdiam. Pada saat bersamaan seorang suster keluar dari dalam rumah dan memanggilnya.
"Maaf, Pak! Ibu sudah siuman, beliau ingin bicara sama bapak."
Lelaki itu menoleh ke arah suster itu sebentar lalu kembali berbicara padaku. "Kau tunggu di sini, aku akan kembali sebentar lagi." Dia langsung meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah. Namun tak berapa lama dia kembali keluar.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Kau harus memanggil istriku, Diana, dengan panggilan 'Mama'."
Aku mengerutkan dahiku mencoba memahami maksud ucapannya. Seperti mengerti kebingunganku, papa kembali berkata.
"Jika kau bersedia, kau bisa tinggal di rumah ini dan menjadi bagian dari rumah ini, asalkan kau mau memanggil Diana dengan sebutan Mama dan memperlakukannya seperti mamamu sendiri."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
Papa menghela napas, ia lalu menarikku untuk duduk di kursi yang ada di teras.
"Dengar baik-baik, Gio! Papa tak pernah bermaksud untuk membuangmu atau mencampakkan mamamu. Saat mamamu mengatakan sedang mengandungmu, Diana juga sedang hamil. Aku sudah berniat untuk menikahi mamamu, tapi kondisi Diana sedang tak stabil. Entah karena pengaruh kehamilannya atau bagaimana, yang jelas saat itu dokter mengatakan, kondisinya bisa membahayakan janinnya. Makanya aku menyuruh mamamu untuk menjauhi kehidupan kami. Aku tahu aku sangat egois. Karena itu aku menyuruh Sentot untuk menjaga mamamu dan memastikan mamamu dan kamu bisa hidup dengan baik tanpa kekurangan apa pun."
"Hari persalinan pun tiba, anak yang dikandung Diana meninggal beberapa jam setelah dilahirkan. Tapi dia masih bersikeras bahwa anak kami masih hidup. Sejak saat itu. Diana jatuh sakit karena selalu memikirkan bayi kami yang telah tiada. Dia terus berdiri di depan rumah ini menunggu putranya. Dan sekarang, saat dia melihatmu, dia merasa kamu adalah anaknya. Jadi, aku ingin kau berpura-pura menjadi anaknya. Kau menolongku, dan aku mengabulkan keinginanmu. Bagaimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
