Bab 34 Dalam Penyelidikan

34 1 0
                                        

Aku tidak mengatakan apa yang baru saja aku lihat barusan pada Gio. Bahkan aku menolaknya saat dia mengajakku ke pusat perbelanjaan untuk membelikanku ponsel baru.

"HP kamu udah butuh, kita beli yang baru saja!" ajak Gio.

"Enggak usah, ponselku masih bisa dipakai, kau simpan saja uangmu kalau-kalau ada keperluan mendadak nanti," tolakku.

"Udah, lah! Masalah duit kamu enggak usah pikirin. Biaya kuliah, sewa apartemen bahkan biaya hidupmu sehari-hari, biar aku yang tanggung. Kalau perlu, kau tinggal di rumahku saja."

"Bukan itu masalahnya, aku harus kembali ke kampus karena ada mata kuliah wajib yang tidak mungkin bisa aku tinggalkan."

Aku kehabisan alasan untuk bisa menolak ajakan Gio. Jika aku bilang ingin kembali ke apartemen, dia pasti akan mengantarku sampai rumah. Itu akan menyulitkanku untuk bisa kembali lagi ke kampus dan mencari tahu apa yang sebenarnya Lisa lakukan.

"Kau mau kembali ke kampus? Buat apa? Mau nyari Indra? Mau lihat keadaan dia?"

Sebenarnya itu juga salah satunya, tapi aku tak mungkin mengatakannya pada Gio. Bukan karena aku takut. Aku tak mau Gio semakin brutal saja jika Gio nanti tahu, aku ingin menyelidiki Lisa dan Indra.

"Pikiranmu ngaco, deh! Kamu tahu aku open BO buat apa? Buat tetap kuliah. Sekarang aku sudah menjual tubuhku demi bisa kuliah, apa kau mau aku juga mengorbankan kuliahku juga?" ucapku tajam.

"Baiklah! Tapi kalau nanti di kampus ada apa-apa, cepat hubungiku aku."

Gio memutar kembali mobilnya ke arah kampus. Tapi aku tak mau kehadiranku menarik perhatian, bisa saja Lisa atau pun Indra atau teman-teman lain yang sempat melihat foto vulgarku masih mengenaliku.

"Turunkan aku di sana saja, Gio!" perintahku ketika berada di tempat sepi dan hanya tinggal beberapa meter dari tempat tadi.

"Kenapa?"

"Di sebelah sana ada jalan khusus pejalan kaki untuk bisa masuk ke dalam kampus. Lagi pula, kau tak mau aku bertemu Indra, kan?"

Sepertinya alasanku diterima oleh Gio. Dia segera melambatkan mobilnya dan menurunkan aku di tempat yang aku tunjuk tadi.

"Kalau kau sudah mau pulang, kabari aku. Biar nanti aku menjemputmu." Gio menekan tombol buka kunci pintu mobil agar aku bisa membukanya dengan mudah. Namun aku tak segera keluar, mataku justru tertuju pada kaca mata hitam dan topi bertuliskan NY yang tergeletak di atas dasbor mobilnya.

"Hari ini sepertinya terik banget, aku pinjam topi dan kaca mata hitammu ya?"

Sebenarnya bukan kaca mata hitam. Itu adalah kaca mata photocromic yang bisa berubah warna menyesuaikan cahaya. Jika berada di tempat yang intensif cahayanya tinggi, akan berubah menjadi hitam. Namun saat di tempat yang minim cahaya atau di dalam ruangan, akan berubah kembali menjadi transparan. Jadi jika aku memakainya, tidak akan terlihat mencolok.

"Pakai saja!" ucap Gio tanpa menanyakan hal yang macam-macam. Aku segera mengambil dua benda itu lalu keluar dari dalam mobil.

Sepeninggal Gio, aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada yang melihatku. Aku bergegas menggulung rambutku, dan memasukkannya ke dalam topi yang aku pakai. Ditambah dengan kaca mata hitam, aku berasa seperti seorang agen FBI yang sedang menyamar untuk melakukan penyelidikan.

"Sempurna!" gumamku melalui layar kaca ponselku yang aku jadikan cermin untuk melihat penampilanku. Untung hari ini aku memakai celana bahan yang panjang dipadu dengan kemeja. Jadi penyamaranku sebagai seorang laki-laki lumayan sempurna kecuali dua payu dara yang menonjol di dadaku.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang