Bab 17

1K 7 0
                                        

Satu jam sebelum waktu yang ditentukan, aku sudah berangkat dari rumah kosku yang terletak di kawasan Pluit, Jakarta utara. Jika lalu lintas lancar, diperkirakan butuh tiga puluh menit untuk sampai di apartemen tempat 'pemesanku' tinggal. Ini job pertamaku, aku tak mau mengecewakan pelanggan, terlebih jalur yang akan aku lewati nanti merupakan jalur padat.

Taksi online yang membawaku langsung berhenti tepat di depan lobi apartemen tower 3 Mediterania. Grogi? Tentu saja. Meski aku sudah berusaha tak mengacuhkan orang-orang yang melihatku saat berpapasan, tapi tetap saja, tatapan binal mereka seperti sudah bisa mengenali apa profesiku. Mungkin cara berpakaianku terlalu norak, memakai rok pendek merah muda di atas paha dipadu blus putih yang semi transparan senada dengan kutang yang aku kenakan.

"Langsung saja naik!"

Begitu bunyi pesan yang dia kirim melalui aplikasi chat sesaat sebelum aku turun dari mobil. Jadi, saat aku melalui meja petugas keamanan, aku hanya mengangkat alisku sambil terus berjalan menuju lift yang akan membawaku langsung ke kamar apartemennya. Sampai saat ini, aku belum tahu nama orang yang memesanku, apakah dia masih muda atau om-om, bisa juga dia seorang aki-aki yang sudah sekarat. Ini yang aku harapkan, karena aku tak perlu bekerja keras untuk memuaskan nafsunya.

Lift yang aku naiki sudah berada di lantai 10, tinggal mencari nomor kamarnya. Dalam pesan chatnya, dia berada di nomor 1022, artinya alamat kamar apartemennya berada di lantai 10 nomor 22. Aku tidak terlalu kesulitan menemukan nomor itu. karena dalam satu lantai, hanya terisi oleh empat kamar. Aku bahkan tak habis pikir, kenapa pakai nomor 22, padahal hanya empat kamar dalam lantai itu. kenapa tidak ditulis saja 1, 2, 3 atau 4. Entahlah, mungkin itu hanya trik pemasaran agar jumlah kamarnya terdengar banyak, atau ... memang angka-angka itu membawa hoki tersendiri bagi pemiliknya.

Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku ketika sudah sampai di depan pintu kamarnya menunggu sang pemesan membukakan pintu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.55 dan aku datang 5 menit lebih cepat dari waktu yang ditentukannya. Tak berapa lama, pintu itu terbuka. Seorang lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah sepenuhnya putih, berdiri membukakan pintu. Tubuhnya yang tinggi kurus hampir melampaui ketinggian pintu apartemen yang berukuran dua meter.

"Masuk dan duduklah sebentar," ucapnya tanpa ekspresi. Dingin dan datar. Dia langsung membalikkan badan dan kembali ke meja kerjanya yang terletak hanya beberapa meter dari kursi sofa ruang tamu. "Jangan lupa tutup kembali pintunya dan kunci."

Aku melakukan seperti apa yang diperintahkan lelaki tua itu, lalu duduk di sofa ruang tamu yang remang. Entah dia sengaja melakukannya atau bagaimana, yang jelas tatapan mata lelaki itu kembali ke depan komputer yang ada di depannya, seolah-olah dia tak terlalu peduli dengan kehadiranku.

"Kalau kau haus, ambil minum sendiri saja. Kau bisa memilihnya di lemari es." Lelaki itu mengangkat tangannya tanpa menoleh ke arahku, menunjuk kulkas yang berada di dapur ruangan itu. Ruang apartemennya tidak terlalu besar, pun tidak terlalu kecil. Ketika aku masuk ke dalam ruangan, yang pertama aku lihat adalah ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang untuk menonton TV. Karena aku bisa melihat layar LED beser tertanam di dindingnya tepat di depan sofa yang aku duduki. Sementara ruang tengah diisi meja makan yang menyatu dengan meja kerjanya yang diatur menempel pada dinding. Sedang pada bagian paling ujung, ada dapur kecil yang dirancang menyerupai meja kafe. Untuk kamarnya sendiri ada dua ruang yang saling berhadap-hadapan terpisah kamar kecil yang mungkin disediakan untuk tamu. Karena biasanya kamar utama dalam apartemen pasti sudah dilengkapi kamar mandi di dalam.

Aku memberanikan diri untuk mengambil air minum di lemari es. Saat aku melewati dan berjalan di belakangnya, aku sempat melirik apa yang sedang dia lakukan dengan layar komputer di depannya. Tidak begitu jelas apa yang aku lihat, karena sebagian layar terhalang oleh kepala lelaki itu. Tapi sepertinya dia sedang mengedit gambar, video atau sejenisnya. Aku tak terlalu memedulikannya. Mataku justru memperhatikan leher dan punggungnya.

Ya ... meskipun lelaki itu sudah tidak lagi muda, tapi bentuk tubuhnya masih terlihat kekar. Badannya yang kurus masih tetap terlihat tegap. Sangat jelas kalau dia menjaga kebugaran tubuh dan rajin berolahraga.

Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku untuk lebih aktif terhadapnya. Aku mengurungkan niatku untuk mengambil air minum dan justru berjalan mendekatinya. Kedua tanganku terangkat dan langsung aku letakkan di atas pundaknya lalu membuat gerakan pijatan kecil di sekitar punggungnya.

Lelaki itu sedikit kaget. Sontak dia menghentikan konsentrasinya dengan melenturkan tubuh menerima pijatan dariku.

"Kamu orangnya agresif juga ya?" ucapnya menggerakkan kepala mencoba meregangkan otot lehernya. "Tapi aku suka wanita seperti itu, Cinta!"

"Cintya, Om! Namaku Cintya, bukan Cinta!" Aku semakin bersemangat memijit punggungnya begitu mendengar pujiannya.

"Oh ... Cintya. Itu nama asli? Apa nama panggilan?"

"Asli Om."

"Oh ... kirain hanya nama panggilan. Biasanya wanita sepertimu tidak memakai nama asli. Biasanya mereka menggunakan nama panggilan."

Benar juga yang dikatakan lelaki tua ini. Aku seharusnya tak memakai nama asli, tapi aku belum menyiapkan nama panggilan untuk profesiku. Kentara sekali kalau aku benar-benar orang baru di dunia ini.

"Ya ... tapi enggak apa-apa, itu artinya kau memang benar-benar baru di dunia seperti ini." Lelaki itu memutar kursinya sehingga posisi badannya berbalik. Sekarang wajah kami berhadap-hadapan. Ya ... lelaki itu memang terlihat tua, terlihat dari kerut di garis matanya. Namun kerutan itu tak bisa menyembunyikan ketampanan wajahnya. Aku yakin, saat dia masih muda pastilah dia sosok yang tampan.

"Iya, Om!" jawabku sambil menunduk, tangan lelaki itu meraih tangan kananku dan meremasnya perlahan.

"Jangan panggil, Om! Panggil saja aku Opa!" ucapnya sambil berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi membuat dia harus sedikit memiringkan kepalanya agar lebih dekat dengan tubuhku. Jantungku bergemuruh meski aku sudah menyiapkan hati jika dia langsung menyentuhku.

Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Tangan kirinya yang semula menggenggam tangan kananku kini terlah berpindah melingkar di pinggulku. Napasku tersengal-sengal, sedotan bibirnya begitu kuat melumat bibir bibiku. Aku masih berusaha sekuat tenaga agar tak terpancing oleh birahi yang mulai ia bakar.

"Bibirmu gurih," seringai Opa setelah melepas kecupannya. Dia menggunakan kata pujian yang jarang sekali aku dengar. Biasanya orang lebih memilih kata 'Manis' untuk menggambarkan bibir, tapi dia lebih memilih menggunakan kata 'Gurih'.

"Memangnya bibir Cintya gorengan, Opa?" jawabku tak bisa menahan senyum.

"Nah begitu, dong! Senyum! Dari tadi Opa lihat kau sangat tegang." Lelaki tua yang ingin aku panggil Opa itu mencoba berkomunikasi denganku dengan santai. Aku bisa merasakan sikapnya yang memang tidak beringas. Namun penilaianku kembali berubah ketika tiba-tiba Opa menarik tubuhku dan mendekapnya. Tarikan tangan dan benturan tubuh kami membuat keseimbangan kami sedikit goyah. Opa jatuh terduduk di atas kursinya kembali dengan posisi tubuhku yang masih berada dalam pelukannya.

Namun keadaan itu sepertinya sudah diperhitungkannya, dia langsung melengkungkan kepala dan mendaratkan bibirnya di leherku. Jantungku masih berdegup kencang karena tarikan tangannya yang tiba-tiba itu. Kini di tambah dengan serangan bibirnya di daerah rawan di leher bawah telingaku.

Aku menggelinjang geli. Seluruh bulu romaku sontak berdiri. Kini kedua tangan Opa bergerak menarik pahaku dan mengangkatnya. Seperti bisa membaca gerakan itu, aku mengikuti tarikan tangannya dan mengangkat bokongku untuk duduk di pangkuannya.

Tangan kiri Opa kembali merangkul punggungku menahan agar aku tak terjungkal ke belakang, sementara tangan kanannya sudah menyusup ke dalam blus menyingkap beha yang menutup buah dadaku dan mulai meremas benda itu dengan sangat lembut.

Open BOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang