Bab 33 Wanita di Balik Pertikaian

45 1 0
                                        

"Yah dilepas!"

"Huuuuu!" Sorak-sorai dan perasaan tidak puas para mahasiswa mewarnai aksi Indra yang melepas foto-foto di papan pengumuman itu. Bahkan ada beberapa orang yang melempari Indra dengan bola kertas dan botol air meneral.

"Bukankah ini ceweknya yang open BO itu?" teriak seseorang menunjuk ke arahku.

"Wah iya bener!" timpal yang lain. Sontak semua mata tertuju padaku. Tatapan sinis dan jijik dari puluhan pasang mata, seperti menelanjangiku.

"Berapa tarifnya, Neng!" celoteh salah satu dari mereka.

"Goyang, Maaaas!"

"Sedot, Om! Kena gigi uang kembali."

Berbagai nyinyiran dan kata-kata yang merendahkan terus tertuju padaku.

Indra tiba-tiba melepas jaketnya. Ia lalu menutupkan jaket itu di atas kepalaku, lalu menarikku keluar dari kerumunan itu.

"Minggir! Minggir!" bentak Indra mengayunkan tangan kanannya agar para mahasiswa menyingkir dan memberi jalan pada kami.

Aku melihat ada garis merah di punggung tangan Indra, memanjang hingga pergelangan tangannya. Sepertinya tangan Indra tergores oleh pecahan kaca yang dipukulnya. Bahkan garis itu semakin lama semakin jelas bersama dengan tetesan darah yang mulai mengucur.

"Dasar, Bodoh! Kenapa kau melakukan hal seperti?" maki Indra sambil menarik jaketnya dari atas kepalaku setelah kami berhasil menjauh dari kerumunan. "Amatir banget sih, lu! Mau-maunya disuruh berpose telanjang kayak gitu. Yang lu lakuian itu, sama aja bunuh diri, tau! Nasib lu end di kampus ini."

"Apa pedulimu?" tanyaku menantang tatapan tajamnya. "Aku bukan satu-satunya mahasiswi yang melakukan hal seperti itu. Lalu kamu sendiri? Bukankah usaha papamu yang memfasilitasi mahasiswi miskin seperti kami agar menjual diri?"

"Maksudmu? Crown?"

"Apa perlu aku sebutkan bisnis-bisnis lain papamu yang dijadikan tempat prostitusi?"

Indra tersenyum sinis mendengar pertanyaanku. "Kau tidak tahu apa-apa tentang Crown dan bisnis papaku. Crown awalnya hanya sebuah kafe dan tempat nongkrong bagi anak muda. Begitu pun Winner. Crown beralih fungsi menjadi klub malam setelah papaku menyerahkan pada Om Sentot. Segala macam praktik prostitusi, papaku sama sekali tidak tahu."

"Oh ... Jadi papamu tidak tahu? Tapi kamu tahu kan bahwa Om Sentot jadi 'manajer' bagi wanita open BO dan perempuan yang akan menjual keperawanannya?"

"Iya, aku memang tahu! Tapi Crown sudah papa serahkan kepada Om Sentot sebagai kompensasi untuk menjamin kehidupan Gio. Jadi aku tidak berhak untuk mencegah Om Sentot melakukan hal itu."

Ganti aku yang tersenyum sinis padanya. "Kau tak punya hak menghentikan Om Sentot? Tapi kenapa kau bisa menyuruhnya untuk membuat sandiwara menjebakku? Bahkan kamu bisa bekerja sama dengan Lisa untuk membujukku agar mau ke klub itu. Kau juga mengatur Om Sentot agar aku mau melepas keperawananku. Kau masih bilang itu bukan lagi tanggung jawabmu?"

"Yang terjadi denganmu itu pengecualian. Aku memang merencanakan semuanya, tapi aku benar-benar ingin membantumu karena aku—"

"OMONG KOSONG!" ucapku ketus memotong kalimat Indra. "Lalu bagaimana dengan kelakuan bejatmu yang meniduri Tante Lauren?"

"I-itu ... Itu ...."

"Apakah menurutmu kau seorang pahlawan? Tidak, Ndra! Bagiku kau hanyalah seorang pecundang. Sekarang semuanya sudah terjadi, bahkan jika aku benar-benar di-DO dari kampus ini, penyebab utamanya adalah kau, Ndra!"

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"

"Dengan cara apa?"

Indra tak mampu menjawab pertanyaanku. Aku tak mau membuang-buang waktuku di tempat ini, semangatku untuk masuk kuliah sudah hilang. Aku segera berbalik dan berjalan meninggalkan Indra.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang