60 | Cute Girl

8K 781 271
                                        

H A I  !👋

— H A P P Y R E A D I N G —

***

Kedua matanya terus mengikuti kemana langkah kaki orang-orang itu berlalu, menggoyangkan kakinya yang tak menyentuh lantai dengan kedua tangan yang terangkat, seakan-akan ingin meraih bulan diatas sana. Elodie sendirian dan kesepian, maka Elodie ingin mengajak bulan agar terus bersamanya, agar bulan tak sendirian juga tak kesepian seperti dirinya.

Melakukan lompatan kecil agar bisa turun dari kursi besi yang duduki nya, Elodie pun melangkah lunglai menyusuri taman yang hanya disinari cahaya temaram dari beberapa lampu di pinggir jalan. Terkadang, Elodie ingin seperti ini terus, bisa bebas keluar mansion tanpa diawasi seketat itu.

Tapi Elodie juga kesepian ketika Ayahnya pergi ke luar negeri dan para Abang nya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tak ada teman yang seru selain Arxel yang kini mulai menjaga jarak darinya. Elodie menjatuhkan bahunya, memilih duduk diatas batu bulat pinggiran trotoar taman. Meluruskan kakinya dengan tatapan lurus kedepan.

"Memang terdengar murahan, tapi hanya cara ini yang tak akan pernah laki-laki manapun tolak tawaran nya."

Ucapan si primadona terus berputar dibenak Elodie, mencoba memahami apa maksud dari perkataan itu. "Odie menjadi bodoh sekarang, Odie kesal! Ingin menangiss!"

Gadis dengan dress putih tulang sepanjang mata kaki yang dikenakannya itu, mulai kembali melanjutkan langkahnya saat suhu udara semakin dingin menusuk kulitnya. Elodie menggosok lengannya yang tak tertutupi, dikarenakan dress yang Elodie pakai, hanya menutupi sampai sebatas bahu, tidak sampai kelengan.

Rambutnya pun terurai indah, menutupi punggungnya, Elodie berjalan dengan tatapan rumit. Dia terus-terusan menghembuskan napasnya lelah, sampai manik matanya terhenti pada sebuah rumah makan berdesain sederhana namun terlihat sangat mengunci perhatian setiap orang yang tak sengaja lewat.

Karena penasaran, Elodie memasuki area rumah makan yang kalau pagi, dijadikan tempat sarapan para pengunjung taman yang ingin menghabiskan waktu sarapan pagi bersama keluarga diluar rumah. Kalau malam seperti ini, rumah makan itu akan cosplay menjadi tempat perkumpulan anak-anak muda.

Dilantai 1, khusus yang mau makan makanan berat, seperti sekelompok anggota keluarga atau ada acara tertentu yang mengundang banyak orang. Dilantai 2, ada ruang kedap suara khusus meeting bagi para pembisnis yang ingin rapat disini. Kalau dilantai ketiga, ada cafe khusus yang hanya ingin ngopi-ngopi santai sambil nyemil tanpa niat ingin makan

Dilantai 3 atau rooftop, ada juga panggung kecil yang digunakan untuk melakukan live musik atau ada pengunjung yang ingin menyumbangkan suara emasnya bisa menggunakan panggung itu. Dan Elodie tertarik, dia ingin mencoba bernyanyi diatas sana! Sontak, Elodie berjalan menghampiri seseorang yang berdiri disamping panggung kecil itu.

"Pssttt, Kakak! Odie ingin bernyanyi,"

Takut ditolak, Elodie langsung memasang puppy eyes nya dengan kedua tangan menangkup didepan dada juga kelopak matanya yang mengerjab lucu. Melihat pemandangan menggemaskan didepan matanya, seseorang itu tak kuasa untuk menolak. Dia pun menyetujui permintaan Elodie yang juga ingin memainkan piano.

Kini, lampu yang menyorot panggung langsung menggelap, dimanfaatkan para staff bagian hiburan, untuk memindahkan piano ketengah panggung yang juga tak terlalu kecil. Baru setelah Elodie duduk dikursi belakang tuts piano, lampu terang langsung menyala, menyorot tepat ke posisi Elodie yang sedang duduk.

Kepala gadis itu tertunduk, menari-narikan jemarinya diatas tuts, menekannya dan terus bergerak lincah sehingga menimbulkan suara merdu yang mengalun indah kesetiap indra pendengaran. Membuat mereka yang menyukai suara piano, langsung ikut meresapi nada yang piano itu gema kan.

Elodie turut memejamkan matanya, menyanyikan setiap penggal bait lirik lagu yang telah dihapal nya diluar kepala. Sampai-sampai, sebagian dari anak muda yang berkunjung ke cafe ini, bisa ikut merasakan emosi dan makna mendalam setiap kali lirik terucap merdu.

"I'm shining like a candle in the dark," Elodie mengangkat kepalanya, menelisik kesetiap sudut penjuru yang dapat pandangan nya raih.

(Aku bersinar seperti lilin dalam gelap)

Hingga, sesosok manusia tampan berhasil mengunci gerakan mata Elodie yang tengah menelisik sekitar.

"When you tell me that you love me,"

(Ketika Anda mengatakan bahwa kau mencintaiku)

"I want to make you see..."

(Saya ingin membuat Anda melihat...)

Tatapan nya yang sedalam lautan ditengah badai, membuat Elodie kembali terhanyut. "Just what I was,"

(Apa adanya)

Elodie menekan tuts terakhirnya, lantas dia berdiri. Membungkuk cukup lama dengan benak membatin, Odie kesepian oh God. Odie ingin Kakak Ar yang dahulu, tidak apa suka jahil asalkan Odie tidak kesepian seperti ini.

Sementara dibagian sudut, Arxel yang datang bersama teman-temannya dua jam lalu, menatap dalam pada sosok gadis mungil yang sangat dikenali dirinya. Tengah bernyanyi seakan sedang menyampaikan isi hatinya melalui lirik lagu. Membuat Arxel sedikit tersentuh.

Dia pun tak ingin menjauhi Elodie, tapi benteng kokoh diantara keduanya yang tak akan pernah roboh, membuat Arxel harus memilih jalan satu-satunya ini. Cowok itu mencoba mengabaikan lantunan merdu dari bibir Elodie, sampai matanya tak sengaja bertubrukan dengan mata indah yang selalu memancarkan sinar ceria dan bahagia itu.

Namun sayangnya, malam ini—sinaran yang terpancar bukan lagi sinar bahagia penuh akan binar pelangi yang penuh warna. Melainkan sinaran sendu dengan rasa kesepian yang amat mendalam. Arxel kembali tertegun, kesepian? Apakah babi nya, kerdil nya, dan bocah bodoh nya itu sedang dihantui rasa sepi? Akankah dia tengah kesepian?

Arxel berlari kecil mengejar langkah kaki Elodie yang telah pergi meninggalkan panggung juga lantai 3 ini, Arxel tak memperdulikan kebingungan teman-temannya hingga dia menemukan Elodie yang sedang berdiri di trotoar pinggir jalan. Membelakanginya dengan tatapan gadis itu yang seperti lurus kedepan.

Embusan napas pelan terdengar, Arxel mencoba menghentikan kaki nya beberapa langkah dibelakang Elodie. "Odie,"

Mendengar namanya dipanggil, Elodie membalikkan tubuhnya. Menatap Arxel yang berdiri cukup jauh disana, "Iya?"

Wajahnya yang cantik, disempurnakan dengan sapuan angin yang menerbangkan beberapa helai anak rambut, membuat Elodie dimata Arxel, semakin mempesona. "Kenapa malam gini masih diluar?"

Cukup canggung, karena Arxel yang sebelumnya menjauh, secara mendadak kembali menghampiri Elodie. "Karena Odie sendiri di mansion, Odie kesepian. Kakak pun menjauhi Odie, Odie sedih."

Kepribadian nya yang memang lugu dan jujur, membuat Arxel menghembuskan napasnya kian kasar. "Pulang! Ini udah malam, gak baik anak perempuan main keluar sendirian begini."

Elodie mengangguk patuh, "Heem. Odie pulang dahulu ya,"

Gadis itu berbalik badan, pergi meninggalkan Arxel dengan bahunya yang seperti tiada tulang. Langkah nya pun sangat lunglai, Elodie benar-benar sedang dilanda kegalauan. "Tunggu!"

Secara naluriah, Elodie menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik, "Gue suka suara dari piano yang lo mainkan dan juga suara lo yang merdu,"

Elodie mengangguk, "Iya. Terima kasih,"

***

Aku ikutan galau sama Odie ah 😩

Next gak nih?

Yok 200 komentar!!

Precious Cute Girl [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang