Klik!
Lampu kamar tiba-tiba padam. Mataku belum sempat beradaptasi dengan kegelapan, ketika tiba-tiba aku merasa ada yang melilit di kedua pergelangan tanganku. Ini seperti hand cuffs. Sebuah borgol yang terbuat dari bahan kulit yang biasa dipakai pada adegan seks BDSM. Apakah Opa ingin melakukan adegan seks dengan cara seperti itu? Menyiksa pasangannya untuk mendapatkan kepuasan.
Ada kepanikan yang tiba-tiba menyusup dan menguasaiku. Aku bisa saja berontak karena kedua kakiku masih bisa bebas bergerak. Namun, Opa-opa tiba berbisik di telingaku.
"Jangan panik, Sayang! Aku tidak akan menyakitimu."
Bersamaan dengan itu. Aku merasakan tangannya kembali meremas payu daraku. Aku menggigit bibir merasakan kenikmatan itu. Namun kenikmatan itu sedikit terganggu ketika aku kembali merasakan ada sesuatu yang melingkar di kepalaku dan menutup kedua mataku. Ya ... Opa memakaikan aku blind fold. Tidak salah lagi, Opa pasti punya kelainan perilaku seks. Aku tidak bisa menyebutnya sebagai BDSM. BDSM dilakukan jika kedua pasangan sepakat dan setuju melakukan hal ini. Tapi ... yang ia lakukan saat ini di luar sepengetahuanku.
"Apa yang akan kau lakukan, Opa? Kamar ini sudah cukup gelap, kenapa masih harus menutup kedua mataku?"
Tak ada jawaban dari Opa. Yang kudapati justru aku merasakan alat yang bergetar menempel di kewanitaanku. Kondisi kamar yang hening membuatku bisa mendengar suara getaran dari alat itu. Dalam kondisi normal mungkin aku tak akan mendengarnya. Tapi aku sangat yakin dan bisa menebak, alat yang sekarang menempel di pangkal pahaku adalah vibrator.
Aku melenguh. Alat bantu getar itu terus menyusuri tiap sudut kulit lembut bibir rahimku. Sesekali bergeser ke bawah ke lubang lain di lipatan bokongku. Sekujur tubuh semakin mengejang. Rasa takut dalam hatiku terusir dengan sendirinya bersamaan dengan kenikmatan yang menggerayangi tiap syaraf-syarafku.
Aku hampir tak kuasa menahan kenikmatan yang mencabik-cabik kesadaranku. Antara sadar tak sadar, aku membuka kedua pahaku lebar-lebar agar Opa segera memasukkan terongnya ke dalam lubang kenikmatanku yang sudah basah.
Suara alat vibrator itu sudah tak lagi aku dengar. Mungkin Opa sudah menyimpannya dan bersiap menusukkan terongnya. Itu memang yang aku harapkan. Tapi keinginanku sepertinya belum bisa terkabul. Aku merasakan tangannya mendorong tubuhku dan membantuku untuk duduk di atas tempat tidur.
"Aku akan melepas ikatan tanganmu, tapi berjanjilah kau tak akan membuka penutup matanya."
Aku mengangguk tak berdaya. Bagaimanapun posisiku adalah perempuan yang dibayar untuk memuaskan hasratnya. Selama dia tidak menyakitiku dan berbuat kasar kepadaku, aku harus menuruti semua keinginannya.
Kedua tanganku telah terlepas dari ikatan hand cuffs. Bentuknya sama sekali tidak menyerupai borgol karena terpasang terpisah. Mungkin Opa mengikat hand cuff di tanganku dengan tali kulit yang memanjang yang ujungnya diikat pada tiang di sisi sudut ranjang. Aku pernah melihat seks seperti ini di situs-situs dewasa. Di mana tangan dan kaki sang perempuan direntangkan dan diikat pada tiang kaki-kaki ranjang. Entahlah ... aku tidak yakin akan hal itu, karena kedua mataku masih tertutup. Aku bahkan tak tahu, apakah lampu di kamar sudah dinyalakan lagi atau belum.
Aku mengusap-usap pergelangan tangan bekas ikatan tadi. Namun tiba-tiba tangan Opa sudah ada di punggungku dan mendorong hingga posisi tubuhku nyaris tersungkur ke depan. Aku seperti seekor sapi betina yang hendak dijadikan kurban, menungging, dengan posisi bokong terangkat tapi kepala menyentuh kasur. Dan ...
"Ah ...."
Benda hangat, lentur dan basah menyapu mulut rahimku. Opa menggunakan lidahnya memainkan titik saraf kenikmatanku. Gelembong kenikmatan seketika bergemuruh, menggetarkan seluruh persendianku. Aku menggigil, menggigit kain seprei kuat-kuat ketika bukan hanya lidahnya yang mempermainkan organ intimku. Salah satu jarinya pun sudah keluar masuk menerobos lubang kewanitaanku. Semakin lama gerakan itu semakin cepat membuat aku tak bisa menahan lagi puncak kenikmatan yang melambungkanku.
Aku terengah-engah. Rasanya ngilu ketika kita sudah berada dipuncak kenikmatan, namun pasangan kita masih menginginkan lebih. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku ingin Opa segera menyudahi aktivitasnya mempermainkan kewanitaanku. Mungkin lelaki paruh baya itu mendengar rintihan hatiku. Dia sudah mengeluarkan jarinya dan menarik lidahnya dari mulut rahimku yang sudah dibuatnya becek.
PLAK!
Tiba-tiba Opa menampar pantatku. Aku nyaris melonjak karena kaget mendapat tamparan itu. Sakit? Tentu saja sakit. Bahkan tidak hanya sakit, bokongku masih terasa panas akibat tamparan itu. Rasa sakitnya sedikit mereda setelah kedua tangan Opa memijat dan meremas bokong itu. Lalu aku merasakan sebuah kenikmatan lain ketika benda keras dan hangat menusuk rahimku dari belakang.
Aku tidak ingin menulis kata 'Ah' atau 'Aw'. Tapi seperti itulah yang keluar dari mulutku. Rasa ngilu yang aku rasakan saat terakhir Opa menyentuh G-spotku. Semua hilang tergantikan kenikmatan yang luar biasa. Aku tidak tahu apakah itu efek dari tamparan tangannya di pantatku. Yang jela sekarang aku benar-benar menikmati terong panjang Opa yang hangat menyelinap ke dalam rahimku dan terus masuk seolah-olah akan menembus perutku.
Kedua tangan Opa kini bergeser ke pinggulku. Ia lalu mengentakkan bokongnya mendorong lebih dalam terongnya ke dalam lubang kenikmatanku. Bulu-bulu di sekitar burungnya yang lebat menambah sensasi lebih saat menyentuh kulit sekitar kewanitaanku.
Untuk beberapa saat, Opa tak melakukan gerakan apa pun. Ia terdiam membiarkan burungnya yang hangat berdenyut-denyut di dalam lembah kenikmatan.
"Ini konyol!" Aku senyum-senyum sendiri-sendiri teringat sebuah jokes, bahwa organ intim wanita Indonesia itu terkenal hangat. Bahkan jika ubi dimasukkan ke dalamnya, saat keluar sudah berubah menjadi tape. Dan aku tidak mau itu terjadi pada terong Opa. Jika terlalu lama di dalam gua kenikmatanku, aku khawatir begitu keluar akan berubah menjadi sayur lodeh.
Aku mengambil inisiatif untuk menggoyangkan pantatku. Memutar-mutar terongnya, naik turun dan keluar masuk. Aku bisa merasakan tangan Opa yang mencengkeram pinggulku semakin kuat. Artinya dia sedang merasakan kenikmatan yang dahsyat. Aku semakin mempercepat gerakan bokongku dengan gerakan yang bervariatif, dan Opa mengimbanginya dengan melakukan tusukan-tusukan yang ganas bersamaan dengan suara tepukan yang menggema mengikuti irama tusukannya.
Hanya beberapa saat, aku merasakan cairan hangat keluar dari benda keras yang menusuk rahimku. Sebenarnya aku juga merasakan cairan yang keluar dari dalam organ kewanitaanku. Tapi berbeda dengan saat pertama aku merasakan puncak kenikmatan dan merasa ngilu pada G-spotku, aku justru semakin liar dan menginginkan benda itu terus berada di dalam rahimku.
"Cukup, Cintya! Cukup! Aku sudah tidak kuat lagi."
Aku tak menghiraukan suara itu. Aku semakin menekan pantatku dan menjepit burungnya dengan bibir rahimku. Opa berusaha mengeluarkan terongnya dengan memundurkan tubuhnya. Namun aku justru menegakkan tubuhku dan membuatnya terjungkal dengan posisi duduk di atas tubuhnya dan masih membelakanginya.
Dengan posisi Opa yang seperti itu, terlentang di bawahku. Aku semakin leluasa mempermainkan terongnya. Mengangkat pinggul sedikit ke atas mirip orang yang sedang berjongkok lalu berputar-putar menggerakkan terong itu tanpa membiarkannya lepas dari mulut rahimku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
