Bab 38 Mobil Bergoyang

188 1 0
                                        

"Lakukanlah sesukamu, Ndra! Milikilah tubuhku! Tapi jangan pernah pergi dari sisiku," bisikku.

Namun, Indra justru melepas pagutan bibirnya dari payudaraku dan menarik kepala sambil menatapku. "Tapi aku tak memiliki sesuatu untuk bisa kau banggakan, Cintya! Aku ...."

Cup!

Aku buru-buru menghentikan ucapan lelaki yang terlihat begitu tak percaya diri. Sangat jauh berbeda dengan Indra yang dulu pertama aku kenal. "Dasar, Bodoh! Aku menyerahkan keperawananku kepada seorang sekuriti miskin. Bukan Indra Wibawa, putra seorang pengusaha. Apakah hal itu tak cukup bagimu untuk mewakili perasaanku?"

"Tapi sekarang situasinya berbeda, Cintya. Semuanya tak akan mudah seperti dulu!" Indra masih bersikeras menghindariku, meski aku tahu, keperkasaannya sudah menegang, mengganjal di antara pahaku.

"Bukankah dari dulu hidup ini tidak pernah mudah? Semua bisa saja berubah, Ndra! Tapi tidak dengan perasaanku. Aku ... Aku mencintaimu. Dan aku tidak bisa membohongi perasaanku."

Indra masih menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti. Aku bisa memaklumi, kondisinya saat ini memang sulit untuk mempercayai siapa pun. Termasuk aku yang belakangan ini menghindarinya. Bahkan terakhir aku sempat menamparnya.

"Aku akan menjadi orang pertama yang selalu di sampingmu untuk mendukungmu, Ndra!"

Kedua tanganku kembali aku lingkarkan di lehernya. Indra masih terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kedua tangannya menjamah buah dadaku dan meremasnya dengan perlahan. Ia kembali menundukkan wajah dan mulai menikmati daging kembarku yang sudah mengeras. Lidahnya yang basah namun hangat, menempel di ujung putingku secara begantian.

"Aaaah ...." Aku mendesah panjang. Ruhku seperti tertarik, masuk ke dalam mulutnya yang melahap buah dadaku. Menyisakan denyutan-denyutan kecil dari dalam rahimku.

Aku mengangkat kedua kakiku ke atas jok untuk mengambil posisi berjongkok. Sepertinya Indra sudah bisa menangkap sinyal itu, kedua tangannya turun melepas celanaku. Tentu saja itu tak akan berhasil. Posisi kami yang berada di dalam mobil, tak bisa membuatnya leluasa untuk melepasnya.

Tangan Indra kembali bergerak, kali ini ia menarik pengatur sandaran kursi membuatnya ia sekarang berbaring. Aku memang wanita jalang. Sekarang aku justru merangkak di atasnya untuk memudahkannya membuka semua celanaku.

Sekarang aku benar-benar telanjang. Namun, Indra tak kembali menyerang payudaraku. Kedua tangannya meraih bokongku, lalu menariknya ke atas, mendekatkan ke wajahnya. Aku sekarang mengangkangi kepalanya.

Inilah bagian ternikmat seorang wanita. Berpegang pada senderan kursi paling belakang, aku berjongkok di atas kepala Indra dan membiarkan lidahnya menari-nari, menggesek selangkanganku yang terbuka. Kecupan-kecupan lembut, sesekali memenuhi bibir rahimku yang hangat dan lembab.

Lututku mulai bergetar menahan tarikan-tarikan kenikmatan. Payudaraku juga ingin disentuh, bibir dan mulutku juga menginginkan kehangatan.

Aku segera berbalik badan lalu tiarap di atas tubuh Indra. Kedua tanganku menarik celananya dan mengeluarkan pusakanya. Besar, keras dan hangat. Aku mengecup pusaka itu perlahan bersamaan dengan tubuh Indra yang menggelinjang.

"Geli, Sayang!" ucapnya lirih. Lalu bibir kembali melahap rahimku. Sementara hidungnya mengendus-endus di antara belahan bokongku. Kenikmatan ini benar-benar sampai ke ubun-ubun.

Tanpa ragu, aku pun langsung melahap pusakanya, membenamkan dalam-dalam seolah ingin menelannya. Pusaka besar itu bergerak-gerak di dalam mulut, menendang-nendang, memberikan kehangatan di seluruh dinding mulutku.

Gelombang kenikmatan segera keluar dari dalam diriku. Aku berusaha menahannya lebih lama, namun lidah Indra terus membelai-belai titik sensitif di dalam rahimku.

"Gigit, Ndra! Gigit!" ucapku melepas pusakanya dari mulutku. Buah dadaku yang mengeras aku rapatkan di atas perutnya sementara pinggulku aku dorong, agar bibirnya leluasa menguasai lubang kenikmatanku. Tubuhku mengejang seiring puncak kenikmatan yang baru saja aku dapatkan.

