Bab 26 Ayah yang Sama

176 0 0
                                        

Aku keluar dari ruang administrasi kampus dengan perasaan yang masih diliputi kemarahan. Meski aku sudah membayar semua biaya semesterku, namun ada perasaan yang mengganjal dalam hatiku.

Indra? Ya, Indra. Kenapa dompet dan STNK mobil itu atas nama dia? Bukankah dia bilang, dia bekerja di klub Om Sentot sebagai sekuriti untuk membiayai kuliahnya. Kenapa dia bisa ....

Ah semua teka-teki ini harus aku pecahkan. Saat Opa mengantarku, aku sengaja tak bertanya padanya atau pun membahasnya. Percuma! Dia pasti tak akan berkata yang sebenarnya. Buktinya, dia saja sudah berbohong saat pertama kali aku berada di apartemennya.

Sempat aku berpikir, bahwa orang yang berada dalam kamar itu adalah Indra. Tapi ingatanku yang melihat sosok Indra yang begitu sederhana, menepis prasangka itu. Aku bahkan teringat saat Indra mengantar Mamanya Gio. Namun aku masih bersikeras membelanya. Indra adalah sekuriti di klubnya Om Sentot, yang artinya dia karyawannya Om Sentot. Jadi, mungkin saja Om Sentot yang menyuruh Indra untuk menjadi sopir Mamanya Gio.

Namun kesimpulan-kesimpulan itu ter patahkan dengan kenyataan saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kartu identitas dan STNK yang aku temukan di dalam mobil yang di bawa Opa.

"Sudah beres, Cin?"

Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Pikiranku yang kalut membuatku tak fokus dan menyadari mereka yang sudah berdiri di depanku. Lisa dan Indra.

"Sudah!" Aku memaksa tersenyum ke arah Lisa lalu berganti ke arah Indra yang berdiri di sebelahnya dengan memasang wajah tanpa dosa.

Darahku tiba-tiba melonjak naik, dengan tergesa, aku berjalan menghampiri Indra dan menariknya menjauh dari Lisa.

"Eh ... Ada apa ini?" tanya Indra masih bersandiwara.

"Coba jelaskan siapa kau sebenarnya dan apa maumu?" Suaraku bergetar menahan amarah yang membuncah.

"Maksudmu? A-aku benar-benar tak tahu apa mak–"

PLAK!!! (ini bukan suara pukulan pantat gaes)

Tangan kananku melayang, menampar dengan keras pipi kiri Indra.

"Ow ... Ow ... Sepertinya terjadi bentrokan antara Rusia dan Ukraina, aku tidak mau ikut campur ah." Terdengar suara Lisa yang melihatku menampar Indra, ia mundur dengan pelan seperti ingin meninggalkan kami.

"LISA!" Aku berteriak. "Sebenarnya kamu juga tahu, kan? Siapa Indra sebenarnya?" pertanyaanku menghentikan langkah Lisa.

"Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian." Lisa mengangkat kedua tangannya. "Jadi ... Kau tanya sendiri sama orang yang bersangkutan."

Aku kembali menatap ke arah Indra. Bagaimanapun, Lisa tak bersalah seandainya aku tak begitu bodoh menyerahkan keperawananku pada Indra.

"Apakah kau masih belum mau menjelaskan?" tanyaku menatap tajam lelaki di depanku itu. Tanganku masih mendorong dadanya hingga membentur tembok bangunan gedung.

"Oke, aku akan jelaskan," ucap Indra. Tangannya berusaha menurunkan tanganku.

"Jelaskan apa? Kamu mau bilang kalau kamu yang membookingku, menyuruh Opa meniduriku lalu kau menggilirnya, begitu?"

"Enggak! Enggak seperti itu, Cintya!"

"Lalu kenapa kau berpura-pura jadi sekuriti, pura-pura menolongku dan pada akhirnya kau sendiri yang mengambil keperawananku? Apakah kau sengaja ingin mempermainkanku?"

Aku benar-benar tak bisa lagi membendung kemarahanku, juga kesedihanku. Aku sudah merelakan diri untuk menjadi wanita panggilan. Tapi yang dilakukan Indra benar-benar kelewatan. Aku merasa seperti dipermainkan.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang