Bab 31 Lelaki Di Antara Kang Ojek

93 1 0
                                        


Aku memijit keningku yang terasa pusing. Mungkin efek dari pukulan Rindi dan teman-temannya, atau bisa juga dari minuman yang aku konsumsi

"Kepalamu masih sakit?" tanya Gio disela ceritanya.

Aku menggeleng. "Hanya sedikit. Lalu apa jawabanmu?"

Gio mengulum sebuah senyum. Lalu melanjutkan ceritanya;

***

"Oke, aku setuju! Tapi aku juga punya syarat!"

"Apa syaratnya?" tanya papa.

"Aku mau semua kekayaanmu dialihkan atas namaku."

"Gila! Aku masih hidup! Bagaimana bisa kau menginginkan semuanya. Kau kira aku sudah mati. Lalu bagaimana dengan kakakmu, Indra?"

"Itu urusanmu. Lagi pula Indra sudah menikmati kekayaanmu sejak kecil, dia sudah merasakan kemewahan, sekarang dia sudah besar, sudah saatnya mandiri. Dia harus mendapatkan kekayaan dengan usahanya sendiri."

Doni Wibawa terlihat berpikir keras. Setelah menghela napas, ia akhirnya berkata. "Papa hanya punya satu hotel bintang 5 yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga ini. Aku tak mungkin melepasnya, karena papa masih membutuhkan biaya untuk penyembuhan Diana. Aku hanya bisa memberimu pilihan, kau ambil Crown atau Winner?"

"Aku mau dua-duanya."

"Jangan serakah! Lalu bagaimana dengan Indra? Aku sudah mengatur agar kalian memiliki satu-satu."

"Ingat, Pa! Aku mau melakukan ini karena ingin membantu mamanya Indra. Jadi, kalau kau ataupun Indra keberatan, lupakan saja permintaanmu. Lagi pula, sekarang Crown sudah dipegang sama Om Sentot. Bagaimana mungkin aku memintanya begitu saja."

Sesaat kami terdiam. Ini melebihi ekspektasiku sebenarnya. Tapi sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku.

"Oh ya ... Selain kedua bisnis itu, aku juga menginginkan sebuah rumah dan uang. Aku rasa 5 miliar sebanding dengan dua puluh tahun kau menyia-nyiakan aku. Dan untuk rumah, aku sama sekali tidak ada keinginan untuk tinggal di rumah ini. Jadi, aku ingin kau memberiku salah satu rumahmu."

Doni Wibawa semakin berpikir keras. Dari cerita Mama, kekayaan Doni Wibawa itu melebihi yang ia sebutkan tadi. Dia tidak mungkin hanya memiliki satu rumah, usaha-usaha kecil yang lain juga pasti dia punya, seperti bengkel mobil dan showroom. Tapi untuk saat ini aku hanya menginginkan itu. Mungkin karena aku belum paham bisnis dan pengelolaannya, jadi sementara aku hanya menyebutkan yang sekiranya bisa menghasilkan uang dan kenyamanan bagiku.

"Berikan saja apa yang dia minta, Pa!" Tiba-tiba Indra sudah berdiri di ambang pintu. Serempak kami menoleh ke arahnya.

"Tapi, Ndra! Bagaimana denganmu?"

Papa sepertinya keberatan untuk menyerahkan semuanya kepadaku. Namun, Indra kembali berkata.

"Kesembuhan Mama itu lebih penting dari apa pun. Aku rela tak memiliki apa-apa selama Mama bisa kembali seperti sedia kala. Dua puluh tahun itu bukan waktu yang singkat, Pa! Aku bisa memahami penderitaan Gio sama seperti aku memahami penderitaan mama selama dua puluh tahun ini."

"Bagus kalau kau mengerti," potongku. "Tapi aku tak akan pernah berterima kasih kepadamu atau pun menghormatimu sebagai seorang kakak. Jadi kau tak perlu membuang waktu dengan berpura-pura baik padaku."

Indra tersenyum hambar. "Aku juga tak butuh itu. Selama kau memperlakukan Mamaku dengan baik, justru aku yang harus berterima kasih padamu."

Aku berdiri dan mendekati Indra. Lalu aku berbisik di telinganya. "Tenang saja, aku tak sebejat dirimu yang meniduri Mamaku."

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang