Bab 24 Terus Nggak Nih?

310 3 0
                                        


Tubuh Tante Lauren tiba-tiba merosot ke bawah, tanganku tak sempat menahannya. Namun tangannya berhasil meraih pinggang celanaku. Mungkin itu memang tujuannya, karena detik berikutnya, tangannya bergerak dengan lincah melepas sabuk di celanaku, membuka kancing dan menurunkan ritsletingnya.

Tanpa menunggu lama, kedua tangannya langsung menurunkan celanaku beserta celana dalamnya.

"Waow ....!"

Hanya itu yang keluar dari mulutnya yang membulat. Matanya melotot melihat benda besar kesayanganku yang berdiri sembilan puluh derajat dan berayun-ayun.

"Jangan, Tante!" cegahku saat tangan kanan Tante Lauren menggenggam batang keperkasaanku dan mengarahkan ke mulutnya.

"Kenapa?" tanyanya.

Aku menarik tangannya agar melepaskan burungku, lalu duduk di lantai yang beralaskan permadani mewah agar sejajar dengannya.

"Bukankah Tante yang menginginkan kehangatan? Jadi, biarkan Indra yang akan memberimu kepuasan."

Tante Lauren mengangguk. Tangannya bergerak agar aku meluruskan kaki dan menyandarkan tubuh pada sofa. Ia lalu berdiri mengangkangiku menempelkan pangkal pahanya ke di wajahku.

"Gigit kacangku, Ndra!" pintanya.

Aku pun langsung melahap benda mungil itu. Mungkin benar, selama ini Tante Lauren tak pernah disentuh oleh Om Sentot. Buktinya dia langsung bergerak-gerak liar agar seluruh organ intimnya terjamah oleh lidahku. Tak butuh waktu lama, seluruh mulut rahimnya sudah benar-benar basah.

Tante Lauren melambatkan gerakannya, sepertinya dia sudah hampir mencapai klimaksnya. Mungkin dia lupa bahwa aku bukanlah Om Sentot yang begitu memasukkan burung langsung crot keluar, jadi dia sengaja melambatkan ritme permainannya agar mendapatkan kenikmatan yang lebih lama.

Tanganku mendorong kedua pahanya, lalu menariknya agar turun dan duduk di pangkuanku. Awalnya ia melawan karna enggan melepaskan kenikmatan dari cumbuan bibirku, tapi bagaimanapun tenagaku lebih kuat darinya, dan ia pun menurut untuk duduk di pangkuanku.

"Mau aku masukkan sekarang?" tanyaku. Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung menuntun burungku, dan mengarahkannya ke dalam mulut gua.

"Ah." Desahannya nyaris tak terdengar karena mulutnya melongo saat burungku yang besar bersarang dalam rahimnya yang hangat.

"Fantastis!" ucapnya, ia lalu mengangkat pinggulnya dan menggerakkan naik turun menciptakan sensasi kenikmatan yang sudah lama ia idam-idamkan.

"A-aku keluar, Ndra!" raungnya bersamaan dengan bibir rahimnya yang bergerak-gerak seperti memijat burungku. Tante Lauren lalu terkapar lemas dalam pelukanku.

Aku menghela napas sambil membelai rambutnya. Sekejur tubuhnya basah oleh keringat.

"Kamu belum keluar, Ndra?" tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

"Tunggu tante ambil napas sebentar, ya! Setelah itu kita lanjutkan. Kau juga harus mendapatkan kenikmatan."

Tante Lauren berdiri dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Aku pun ikut berdiri membetulkan celanaku, lalu berjalan ke arah toilet yang ada di lantai bawah.

"Padahal aku masih belum apa-apa, kenapa tante Lauren cepat sekali keluar?" gerutuku sambil mencuci burungku setelah buang air kecil.

"Mungkin dia baru merasakan lagi rasanya berhubungan badan setelah sekian lama tak dijamah," hiburku dalam hati. "Seharusnya aku memberinya sedikit pemanasan agar tak cepat keluar."

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang