H A I !👋
— H A P P Y R E A D I N G —
***
"Gimana? Udah tau apa itu cinta?"
Elodie mengangguk antusias, gadis itu secara tiba-tiba menempelkan telinganya didepan dada kiri Arxel. Mendengarkan detak jantung Arxel yang mendadak menggila, sontak, Elodie tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Wah! Kakak cinta Odie!!"
Deg.
Cowok itu tertegun, "Idih! Kegeeran lo bocah!"
Cepat-cepat Elodie menggelengkan kepalanya, "Bukan kegeeran! Tapi kata Daddy memang begitu!"
"Jadi lo nanya ke Daddy lo?" tanya Arxel dengan tatapan tak percaya nya.
Gadis itu mengangguk, "Huum! Daddy itu serba tau! Jadi Odie selalu tanya Daddy," jawabnya dengan begitu enteng.
Arxel menggeleng tak percaya, astaga bocah itu. Tapi akhirnya, Arxel menghembuskan napasnya kasar, dia menjauhkan kepala Elodie dari depan dadanya, beralih menatap mata indah Elodie yang selalu menyorot lugu. "Berarti lo udah memiliki jawaban atas pertanyaan Nenek?"
Elodie kembali mengangguk antusias, dia menarik tangan besar Arxel agar menyentuh dadanya yang berdebar cepat. Arxel kembali mendengus, dia dengan cepat menarik tangannya menjauhi dada Elodie. "Kalau begitu, rasa yang ada dihati lo harus segera dihilangkan."
Kening Elodie berkerut bingung mendengarnya, "Kenapa?"
"Karena," Arxel menunjukkan bandul kalungnya yang berbentuk salib. "Masjid Istiklal dan Katedral tak akan pernah bisa bersatu, kita adalah dua insan manusia yang memiliki satu amin namun berbeda iman." Arxel melanjutkan ucapannya dengan sorot sedalam lautan.
Saking dalamnya, Elodie seperti tersesat dalam arus pusaran kuat dalam pancaran sorot mata Arxel, terus mengombang-ambingkan dirinya dengan dorongan sekuat air pasang. Elodie terpaku, dia menggerakan caranya berdoa, dibalas Arxel yang turut menggerakan caranya berdoa. Berbeda. Cara berdoa keduanya berbeda.
"Jelas? Kita adalah dua pihak yang tak akan pernah bersatu, cukup berteman saja dan mari cari kebahagiaan masing-masing. Why? Karena gue nggak mungkin merebut lo dari Tuhan lo sendiri, begitupun sebaliknya." Entahlah...
Arxel berdiri, dia tersenyum tipis kearah Elodie sebelum pergi sambil membawa sesak didadanya. Benteng diantara keduanya, terlalu tinggi dan kokoh. Bukan lagi masalah restu keluarga, melainkan masalah kekuatan iman pada kepercayaan masing-masing.
Sepeninggalan Arxel, Elodie terdiam melamun. "Kok jantung Odie sesak ya? Apa Odie harus periksa ke rumah sakit? Tapi Odie tidak mau di suntik."
Lama merenung dengan pikirannya yang terus bergelut memperdebatkan, secara mengejutkan, Piya datang sembari melempar undangan ke depan Elodie. "Dari pada ngelamun kayak orang tolol, mending lo mikirin deh, kado apa yang bakal lo kasih ke gue besok."
Perempuan itu mengambil posisi duduk disamping Elodie, tak lama kemudian, teman Piya turut datang bergabung. "Asem banget tuh muka, napah sih lo?"
Piya memang ceplas-ceplos anaknya, tapi Elodie tak juga mempermasalahkan. Dia hanya menggeleng, menelungkupkan kepalanya diantara lipatan kedua tangannya. Elodie sedang galau ceritanya. Ciaelah, seorang bocah polos seperti Elodie ternyata bisa galau juga dan itu karena si tukang menjahili nya, Arxel.
Tak memperdulikan Elodie yang tampak aneh, Piya memilih untuk ngobrol dengan temannya yang lain. "Gue denger lo balikan sama si Stephen, seriusan? Gak takut putus lagi karena masalah iman kalian yang beda?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Cute Girl [TERBIT]
Fantasía[OPEN PRE-ORDER] Transmigration Cute Girl to be Precious Cute Girl Elony atau yang kerap disapa dengan nama Ony adalah seorang gadis mungil berwajah lucu nan menggemaskan dengan pipi chubby berona alami, dan juga sosok gadis mungil yang banyak disuk...
![Precious Cute Girl [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/280723506-64-k770136.jpg)