Aku tahu ini belum berakhir. Indra sudah membawaku ke dalam puncak kenikmatan, tapi aku belum berhasil membawanya ke dalam kenikmatan yang sama seperti aku rasakan.

Aku kembali memutar tubuhku, lalu berbaring di sebelahnya sambil berbisik di telinganya.

"Katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untukmu?"

Indra memiringkan tubuhnya sambil tersenyum mengatur napasnya. Tangannya bergerak masuk di antara paha bagian dalamku, lalu membelai-belai bulu halus yang subuh di sekitar rahimku.

"Aku ingin ini," ucapnya sambil mencubit kewanitaanku yang tembam. "Tapi aku ingin memain-mainkannya dulu."

Aku tersipu. Mungkin Indra bisa memahaminya, saat wanita telah mencapai puncak kenikmatannya, butuh istirahat beberapa saat untuk merangsangnya. Jika dia memaksakan, aku bisa saja mengimbanginya, tapi pasti akan terasa ngilu buatku.

Tanganku pun bergeser ke atas dadanya. Dengan ujung kuku jari telunjukku. Aku memainkan putingnya yang hitam. Tak sebesar punyaku pastinya. Tapi gerakan jemariku, membuatnya menggelinjang untuk yang kedua kali.

"Naiklah ke atas, jepit pusakaku dengan kehangatan rahimmu."

Ini saat yang aku nantikan. Merasakan kembali ketangguhan senjatanya mengoyak-oyak dinding liang kenikmatan.

Aku segera bangkit dan langsung duduk di atas perutnya, memberi sedikit sela sambil meraih pusakanya, mengarahkan dan menuntunnya memasuki lubang kenikmatanku.

Aku tidak segera merapatkan, membiarkan kepala botak yang mengilap itu bergerak di depan pintu rahimku, bergerak-gerak mengetuk dinding rahim yang masih basah, menendang-nendang secuil daging kecil yang berlendir.

Tubuhku kembali terasa terbakar. Liang kenikmatanku seperti sudah tak sabar, menunggu tamu agung yang akan memberiku sejuta kenikmatan.

Blessss

Senjata pusaka Indra telah benar-benar masuk ke dalam rahimku. Besar dan hangat seperti mengganjal pangkal pahaku. Pelan-pelan aku mulai menggerakkan pinggul, memutar-mutar, naik-turun dan bergoyang-goyang.

Pahaku dan pahanya beradu, menciptakan suara tepukan yang terdengar merdu.

"Oh ... God! Gerakanmu liar sekali Cintya, aku menyukai!" erang Indra sambil memejamkan matanya. Aku merakan burungnya berdenyut, seperti otot-otot rahimku yang juga berdenyut.

"Ah ... Huuuu." Aku pun mendesah. Meniupkan napas kenikmatan yang segera menghampiriku. Aku mempercepat gerakanku, dan ah ... Semburan lahar hangat keluar dari pusaka Indra, masuk begitu saja ke dalam rahimku. Aku pun terkulai di atas dadanya.

Selama beberapa saat kami hanya terdiam. Hanya degup jantung kami yang masih berdetak dengan kencang. Indera mengangkat tangannya ke atas kepala dan membelai rambutku.

"Aku telah memulai dengan cara yang salah untuk mendapatkanmu Cintya," ucapnya pelan.

"Aku tidak menyesalinya, Ndra! Aku menikmati setiap detik saat bersamamu."

Indra menghela napas. "Andai aku tahu kau akan menyambutku, aku pasti akan memperlakukanmu lebih baik lagi."

"Stttt! Jangan kau sesali, Ndra!" Jari tengah dan telunjukku menempel di bibirnya untuk menghentikannya terus berbicara. "Aku benar-benar tak keberatan dengan semua yang pernah terjadi. Yang terpenting sekarang, kita akan memulai semuanya dari awal lagi."

Indra melirik ke arahku yang masih bersandar di atas dadanya.

"Kau mau menjadi milikku?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.

"Selamanya?"

"Tentu saja, selama kau mau."

Indra tersenyum mendengar jawabanku. Tiba-tiba kedua tangannya bertumpu pada kursi, lalu berusaha untuk mengangkat tubuhnya yang masih tertimpa tubuhku. Keperkasaannya yang masih menancap di dalam rahimku, kembali mengeras.

Sekarang tubuh Indra sudah dalam posisi setengah berdiri. Ketinggiannya yang melebihi ketinggian atap mobil, membuatnya harus sedikit merunduk. Aku seperti seekor anak monyet yang bergelantung pada Induknya. Melingkarkan kedua tangan di lehernya, ketika dia mulai mendorong-dorong bokongnya, dan mulai memompa kenikmatan yang luar biasa lagi. Aku merasakan buah dadaku ikut bergoyang-goyang, seperti goyangan mobil yang menjadi saksi cinta kami.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang