Bab 37 Hasrat yang Pecah

116 2 0
                                        

Aku menggigil dalam ketakutan. Apa dan siapa orang yang membekapku, memaksaku berbaring berimpit-impitan dengannya di atas jok tengah mobil. Rasanya aku ingin berontak, melepaskan pelukannya dan lari sejauh-jauhnya.

Namun, tiga orang anak buah suruhan Om Sentot masih berada di sekitar mobil. Tak ada apa pun yang bisa membuatku untuk tak percaya dengan orang yang membekapku ini. Namun hanya ini pilihan yang bisa aku percaya.

"Ketemu enggak, To!" Aku masih bisa mendengar orang-orang itu berada di sekitar mobil tempat kami bersembunyi. Sesekali aku beranikan diri untuk mendongak, melihat mereka yang bersandar di badan mobil yang aku naiki. Beruntung kaca mobil ini dilapisi kaca film yang membuat mereka tak bisa melihat ke dalam.

"Enggak ada, Bang! Kayaknya wanita jalang itu tidak ke sini. Aku sudah menyisir seluruh area parkiran ini. Tapi tidak ketemu."

"Lu udah tengok kolong-kolong mobil belum?"

"Udah, Bos!" jawab lelaki yang lain. "Tapi kayaknya memang dia tidak ke sini. Kita salah lihat kayaknya tadi."

"Hm ... Sejauh ini belum ada mobil yang keluar. Kalau pun dia keluar, pasti bos Sentot yang berjaga di depan pintu masuk yang hanya satu di gedung ini, bisa menangkap wanita itu. Jadi ... Kemungkinan wanita jalang itu pergi ke lantai atas melalui tangga darurat."

"Wah ... Bener juga. Kita juga belum memeriksa toilet. Mungkin dia bersembunyi di dalam kamar mandi."

"Cepat kita kembali ke atas. Kita harus menemukan wanita itu.'

Aku mendengar langkah kaki mereka menjauh. Untuk beberapa saat, orang itu masih belum melepaskan bekapan tangannya.

Perlahan-lahan, orang itu melepaskan tangannya dan duduk. Aku sendiri masih meringkuk dilanda ketakutan. Aku belum tahu, apakah orang ini benar-benar ingin menolongku, atau justru salah satu dari mereka.

"Mereka sudah pergi, untuk sementara kau sudah aman."

Aku menoleh menatap wajah lelaki yang duduk dalam satu mobil bersamaku. Suaranya seperti aku kenal. Aku pun mencoba duduk bersebelahan dengannya. Di dalam mobil dengan cahaya yang minim setengah gelap, aku bisa melihat wajahnya yang masih terlihat lebam.

Lelaki itu memalingkan wajahnya, menghindari tatapanku yang terus memperhatikannya.

"A-aku sudah tahu semuanya, Ndra!" ucapku terbata-bata. Pelan namun cukup untuk dia dengar. Tapi Indra sepertinya tak mengacuhkanku. Dia melepas sweter berleher panjang yang ia kenakan, dan memberikannya padaku.

"Pakailah sweter itu, akan sedikit membantu untuk membuat mereka tak mengenalimu. Kau bisa pergi sekarang, sebelum orang-orang itu kembali ke tempat ini."

Ucapan Indra terdengar datar. Aku melirik ke arah perutnya yang telanjang. Bekas tendangan Gio menyisakan warna biru kehitam-hitaman di atas permukaan kulit perutnya.

"Aku sudah tahu segalanya, Ndra! Yang terjadi antara kau dan Gio a–"

"Aku tak mau membahas itu lagi, Cintya!" Indra menoleh kembali ke arahku, tatapannya begitu tajam. Tapi dari dalam mata itu, aku melihat ada luka di hatinya.

"Mungkin Gio sudah menceritakan semuanya padamu. Untuk saat ini, kesembuhan mamaku adalah yang paling penting bagiku. Aku rela kehilangan apa pun, selama mamaku bisa kembali seperti dulu lagi."

Aku bisa memahami apa yang dirasakan Indra. Saat dia masih kecil, dia harus kehilangan kasih sayang mamanya yang depresi saat kehilangan adiknya. Aku bisa membayangkan hari-harinya, tumbuh dewasa bersama seorang mama yang sakit-sakitan, yang tak memedulikannya karena penyakitnya. Bahkan saat mamanya bisa sadar, dia harus kehilangan segalanya termasuk kasih sayang mamanya yang berpindah untuk adik palsunya. Gio.

"Aku minta maaf untuk semua hal yang pernah aku lakukan padamu, Cintya!" ucap Indra lirih. "Aku memang merencanakan untuk membeli keperawananmu, tapi ... Selebihnya di luar kendaliku."

Hatiku seperti teriris-iris mendengar pengakuannya. Indra memang tak sepenuhnya bersalah. Tanpa rencananya pun, aku memang sudah berencana menjual keperawananku. Mungkin yang membuatku tak terima adalah saat mendengar cerita, bahwa dia juga meniduri mamanya Gio. Tapi hal itu juga di luar kemauannya. Itu adalah sebagian dari rencana Om Sentot sendiri. Dan kalau dipikir-pikir. Jika Om Sentot memang menuruti semua perintah Indra, mana mungkin dia melecehkanku saat pertama kali aku menemuinya. Jadi ... Sebenarnya biang dari masalah ini adalah Om Sentot.

"Aku sudah tidak seperti dulu lagi." Indra melanjutkan kata-katanya. "Mungkin aku tidak bisa menjagamu seperti harapanku saat pertama kali melihatmu. Jadi ... Kau harus hidup dengan baik Cintya! Jangan kau lakukan hal bodoh lagi."

Indra menarik napas dalam-dalam dan mengentakkan seperti ingin membuang semua permasalahan dalam hidupnya. "Semua hak dan kekayaan yang aku miliki, semuanya sudah aku serahkan kepada Gio. Mungkin setelah hari ini, kita tak akan bertemu lagi."

Separuh hatiku seperti lepas dari dadaku. Ada perasaan kehilangan yang sangat kuat mengoyak-mengoyak jantungku. Indra yang beberapa hari baru aku kenal, mengatakan akan pergi dariku. Meninggalkan banyak kesalahpahaman yang belum terselesaikan. Dan jiwaku ... Belum siap untuk menerima semua itu.

"Sekarang aku rasa kau sudah aman, pulanglah!"

Ucapan terakhir Indra terdengar sangat menyakitkan. Dia seperti mengusirku. Tak menginginkanku. Dan aku tidak menerima itu.

Saat lelaki itu menunduk, entah ada dorongan dari mana yang membuatku seperti punya kekuatan untuk beringsut mendekatinya. Saat dia menyadari dan mengangkat wajahnya. Aku memeluk tubuhnya dengan agresif, mendaratkan bibirku di bibirnya.

Kedua tangan Indra berusaha mendorong tubuhku untuk menjauhkan dari tubuhnya. Tapi kedua tanganku telah melingkar di lehernya dan tak mau melepaskan pagutan bibirku.

Awalnya bibir Indra terasa dingin. Dia sama sekali tak membalas seranganku, tapi aku tak mau menyerah, mulutku terus menyesap bibirnya, menarik-nariknya agar masuk ke dalam mulutku, lalu memainkannya dengan lidahku.

Dorongan tangan Indra yang menolak tubuhku mulai melemah, ia bahkan melingkarkan ke pinggangku. Seperti tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku segera melangkah dan duduk di atas pangkuannya.

"Apa yang kau lakukan, Cintya?" Indra berhasil melepas pagutan bibirku saat aku bergerak naik ke atas pangkuannya. "A-aku ...."

Aku tak membiarkan Indra berkata-kata lagi, bibirku kembali menyambar bibirnya. Berbeda dengan sikapnya tadi, kini Indra membalas pagutan bibirku. Lidahnya mulai menjulur-julur, menyambut lidahku yang sudah berada di dalam mulutnya.

Mungkin aku benar-benar sudah gila. Aku merasa seperti seorang wanita yang telah lama kehilangan belahan jiwanya, begitu bertemu, ingin memberikan semua duniaku untuknya. Aku lebih agresif menggoda lelaki yang ada di pelukanku sekarang ini. Tanpa dia meminta, aku membuka semua kancing bajuku, menurunkan BH-ku.

Aku mendorong kepala Indra agar melepas pagutan bibirnya, lalu menarik kembali mengarahkan ke dalam dadaku. Memberikan salah satu buah dadaku, dan membiarkan bibirnya mulai memainkannya.

"Lakukanlah sesukamu, Ndra! Milikilah tubuhku! Tapi jangan pernah pergi dari sisiku."

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang