"Ngomong-ngomong, kenapa bisa kebetulan kau berada di tempat orang-orang itu mengejarku?" tanya Cintya menatapku penuh selidik.
Aku menggeleng memberinya isyarat untuk turun. "Nanti aku ceritakan setelah kita di dalam. Sebentar lagi gelap. Aku harus menyalakan lampu dan tentu saja mandi." Cintya mengangguk setuju.
Kami memasuki sebuah ruko berukuran 6x10 meter yang masih aku biarkan kosong di lantai paling bawah. Rencananya, ruangan ini akan aku jadikan bengkel dan mungkin satu atau dua buah etalase untuk menyimpan sparepart. Untuk lantai dua, aku hanya menyekatnya membagi antara kamar dan ruang terbuka untuk menonton TV. Tidak ada kursi ataupun sofa, aku hanya mengalasi lantainya dengan karpet dan menambahkan kasur lipat untuk bersantai. Untuk kamar sendiri, hanya kasur busa tebal tanpa adanya ranjang.
"Kamar mandi ada di dalam kamar, kau bisa mandi terlebih dahulu kalau kau mau." Aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur lipat. Kedua tanganku aku jadikan sebagai alas kepala. Cintya bergeming untuk beberapa saat sebelum akhirnya duduk di sebelahku.
"Kok malah duduk?" tanyaku heran.
"Terus aku disuruh telanjang setelah mandi?"
Aku tersenyum mengerti. Tentu saja dia tidak membawa handuk maupun baju ganti, bagaimana aku bisa begitu bodoh menyuruhnya untuk mandi?
"Kalau kau mau," jawabku sambil tersenyum, lalu menggapai pinggul dan memeluknya. Dia masih dalam posisi duduk, sementara aku pun masih dalam posisi merebahkan tubuhku di belakangnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi. Tidak mungkin ini secara kebetulan, Ndra."
"Anggap saja kita berjodoh," jawabku sekenanya. Cintya justru bergelayut manja dengan menyandarkan punggungnya ke tubuhku.
"Terus saja enggak mau terus terang, aku mah biasa dibohongi sama kamu," sindir Cintya.
Aku terkikik mendengar suaranya yang merajuk. Tanganku lalu bergerak nakal, menangkup daerah pangkal pahanya yang terbuka. Aku pikir dia akan menggerakkan tangannya dan menepis tanganku. Tapi tangannya memang bergerak, lalu menaruhnya di atas tanganku seolah membiarkan tanganku tetap berdiam di situ. Dia bahkan merentangkan kedua pahanya agar telapak tanganku leluasa berada di atas daerah vitalnya.
Aku mengecup tulang belakang Cintya. "Jadi ... sebenarnya aku juga sudah curiga dengan Lisa. Saat dia berada di kampus waktu kejadian tadi pagi, dia orang yang paling ngotot agar aku melaporkan Gio. Aku padahal sudah menjelaskan padanya, kalau urusanku dengan Gio tidak sebatas urusan pribadiku dengannya. Aku harus memikirkan perasaan mama kalau aku sampai melakukan hal itu."
"Lalu?"
"Ya ... aku langsung ninggalin Lisa dan pergi ke poliklinik kampus. Kebetulan ada dokter jaga yang merupakan kenalanku, dia juga yang dulu menolongku saat aku hampir mati dihajar Gio, lalu dia juga memberikan hasil tes pada botol minuman yang diberikan oleh Lisa saat aku akan pergi ke rumah Om Sentot. Ada senyawa Sildenafil dalam air minum itu."
"Sildenafil? Semacam obat perangsang ya?"
Aku mengangguk lalu melanjutkan ceritaku. "Aku langsung keluar dari poliklinik kampus untuk minta penjelasan pada Lisa. Saat itu aku mendengar klakson panjang dari mobil yang dikendarai Om Sentot, aku menoleh ke arahnya. Dan benar saja, Lisa sedang masuk ke dalam mobil itu. Aku tahu, pasti ada yang tidak beres antara mereka berdua. Jadi aku menelepon sopir rumah untuk membawakan mobil dengan alasan akan aku pakai untuk belanja kebutuhan, makanya aku memarkirkannya di gedung Ace Hardware. Sedang motorku sendiri, sampai saat ini masih berada di kampus."
"Oke, kalau dia menjebakmu, aku masih bisa mengerti. Tapi kalau dia menjadikan Tante Lauren sebagai umpan. Itu yang aku tidak mengerti. Bahkan ... Bu Saodah juga ikut andil untuk menjebak Gio."
"Gio lagi, Gio lagi," protesku. Lelaki mana yang tidak merasa sakit hati jika wanita yang dicintainya selalu menyebut-nyebut nama lelaki lain, meskipun itu adalah adik kita sendiri. "Kau suka sama Gio?" tanyaku sedikit cemberut.
Cintya menoleh ke arahku dengan posisi tubuh yang masih duduk membelakangiku yang berbaring melingkarkan badan dengan tangan kanan masih tenang memegang pangkal pahanya.
"Apakah yang telah aku berikan kepadamu masih kurang, Ndra?" tanya Cintya terdengar serius.
"Aku selalu merasa kurang untuk hal yang satu ini," ucapku sambil mengusap telapak tanganku yang berada di pangkal pahanya. Cintya menggeliat sebentar sambil tangannya menahan tanganku. Aku semakin kencang menangkupkan telapak tanganku.
"Kau pasti akan mendapatkan semuanya, Ndra. Ini milikmu. Jadi ... kau tak perlu khawatir aku akan jatuh hati terhadap Gio, lagi pula, aku menganggapnya hanya seperti adikku sendiri. Tidak lebih."
Untuk beberapa waktu, kami terdiam sesaat. Aku percaya dengan ucapan Cintya.
"Apakah kau tidak merasa ada yang janggal dengan rencana mereka?"
"Maksudmu?"
"Seperti yang aku bilang tadi, bisa-bisanya Om Sentot menggunakan Tante Lauren untuk menjebakmu. Bu Saodah juga ikut andil untuk menjebak Gio. Dari yang aku dengar, Om Sentot mengatakan ...." Cintya terdengar ragu untuk meneruskan.
"Mengatakan apa?"
"Dia ingin menghancurkan papamu dengan mengadu domba anak-anaknya. Kau dan Gio."
Aku menghela napas. "Ya memang bukan suatu yang mustahil. Secara logika Gio memang bukan anak Om Sentot, namun dengan menghasut Gio agar menguasai harta papaku, Om Sentot punya peluang untuk menguasai semuanya mengingat usia Gio yang masih sangat muda. Kenapa dia memakai Tante Lauren untuk menjebakku? pasti ia lakukan agar Gio membenciku sehingga meminta mama atau papa untuk tidak memberikan hartanya padaku. Dan itu memang terjadi, kan?"
"Konyol banget Om Sentot itu," geram Cintya. "Tapi ... kenapa Bu Saodah juga terlibat ingin menghancurkan Gio dengan mencekokinya obat perangsang?"
"Aku belum memikirkan sampai sejauh itu. Mungkin Bu Saodah juga ingin bisa mengendalikan Gio. Jadi dalam hal ini Gio dan Tante Lauren juga hanya sebatas korban yang diperalat oleh Bu Saodah dan Om Sentot. Kau harus ingat, mereka adalah pasangan suami istri, sementara Tante Lauren, hanya istri pura-pura Om Sentot."
"Tapi kenapa harus sampai berhubungan ba ... badan." Pada kata terakhir Cintya menekannya agak ragu-ragu. Aku tahu ucapannya itu berbalik pada dirinya sendiri.
Aku bangun dan duduk di belakang Cintya. "Untuk masalah ranjang, itu urusan pribadi Bu Saodah. Bukankah kau tahu kalau Om Sentot itu memang 'lemah'? bisa saja karena dia merasa tak puas dengan Om Sentot, makanya dia melampiaskan kepada Gio."
Cintya mengangguk seperti mengerti. Sebenarnya aku juga merasa ada kejanggalan yang belum bisa aku buktikan. Tapi untuk saat ini, biarlah aku sendiri yang akan menyelidiki.
"Sudah hampir malam, sebaiknya aku mandi dulu," ucapku seraya berdiri.
"Terus aku bagaimana? aku enggak bawa pakaian ganti." Cintya ikut berdiri.
"Untuk sementara kau bisa memakai pakaianku." Aku terus berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Wanita itu terus mengekor di belakangku.
"Oke, lah! Kalau handuk dan baju mungkin aku bisa berbagi denganmu, kalau BH dan celana dalam? Apa kau punya?"
Pertanyaan Cintya membuatku harus menghentikan langkah dan berbalik menatapnya. "Aku rasa malam ini kau tak perlu memakainya," ucapku seraya menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Apa yang akan kau lakukan, Ndra?" tanya Cintya tanpa berusaha melepas pelukanku.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu mandi bersama." Aku langsung mengangkat tubuh Cintya, dan membopongnya masuk ke dalam kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Open BO
General FictionWARNING!!! AREA 21++ Banyak adegan mengenakan yang membuat anumu berdiri. Bijaklah dalam membaca. Semua orang tidak ingin terlahir dalam kemiskinan. Namun, impitan ekonomi membuat Cintya harus menjual tubuh demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia semak...
