Bab 35 Sandiwara yang Terungkap

37 1 0
                                        

Aku segera merapatkan tubuhku ke pagar halaman kampus, menghindari barangkali saja salah satu dari mereka ada yang mengenaliku. Begitu mobil Om Sentot pergi, aku segera berlari kembali ke arah tukang ojek untuk mengejar dan mengikuti mereka.

"Mbak itu teman kamu yang bawa mobil? Main klakson enggak kira-kira kayak di tengah hutan aja," gerutu Bang Ucok menyampaikan protesnya padaku.

"Bukan, Bang!"

"Nah ... Cewek yang baru masuk tadi? Bukannya itu cewek yang nyuruh teman Mbak, yang dipukuli itu buat bikin laporan ke kepolisian?"

"Wah ... Ceritanya panjang, Bang! Sebaiknya Abang antar saya buat ngikutin mobil itu deh." Aku segera mengeluarkan uang seratus ribu dan menyerahkan pada Bang ucok agar mau mengantarku. Sudah tidak salah lagi. Lisa yang mendesak Indra untuk membuat laporan. Masalahnya, kenapa justru dia pergi dengan Om Sentot dan Bu Saodah? Ada apa gerangan?

"Ambil ini dan cepat ikuti mobil itu. Tapi jangan sampai ketahuan kalau kita sedang mengikuti mereka. Nanti aku tambahin lagi kalau memang jaraknya jauh, kalau perlu, aku sewa seharian."

Bang Ucok tidak banyak berkata, uang seratus ribu dan janji akan menambahnya lagi, cukup menjadi perintah ampuh yang tidak bisa dia tolak.

"Pakai helm ini, Mbak!" ucap Bang Ucok menyodorkan helm berwarna hijau yang biasa dipakai salah satu jasa ojek online. Setelah aku memakai benda yang diberikan Bang Ucok dan naik di belakangnya. Sepeda motornya pun melesat mengikuti arah perginya mobil yang dikendarai Om Sentot.

Jalanan Jakarta yang padat, membuat Bang Ucok bisa dengan cepat mengejar mobil Om Sentot. Aku berharap mobil itu tidak masuk ke dalam jalan tol dalam kota yang bisa membuat kami kehilangan jejak mereka.

Mungkin aku sedang bernasib mujur, setelah melewati beberapa kali lampu merah dan belokan, akhirnya mobil itu menepi dan memasuki sebuah bangunan restoran Jepang.

"Stop di sini, Bang!"

Aku menepuk punggung Bang Ucok agar menghentikan motornya dan tidak ikut masuk ke dalam restoran itu.

"Udah samapi sini aja, biar aku yang masuk melihat mereka!" ucapku sambil melepas helm dan memberikan padanya.

"Mau ditungguin apa enggak usah, Mbak?"

"Enggak usah, Abang pulang saja!" Aku mengeluarkan lagi uang lima puluh ribu dan memberikannya pada Bang Ucok. Lelaki itu menerima uang itu lalu menciumnya dengan semringah sebelum memasukkan ke dalam kantongnya.

Aku bergegas masuk ke dalam restoran dan mencari mereka. Sejenak aku merapikan pakaian, membetulkan topi dan kaca mata hitamku agar terlihat berbeda dan tak bisa mereka kenali.

Mataku langsung berkeliling begitu sudah berada di dalam ruangan. Sebuah meja berbentuk lingkaran berada di tepi ruangan menghadap dinding kaca dengan pemandangan jalan raya. Ciri khas Kota Jakarta.

Suasana restoran tak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi oleh pengunjung. Aku memutuskan untuk mengambil tempat yang sekiranya bisa mendengar pembicaraan namun tak terlihat oleh mereka, minimal tempat itu aman dari jangkauan pandangan mereka. Dan kursi yang berada di sudut, adalah pilihan terbaik. Karena selain terhalang tiang besar yang menjadi penyangga atap, tempat itu cukup dekat untuk bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Ada kabar apa, Lisa? Kenapa kau tiba-tiba ingin kita bertemu?" tanya Om Sentot memulai obrolan setelah menyerahkan pesanan makanan mereka pada seorang waiter.

"Lihat nih, Om! Kau pasti akan menyukainya jika sudah melihatnya." Lisa terlihat memainkan jarinya untuk membuka kunci ponselnya. Beberapa saat dia terlihat membuka-buka sesuatu yang menurut pikiranku, pasti lah dia sedang membuka video rekaman yang dibuatnya tadi. Setelah menemukan video rekamannya, dia langsung memberikannya pada Om Sentot.

Bu Saodah tak mau ketinggalan, dia memiringkan tubuhnya, ikut melihat video yang sedang diputar dari ponsel Lisa yang sekarang berada di tangan Om Sentot.

"Bagus!" Bibir Om Sentot melengkung, menyunggingkan sebuah senyum kepuasan. "Tidak percuma aku menyuruh Gio belajar karate sejak kecil. Dia begitu mudah menjatuhkan Indra. Kenapa dia tidak langsung membunuhnya?" Om Sentot memberikan kembali ponsel Lisa.

"Tadinya sih mau seperti itu, Gio sudah hampir mematahkan leher Indra. Tapi Cintya menahannya." Lisa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas yang dibawanya.

"Cintya?" geram Om Sentot. "Gadis kampung itu lama-lama bisa menjadi penghalang tujuanku. Kenapa kau tak menyingkirkannya, Lisa?"

"Enggak usah terburu-buru, Om! Lagi pula kita bisa memanfaatkan Cintya untuk mengadu domba mereka. Baik Gio maupun Indra, keduanya sama-sama mencintai gadis kampung itu."

Mereka menghentikan obrolan mereka begitu pelayan restoran membawakan minuman pesanan mereka.

"Om Sentot ingin menyingkirkanku?" batinku dirundung ketakutan. "Sebenarnya apa yang mereka rencanakan. Ini jelas-jelas kejahatan yang sudah direncanakan, tapi apa motifnya?"

"Aku akan terus membujuk Indra agar melaporkan perbuatan Gio kepada polisi," lanjut Lisa begitu pelayanan restoran kembali meninggalkan mereka.

"Bagus! Kau harus terus membujuk Indra agar memperkarakan Gio. Aku juga akan terus menghasut Gio, agar membenci saudaranya sendiri dan mengambil semua harta kekayaan mereka."

Kedua mata Om Sentot berbinar. Tatapannya menerawang. "Doni ... Doni ... Tunggu saja saat kehancuranmu. Kau pasti akan sangat menderita ketika tahu, kedua anak kandungmu saling berseteru, kau baru akan menyadari setelah semua harta kekayaanmu, sudah berpindah menjadi milikku."

"Jangan lupa bagianku, Om!" sela Lisa. "Kau harus ingat, aku lah yang memberi Indra obat perangsang sehingga saat ke rumahmu, dia tergoda dengan kecantikan istrimu."

Om Sentot terkekeh. "Ya tapi enggak sepenuhnya juga karna obat perangsang darimu. Aku dan Lauren sengaja membuat adegan panas di depan matanya. Setelah itu, aku pura-pura masuk kamar tidur. Dan Indra ... Ha ha ha ... Masuk ke dalam jebakan kami juga."

"Apa? Jadi Indra dijebak sama mereka?" Aku hampir memekik mendengar obrolan mereka. Ingin rasanya aku menghampiri mereka dan menyiramkan air ke wajah mereka yang begitu licik.

"Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan uang untukmu." Om Sentot mengeluarkan amplop cokelat berisikan uang kepada Lisa. "Ini baru awal, nanti aku akan memberikan lagi jika semua harta Doni Wibawa sudah menjadi milikku."

Lisa segera mengambil amplop itu dan mengeluarkan uang yang ada di dalamnya dan menghitungnya. Penaksiranku, uang itu sekitar sepuluh juta.

Bu Saodah yang melihat uang begitu banyak di tangan Lisa, langsung menepuk lengan Om Sentot. "Terus bagianku mana? Jangan lupa ya, aku juga sudah mencekoki Gio agar mau tidur denganku. Bagaimana? Hebatkan? Kau berhasil merusak kedua anak Doni Wijaya secara bersamaan." Kerling nakal mata wanita bertubuh jumbo itu menggoda Om Sentot.

"Tenang saja, Saodah! Kau bicara seperti itu seperti aku bukan suamimu saja. Kau pasti dapat bagian yang besar."

Astaga! Rencana gila macam apa ini? Mereka benar-benar kumpulan manusia jahat yang ingin menghancurkan keluarga Gio dan Indra.

Kedua tangan dan kakiku bergetar. Aku harus segera pergi dari tempat ini dan menceritakan semuanya pada Gio dan Indra. Jangan sampai mereka meneruskan pertikaian ini yang menyebabkan kehancuran keluarga mereka.

Brakkk!

Aku yang tergesa-gesa berdiri, tak melihat seorang pelayan restoran yang sedang membawa nampan berisi makanan pesanan. Tak ayal, kegaduhan itu membuat mereka menoleh ke arahku.

"Cintya? Itu kan Cintya!" ucap Lisa yang mengenali penyamaranku."

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang