51 | Cute Girl

8K 858 59
                                        

H A I  !👋

— H A P P Y R E A D I N G —

***

Jika memiliki Zegran adalah suatu keberuntungan, maka Zifa sangat beruntung karena bisa mengikat laki-laki itu dalam ikatan pernikahan yang sakral. Bisa berpuas diri menikmati ketampanan Zegran seorang diri, karena hanya dirinya lah yang akan menjadi ratu dari sang Raja, Zegran.

Meski mengikat dengan cara yang terbilang memaksa, Zifa tak pernah menyesal. Karena dari semua usaha nya selama ini, Zegran bisa juga menjadi miliknya. Zifa bisa puas-puas memandangi wajah lelap Zegran yang sangat mempesona dimatanya. Tak kuasa untuk tidak mendaratkan bibirnya dikening laki-laki itu.

"Terima kasih untuk yang semalam," bisiknya dengan suara yang sangat lembut.

Di negara lain, Galen yang hanya dengan handuk putih dipinggangnya, menatap bingung pada Karen yang begitu sibuk dengan ponsel ditangannya. Karena penasaran, Galen pun mengambil posisi duduk disamping Karen, berusaha mencuri pandang akan apa yang ada di ponsel Karen.

Karen tentu saja menyadari kehadiran kekasihnya, dia pun menutup ponselnya. "Pengasuh Ilo mengatakan kalau Ilo demam tinggi, apa aku boleh kembali ke Indonesia untuk memastikan kondisi Ilo?"

Lagi-lagi, Ilo yang menjadi alasan jauhnya jarak antara Karen dan Galen. Galen tak bisa untuk tidak menghembuskan napasnya dengan kasar, "Sekarang waktunya kamu untuk memilih. Kembali ke Indonesia dan hubungan kita selesai, atau titipkan bocah itu di panti asuhan lalu hubungan kita akan baik-baik saja."

Wanita itu tertegun mendengarnya, tak menyangka jika Galen memang benar-benar tak menyukai kehadiran Ilo diantara mereka. "Apa kamu setega itu? Ilo sejak kecil bersama aku, mana mungkin aku bisa biarin Ilo tinggal dipanti asuhan!"

Galen menatap tajam pada Karen disampingnya, "Berarti ini keputusan kamu? Kalau begitu, hubungan kita selesai sampai disini!"

Karen menggeleng tak percaya mendengarnya, "Semudah itu? Apa kamu memang gak pernah mencintai aku?! Kamu anggap apa aku selama ini, Galen? Pemuas nafsu? Pelacur?!"

Mendengar ucapan Karen, Galen menatapnya dengan sorot kian menajam. "Ini demi kebaikan kita berdua, Karen! Ilo berasal dari keluarga yang tak jelas! Ayah nya Wildan! Dia tak pantas berada diantara kita!!"

Karen terkekeh miris, "Galen. Perlu kamu tau, jika sudah dewasa nanti, Ilo juga pasti tak akan mau dilahirkan diantara kedua orang tua yang bermasalah. Nggak ada seorang anak yang bisa memilih dikeluarga mana dia harus dilahirkan, nggak ada, Gal..."

Tatapan Karen berubah menerawang jauh, dia juga bukan anak yang berasal dari keluarga yang beruntung. "... Semua anak ingin berada di keluarga yang harmonis, termasuk Ilo. Dia hanya anak malang yang menjadi korban kebodohan kedua orang tuanya. Ilo gak salah apapun, Gal. Wildan yang salah, bukan Ilo."

Benarkan? Wildan lah biang masalahnya, bukan Ilo. Dia hanyalah korban atas kebrengsekan Wildan pada setiap pelacur yang disewa nya. Karen sendiri pun yakin, pasti banyak anak malang diluaran sana yang terlahir dari seorang pelacur, yang mungkin saja, anak-anak malang itu juga anak Wildan yang tak terhitung seberapa banyaknya.

Wildan adalah definisi pria bajingan yang sebenarnya, dia mempermainkan banyak wanita. Membiarkan para pelacurnya mengandung darah dagingnya sendiri tanpa ada niat secuil pun untuk bertanggung jawab. Jahatnya, Tuhan belum menakdirkan untuk Wildan terinfeksi virus HIV yang mungkin bisa membuatnya sedikit kapok.

Lelah dengan pendapat semua orang yang selalu menolak kehadiran seorang anak yang terlahir dari rahim pelacur, Karen pun berdiri. "Kalau kamu memang tidak bisa menerima Ilo, aku setuju untuk memutuskan hubungan ini. Bagiku, Ilo jauh lebih berharga daripada pria egois sepertimu."

Kini, berganti Galen yang tertegun. Pria itu seakan tersadar saat melihat Karen yang mulai membuka kopernya, "Karen!"

Karen tak perduli, dia tetap diam dan terus memasukan pakaiannya kedalam koper. "Okay fine. Kamu boleh ke Indonesia untuk menjenguk Ilo, lalu setelah itu, kamu harus kembali kesini."

Karen tak kuasa menahan senyumnya, wanita itu berdiri, mencium pipi Galen lalu memeluk nya erat. "Aku tau, kamu pasti tak setega itu sama Ilo."

Galen tak menjawab apapun, dia hanya diam dan membalas pelukan Karen.

***

Kabar burung mengenai pernikahan anak dari pembisnis dunia yang dilakukan secara diam-diam mulai menyebar dengan luas yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk memviralkan nya. Termasuk Alarick dan Renzo yang kini menatap datar pada serangkaian berita tertulis dilayar laptop Alarick.

"Si brengsek itu ingin mengikuti jejak Wildan sepertinya," kekeh Alarick yang sedikit menarik perhatian Renzo.

Tak dipungkiri, jika predikat pria brengsek memang selalu tertuju pada satu nama, Wildan, yang tak lain tak bukan adalah Ayah kandung Renzo sendiri. "Kalau begini, tak akan ada lagi ruang untuk dia mendekati Adikku jika tak ingin pergi ke akhirat lebih cepat," ucap Renzo.

"Dia akan mati ditanganku,"

Sahutan dari arah pintu membuat keduanya menoleh, menatap ngeri Aakesh yang wajahnya dipenuhi kabut amarah. Lagian enak saja si bajingan itu menikahi wanita lain setelah terus mendekati Adik kesayangan mereka. Pantaskan jika Aakesh semarah ini? Karena sejak awal, dia menentang keras hubungan kedua orang itu.

"Tak perlu khawatir, bontot ku tak mengerti apa itu patah hati."

Roderick yang tampak santai, mengambil posisi duduk di sofa tunggal, dia menenggak sekaleng soda yang sisa setengah milik Alarick. "Lagian, yang cowok tengik itu nikahi bukan bontot ku melainkan Clava dan hubungan mereka telah selesai. Kalian tau? Yang dimana, hubungan cowok tengik itu dengan keluarga kita juga selesai saat Clava meninggal."

Apa yang Roderick katakan memang benar, untuk apa mereka khawatir akan perasaan Elodie? Yang bahkan mereka yakini, bocah kesayangan mereka itu tak tau apa artinya cinta. Apa yang mereka pikirkan memang benar adanya, karena saat ini, Elodie tengah asik bertanya sendiri dan menjawab sendiri dengan dua boneka barbie ditangannya.

"Hihi, aku ingin ke taman."

Dia menggerakan boneka barbie yang satunya, "Aku pun. Ayo pergi bersama!"

Seasik itu Elodie bermain boneka barbie sendirian, karena sebelumnya, Elodie bermain dengan Aakesh. Namun entah apa alasannya, Abang nya yang satu itu pergi tiba-tiba setelah membuka ponselnya, lengkap dengan wajah suramnya. Meski ditinggal sang Kakak, Elodie tetap melanjutkan main nya.

Lama kelamaan, Elodie bosan juga main sendiri. Gadis kecil dengan tingkat keingintahuan yang tinggi itu melangkah keluar kamar dengan boneka Upin yang digendongnya, sesekali menggigit-gigit gemas sehelai rambut Upin dalam bentuk boneka empuk itu.

Dia celingak-celinguk ke kiri kanan mencari kemana perginya sang Ayah dan Abang-Abang nya, mengerucutkan bibirnya kesal, Elodie pun memasuki lift dan menekan lantai dasar. "Odie bosan nih, Mamih juga kenapa tidak membelikan Karto dan Tuti sih, kan Odie kesepian."

Gadis kecil itu terus berceloteh sepanjang kakinya melangkah hingga langkahnya secara naluriah terhenti saat melihat sesuatu yang menarik perhatiaan nya, begitupun dengan manik matanya yang berubah berbinar. "Ih itu Kartoo!"

Dengan cepat, Elodie melepaskan Upin dari gendongannya. Berlari mengejar Karto yang memanjat pohon mangga dengan lancar, yang entah keajaiban darimana, Elodie pun turut naik kesalah satu batang pohon mangga. Hingga keberadaan Karto, menghilang dari matanya. Elodie mendengus kesal, gadis kecil itu menggaruk pipinya yang tak gatal.

"HUWAAAA!!! DADDY!! ABANGG! ODIE TIDAK BISA MENDARAT SEMPURNA!! ODIE TERJEBAKK! TOLONG ODIEE!! DISINI BANYAK SEMUT!!! HUWAAAA ODIE TAKUTTTTT!!"

Nah kan, nakal sih. Bisa naik tapi tidak bisa turun, dasar Elodie.

***

Next? Yok spam koment!

Precious Cute Girl [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang