Bab 28 Ancaman Mantan

125 0 0
                                        

Tiga hari sejak terakhir aku bertemu Gio, sampai sekarang aku belum pernah melihatnya lagi. Begitu pun dengan Indra, fakultas kami yang memang berbeda, membuat kesempatan untuk bertemu dengannya semakin jarang, apalagi aku memang tidak mau bertemu atau pun melihatnya lagi.

Pernah sekali tanpa sengaja aku berpapasan dengannya. Namun, aku segera berlari dan mengambil jalan lain di antara kerumunan mahasiswa agar dia tak mendekatiku. Ada yang berubah darinya. Rambutnya yang dulu agak panjang, kini dipotong setinggi satu senti, dan satu hal yang sempat luput dari perhatian, dia masih memakai ikat kepala berwarna putih. Ya ... Itu adalah perban. Benda yang sama yang aku lihat saat menamparnya.

Aku tak pernah berpikir kalau itu ia pakai untuk menutupi bekas luka seandainya Gio tak bercerita, kalau dia pernah memukul kepala Indra dengan baton stik. Aku mengira itu hanya aksesori atau hanya untuk bergaya belaka. Siapa yang sangka, kalau ternyata luka di kepala Indra cukup serius. Masih jadi misteri juga bagiku, apakah hal itu yang menjadi alasannya kenapa dia sengaja mematikan lampu kamar malam itu. Atau, bahkan jangan-jangan dia memakai Opa hanya untuk mengalur waktu. Karena dari cerita Gio, luka di kepala Indra pastilah parah. Dan dia seharusnya pergi e rumah sakit terlebih dahulu sebelum datang ke apartemen itu.

"Kenapa aku memikirkan Indra?" Hatiku melarangku untuk mengingat-ingat segala hal tentang dia. Mungkin juga Gio. Aku tidak mau ikut campur apalagi sampai terlibat dengan urusan keluarga mereka. Jadi, sehari setelah Gio menceritakan bahwa dia adalah adik tiri Indra, aku memutuskan untuk pindah kos. Mungkin hal itu juga yang membuat sampai sekarang aku belum ketemu lagi sama dia.

Aku menyewa sebuah rumah kos yang jauh dari kos sebelumnya. Bahkan tempat yang aku tinggali merupakan sebuah apartemen yang cukup menguras uangku. Bukankah sudah menjadi tabiat kita, selagi punya uang, kita akan mengupayakan gaya. Tidak pernah berpikir bagaimana saat kita susah.

Aku sudah terlanjur terjerumus dalam lembah hitam. Bukannya tak mau berhenti, tapi mungkin untuk beberapa waktu yang aku juga belum tahu, keluargaku belum bisa mengirim uang kuliah dan biaya hidupku, jadi aku akan tetap ambil job dan open BO. Alasanku memilih apartemen, bukan karena mau sok-sokoan. Ingat pepatah, barang di etalase akan lebih mahal dibanding barang di kaki lima.

"Halo, Cintya? Apakah malam ini jadwalmu kosong?" Suara Om Sentot terdengar dari gawai yang aku aktifkan mode loud speaker. Sementara aku yang baru selesai memakai celana dalam sehabis mandi. Duduk di tepi ranjang dengan kain handuk masih melingkar di tubuhku.

"Maaf, Om! Aku enggak mau melakukan hal itu lagi, apalagi berhubungan dengan keluarga Wibawa."

"Tidak! Tidak! Ini murni pelanggan, Om minta maaf soal kejadian antara kau dan Indra. Tapi serius, ini benar-benar pelanggan lama Om yang minta dicarikan."

Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi masih dengan alasan klasik, aku sudah tak pegang uang lagi. Jadi apa salahnya kalau mengambil job ini. 20 juta dari Indra sudah aku bayarkan untuk biaya kuliah, sementara 5 juta sebelumnya, sudah aku bayarkan untuk sewa apartemen.

"Bagaimana Cintya? Lagi pula, uangmu masih ada 5 juta di tangan Om. Apa kamu enggak mau ambil?"

Oh iya ... Aku lupa kalah uang DP 5 juta juga masih ada di tangan Om Sentot. Tapi dari masalah Indra dan lingkaran keluarganya, aku memang enggan berhubungan dengan Om Sentot lagi.

"Berapa bayarannya?"

"Short time, 10 juta untuk tiga jam. Dp 50% sisanya seperti biasa, kali ini enggak ada potongan. Bahkan kalau bersedia, aku langsung transfer bersama sisa uangmu yang dulu."

"Kemurahan, 15 juta kalau mau. No BSDM, No CIM dan No CIF."

"Ok, aku konfirmasi ke orangnya dulu, kalau deal, aku langsung kirim alamatnya dan transfer uangnya. Bagaimana?"

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang