Hii prend, ketemu lagi nih!!.
Sebelum baca silahkan vote, komen, dan follow aku ya prend. Luv u
Happy reading!
.
.
.
---o0o---
Lisa termenung di kamarnya, memikirkan bagaimana kehidupannya tanpa bantuan ibu dan ayahnya. Bahkan bi Ijah sudah pergi.
Tanpa sadar dia menggigit jari kukunya resah,
Ting!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa lagi sih. " Lantas dia membuka aplikasi chatnya dan membalas pesan Jeno.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lisa berdecak sebal, lalu dia mengambil jaketnya karena di Seoul sedikit dingin hari ini.
Saat dia sampai di bawah, refleks kepalanya tertoleh ke arah ruang tamu.
"Pergi juga. " Sinisnya, lalu dia berlalu meninggalkan rumahnya untuk menemui Jeno.
.
.
Lisa sudah sampai duluan karena jarak dari rumahnya ke taman cukup dekat, dia menunggu Jeno sambil duduk di ayunan.
"Maaf, nunggu lama? " Kepala Lisa mendongak, melihat Jeno yang sudah di depannya.
"Duduk." Pinta Lisa sambil menunjuk ayunan disampingnya, Jeno pun hanya menurut.
"Ada perlu apa? " Tanyanya to the point.
"Gue yang nyebarin. " Sontak Lisa menoleh ke arah Jeno dengan bingung.
"Maksud lo? "
"Yang di mading kemarin, itu gue yang nempel. " Mata Lisa berkedip tak percaya.
"Oh, pantes. Gue kira lo sekongkol sama dia." Tebakan Lisa meleset, dia berbicara tanpa menatap Jeno.
