"Tamat sudah hidupku," gerutuku. Aku berjalan dengan cepat keluar dari restoran itu mengabaikan nada protes dari pelayan restoran.
Teriakan Lisa dan panggilan geram Om Sentot pun tak aku hiraukan. Aku tahu mereka pasti mengejarku. Dan jika aku sampai tertangkap oleh mereka, itu bukan hal yang baik. Dari cara mereka mengadu domba Indra dan Gio, jelas-jelas mereka tipikal orang yang akan melalukan apa saja demi mencapai tujuan mereka. Membunuhku salah satunya.
Sekuriti restoran yang aku lewati belum menyadari peristiwa yang terjadi di dalam, mereka hanya bengong saat aku berjalan tergesa di depan mereka.
"Maliiiing!"
Teriakan Lisa dan Om Sentot yang berlari di belakangku, sontak membuat dua sekuriti yang aku lewati tadi terbengong untuk beberapa saat. Pandangan mereka langsung tertuju ke arahku yang langsung setengah berlari keluar dari kompleks restoran itu.
Sering kali, kekuatan massa itu lebih besar dari pada kebenaran. Sekali pun aku tidak melakukan apa yang mereka teriakkan, mencuri atau mengambil apa pun dari dalam restoran, teriakkan 'Maling' yang ditujukan padaku membuat sekuriti dan beberapa pengunjung mengejarku.
Dengan sedikit ucapan provokasi, massa bisa saja langsung menghakimiku tanpa mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Aku pasti akan menjadi bulan-bulanan tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya. Dan baik Lisa maupun Om Sentot, tahu akan hal itu. Mereka memanfaat keadaan untuk bisa menangkapku.
Aku berlari menyeberang jalan, mencari tempat keramaian untuk menghindari kejaran mereka. Ini adalah jalan protokol. Jangan berharap ada ojek, ataupun angkot yang bisa diberhentikan sembarangan. Kalau pun aku nekat mencegat taksi, itu justru akan menjadi peti mati buatku karena mereka lebih mudah mengejarku.
Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah mencari tempat keramaian, berbaur dengan orang-orang, bersembunyi, lalu mencari waktu yang tepat untuk meninggalkan tempat ini secepatnya tanpa diketahui oleh mereka.
Bangunan-bangunan sepanjang jalan ini hanya ada perkantoran dan ruko-ruko yang sangat sulit untuk aku jadikan tempat untuk sembunyi. Satu-satunya bangunan yang bisa aku andalkan menghindari mereka adalah sebuah supermarket bahan bangunan terkenal yang sangat rame. Ace Hardware.
Bangunan ini hanya berjarak tiga gedung dari tempat aku berada saat ini. Selain bangunannya besar, gedung itu ramai dan memiliki tempat parkir yang luas yang berada di lantai basemen.
Aku menoleh ke belakang sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam gedung itu. Dua sekuriti masih terus membuntutiku, sementara Om Sentot memberi instruksi kepada 3 orang laki-laki bertubuh besar yang sepertinya baru saja datang.
Ya ... Bukan hal yang mustahil. Sebagai pengelola tempat hiburan, Om Sentot pasti punya banyak anak buah yang rata-rata seorang preman. Bukan hanya terlihat seram, tapi mereka terkenal sangat kejam.
Aku melepas topi dan kaca mata hitam yang aku kenakan saat memasuki gedung itu. Kedua benda itu sudah tak berguna bagiku. Bahkan jika aku terus memakainya, akan menjadi ciri yang membuatku mudah dikenali. Rambut panjangku kubiarkan tergerai saat aku mulai membaur dengan pengunjung. Sambil sesekali menoleh ke arah orang-orang yang mengejarku, aku terus menyelinap mencari jalan keluar yang lain dari gedung itu.
Tepat di depanku ada eskalator. Tangga berjalan itu bergerak dua arah berlawanan, satu menuju ke lantai atas dan satu lagi menuju ke basemen yang akan membawaku ke area parkir gedung itu. Tentu saja aku mengambil opsi yang kedua.
Jika aku naik ke atas, akan sulit bagiku untuk mencari jalan keluar, namun jika aku pergi ke basemen, ada harapan akan ada jalan keluar yang akan membawaku lepas dari situasi ini. Meski, mungkin hanya sebatas saat ini.
Aku merunduk di antara mobil-mobil sedan yang terparkir. Ini tidak akan menguntungkan. Aku harus mencari mobil yang lebih tinggi, yang bisa menghalangi pandangan orang-orang yang mengejarku. Karena terakhir aku menoleh ke belakang, mereka masih melihatku dan ikut menuruni eskalator yang aku lewati tadi.
Aku bersandar pada mobil sejenis minibus dengan desain pintu yang digeser di samping. Vellfire. Selain bodinya besar, mobil yang cukup tinggi dengan kaca mirror ini bisa melindungiku dari tatapan tajam tiga orang preman yang masih mengikutiku. Kedua sekuriti restoran tadi mungkin sudah disuruh kembali. Yang tersisa hanyalah 3 orang ini yang menjadi anak buah Om Sentot.
Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku tertangkap oleh mereka. Entah apa yang akan dilakukan Om Sentot. Menelanjangiku, memutilasiku, memasukkan tiap potongan tubuhku ke dalam kardus lalu membuangnya ke kali atau Bantar Gebang.
"To! Ganjel, To! Ganjel!" Samar, teriakan salah satu preman suruhan Om Sentot memberi instruksi. Entah pengaruh rasa takut atau efek kebanyakan nonton TikTok. Suara itu mirip video yang lagi viral.
"Lu ke sana, biar gua nyari di sebelah sini. Wanita jalang itu pasti masih sembunyi di sekitar sini."
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhku. Pada deretan sebelah kiriku, lelaki botak berkulit hitam, tengah menyisir di antara deretan mobil. Sementara pada deretan sebelah kanan, lelaki dengan bibir yang tebal, juga tengah berjalan menuju ke arah tempat persembunyianku.
"Matilah, aku!" jerit hatiku dengan sekujur tubuh yang gemetaran. Aku menahan napas seolah tak inginembuat gerakan sekecil apa pun yang bisa memancing oerhatian mereka. Remang cahaya area parkir, membuat situasi yang aku alami saat ini, menyerupai adegan dalam film-film thriller.
"Coba lu intip dari kolong mobil! Kalau pun kita tidak bisa melihat tubuhnya, pasti kakinya bisa terlihat dari bawah."
Sial! Bisa juga mereka berpikir seperti itu. Mau tak mau aku harus mengangkat kakiku, atau meluruskannya dengan roda. Kalau perlu aku harus naik ke atasnya.
Aku bergeser agar kakiku terlindungi di antara roda mobil yang aku jadikan tempat persembunyian. Dari balik mobil itu, aku melihat lelaki dengan bibir tebal telah menghunus belati di tangannya. Dia berjarak tiga mobil dariku. Semakin lama, jaraknya semakin dekat. Satu langkah lagi, dia akan berada lurus denganku, dan sudah dapat dipastikan, dia akan melihat keberadaanku.
"Semoga dia tak menoleh ke arahku." Satu baris pengharapan, terlintas dalam hatiku. Aku tidak mengatakan itu sebuah doa. Aku merasa sudah sangat jauh dari agama, jadi sisa-sisa napas yang tersisaku ini, hanya sebuah harapan untuk bisa diberi kesempatan memperbaiki dosa-dosa yang pernah aku lakukan.
Aku tidak mendengar suara apa pun, hanya langkah kaki orang-orang itu yang terus mendekatiku. Dan aku nyaris berteriak, ketika tiba-tiba sebuah tangan membungkam mulutku dari belakang. Aku berusaha meronta, tapi tangan itu terlalu kuat mencengkeramku. Pintu mobil Vellfire dengan desain sliding door yang menjadi tempat persembunyianku, tiba-tiba telah terbuka separo. Lalu tangan yang membungkamku itu menarik tubuhku masuk ke dalam mobil secara paksa seiring dengan tertutupnya pintu mobil secara otomatis.
"Jangan berontak dan jangan bersuara. Atau orang-orang itu akan mengetahui keberadaan kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
Fiksi UmumWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
