Bab 22 Bokong yang Hangat

1.6K 3 0
                                        

"Aw ... Geli, Mas!" lenguh Tante Lauren sambil tertawa. Lalu kaki kanannya terlihat bergerak menendang-nendang dengan pelan area kejantanan Om Sentot.

"Buka, dong!" perintah Tante Lauren kemudian. Om Sentot menarik kepalanya dari pangkal paha Tante Lauren lalu membuka celana Hawainya kemudian duduk bersila di depan istrinya.

Aku melongo sejenak. "Apakah itu yang menyebabkan Om Sentot sampai sekarang belum punya anak?" tanyaku dalam hati.

Kalau dari segi ukuran, dua bola kembar Om Sentot itu besar, namun justru karena dua bola kembarnya besar, membuat batang kejantanannya terlihat pendek dan kecil.

Om Sentot tak langsung menempelkan bibirnya kembali ke dalam mulut gua tante Lauren yang terbuka. Ia justru memasukkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kiri secara bersama-sama ke dalam mulutnya. Setelah merasa kedua jari itu basah oleh air liurnya, ia menempelkan ke dalam lubang sanggama dan memainkan daging kecil yang ada di atas mulut gua itu.

"Aah ... Nakal kamu, Mas!" Tante Lauren mendesis. Aku melihat dia menggerakkan kaki kanannya lagi lalu menjepit kejantanan Om Sentot di antara ibu jari dan telunjuk kakinya.

"E-nak, Maaah!" Terdengar suara Om Sentot terengah-engah. Sesaat dia menghentikan gerakan tangannya yang masih menempel di mulut gua Tante Lauren untuk menghayati sentuhan kaki istrinya.

"Terusin yang ini dong, Mas!" ucap Tante Lauren sembari menarik kepala Om Sentot agar masuk ke dalam pangkal pahanya. Fingering saja tidak cukup, sepertinya Tante Lauren menginginkan kewanitaannya dibelai dengan sesuatu yang lain. Lidah.

Hanya beberapa saat mereka melakukan itu, Om Sentot memberikan kenikmatan melalui bibirnya, sedangkan Tante Lauren membalas memberi sentuhan dengan kakinya. Hanya beberapa saat, karena yang terjadi berikutnya, Om Sentot terdengar mengerang, ia mengangkat kepalanya dari pangkal paha Tante Lauren sambil matanya terpejam. Tubuhnya pun terlihat mengejang, bersamaan dengan cairan yang keluar dari alat reproduksinya.

"Kok udah keluar?" gumam Tante Lauren penuh kekecewaan, ia mengusap-usap mata kakinya yang terkena semprotan cairan Om Sentot pada paha lelaki itu.

"Maaf, Sayang! Aku sudah tidak tahan," ucap Om Sentot dengan senyum getir penuh penyesalan. "Aku bantu kamu keluar pakai tangan, ya!" imbuhnya sambil mengulurkan tangan, bermaksud menyentuh kewanitaan Tante Lauren.

Namun wanita yang masih terlihat cantik itu menepis tangan Om Sentot dan beranjak turun dari tempat duduknya yang berada di atas sandaran sofa. "Udah enggak usah! Aku bisa melakukan sendiri," ketusnya sambil merapikan daster. Ia lalu kembali duduk dengan mata menghadap ke televisi yang ada di depannya.

Sementara Om Sentot yang masih duduk di sebelahnya dengan posisi tubuh masih menghadap sandaran sofa, meraih celana Hawanya dan menyeka permukaan sofa yang terkena cipratan lendirnya. Setelah merasa semuanya sudah bersih, ia pun berbalik lalu berdiri.

"Aku mau membersihkan anuku dulu," ucapnya seraya berjalan menuju kamarnya. Setahuku memang kamarnya dilengkapi kamar mandi yang berada di dalam.

Aku belum berani melangkah ke dalam. Aku tak mau mereka curiga kalau aku sudah mengawasi mereka dan melihat apa yang baru saja mereka lakukan. Satu menit, dua menit, lima menit, Om Sentot tak kunjung keluar. Kakiku sudah dibikin pegal karena terlalu lama menunggu.

Aku hampir saja memutuskan untuk mendekati Tante Lauren. Namun Tante Lauren tiba-tiba merebahkan tubuhnya ke atas sofa sambil mengangkat dasternya. Kedua pahanya merenggang kemudian tangannya menyentuh kemaluannya sendiri.

"Astaga! Cobaan apa lagi ini, Tuhan?" keluhku sambil menahan napas. Meski pencahayaan ruang keluarga mereka yang remang-remang. Kedua mataku bisa melihat dengan jelas daerah terlarang milik tante Lauren. Bulu-bulunya hitam lebat mengelilingi lembah yang terlihat tembam.

Keperkasaanku yang semula semi berdiri, kini benar-benar menegang ketika aku melihat jemari Tante Lauren membelai-belai sendiri daerah kewanitaannya. Dua jarinya memijit kedua sisi lubang lembahnya sedikit menarik ke atas lalu menjepit daging kecil yang ada di tengah-tengahnya.

Mata Tante Lauren terlihat terpejam, ia melakukan gerakan tangannya secara berulang-ulang. Namun sepertinya gerakan itu tak membuatnya merasa puas. Ia mengeluarkan jari tengah tangan kirinya, lalu memasukkannya ke dalam rahimnya. Kemudian dia menggerakkan jari itu keluar masuk, semakin lama, gerakannya semakin cepat.

"Kasihan Tante Lauren," ibaku. "Apakah selama ini dia tak pernah mendapatkan nafkah batin dari Om Sentot? Lalu buat apa Om Sentot menikah lagi kalau ternyata burungnya tak bisa diajak kompromi? Apakah dia cuma mau bergaya biar dianggap perkasa dengan memiliki banyak istri?"

Jantungku berdegup kencang menyaksikan pemandangan di depanku. Jujur kuakui, wajah Tante Lauren masih terlihat cantik. Kulitnya bersinar putih bersih dengan tubuh yang masih terlihat ideal. Wajar saja jika papaku tergoda dengan wanita itu. Aku sendiri ...

Ah ... Buat apa aku masih berdiri di sini? Kenapa tidak mencoba membantu Tante Lauren yang sedang dilanda dahaga akan sentuhan seorang pria.

Aku berjalan dengan hati-hati mendekati sofa di mana Tante Lauren sedang terbaring. Hanya berjarak kurang dari satu meter, tiba-tiba Tante Lauren menggerakkan kakinya dan merentangkannya lebih lebar. Kedua kakinya sedikit ditekuk liang kenikmatannya semakin menantang. Gerakan tangannya semakin tak terkendali.

Aku memberanikan diri maju lebih dekat lagi dan berjongkok di sampingnya. Bibirnya terlihat basah yang menunjukkan dirinya benar-benar telah dikuasai hasrat yang menggebu-gebu.

Aku mengangkat tanganku untuk menyentuh kakinya. Namun belum sampai tanganku menyentuhnya, tiba-tiba kedua mata Tante Lauren terbuka.

"I-Indra!" ucapnya tergagap. Ia buru-buru menarik tangannya yang berada di daerah vitalnya, lalu bergerak dengan cepat menurunkan dasternya sebelum akhirnya beranjak duduk. "Ka-kamu dari kapan ada di sini?" Wajah putih Tante Lauren terlihat memerah.

"Sudah lama? Sejak kapan?"

"Dari Om Sentot masih ada di sini." Aku berdiri lalu duduk di sebelah Tante Lauren yang terlihat masih gugup. Aku berusaha tak membahas apa yang baru saja aku lihat tadi. Dari adegan Om Sentot yang ejakulasi dini, sampai Tante Lauren yang baru saja melakukan masturbasi.

"Oh ... Kenapa kau tak memberitahuku?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Mungkin Tante Lauren juga menyadari pertanyaannya yang terdengar bodoh.

"Ya aku enggak enak aja mengganggu keasyikan kalian."

"Asyik apanya?" bantah Tante Lauren cepat. "Tuh dia sudah KO duluan. Paling-paling sekarang dia sudah molor di kamar. Kamu ada perlu sama dia?"

Aku melirik jam lemari Junghans yang tersusun di sebelah rak TV. Sudah hampir jam 10 malam. "Sebenarnya ada sedikit keperluan, tapi kalau Om Sentot sudah tidur, besok saja aku meneleponnya."

"Oh sebentar ... Sebentar! Biar aku bangunkan!" ucap Tante Lauren cepat, ia pun mencoba berdiri dan berjalan melewatiku. Namun entah disengaja atau kebetulan, tepat ketika dia berada di depanku, tubuhnya seperti oleng. Aku mengangkat kedua tanganku untuk memberinya pegangan. Namun tubuhnya sudah terlanjur jatuh dan duduk di atas pangkuanku.

"Aaa!" Aku sedikit mengerang, pantatnya begitu keras menimpa burungku yang masih berdiri. Dasternya yang tipis, membuatku bisa merasakan kehangatan bokongnya yang sekal. Mungkin dia juga bisa merasakan sesuatu yang keras di balik celanaku.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang