Anyeeeongg..
Makasih buat 16.5K komentarnya, kalian luar biasa 🥹🫶🏼
***
WINTER dan Summer, masuk menyusul Aghas ke area kolam. Hal yang mereka lihat pertama kali adalah Aghas yang sedang memberikan napas buatan pada Snowy berulang kali. Terhenyak, kaki mereka mendadak sulit bergerak.
"Tutup pintu dan lo jaga di sini." Winter menahan tangan Summer karena cowok itu hendak berlari menuju Snowy. "Tunggu di sini, gue yakin, pekakunya masih di sini."
Summer mengangguk walau sebenarnya dia agak keberatan.
Winter lalu mendekat pada Aghas bersamaan dengan Snowy yang terbatuk hebat mengeluarkan air dari mulutnya cukup banyak. Gadis yang biasanya tidak mau diam dan banyak bicara itu masih terbaring lemas, dan mata sayunya sesekali terbuka.
"Ambulance, Win." Aghas bersuara lemah, lantas membetulkan posisi Snowy yang berbaring di lantai menjadi bersandar ke dadanya. Aghas menatap pada wajah Snowy, lega rasanya melihat gadis itu bernapas normal walau wajahnya masih pucat. "Tahan, ya. Kita ke rumah sakit." Dia mengecupi pelipis gadis itu dengan air mata yang kembali berjatuhan.
Snowy hanya mampu berkedip lemah, lalu menutup mata sementara badannya mulai menggigil kedinginan.
"Ambulance on the way." Winter kembali mendekat, dia melepas jaket dan membungkus badan Snowy dengan itu. "Kita bawa dia ke UKS dulu." Berada di sisi kolam renang seperti ini pasti membuat Snowy ketakutan.
Aghas menyerahkan Snowy pada Winter. "Lo bawa dia keluar. Gue di sini dulu."
Kedua cowok itu bertatapan beberapa detik sebelum kemudian Winter mengangguk paham. "Jangan kelewatan," peringatnya. Cowok itu membopong tubuh sang adik lantas berlari keluar dari area kolam.
Wajah Aghas yang sejak tadi gusar karena khawatir dan ketakutan, berubah dalam satu detik ketika dia memperhatian jejak basah sepasang kaki. Kedua matanya berubah tajam dan dingin sementara rahangnya yang tegas mulai mengetat menahan amarah yang siap meledak.
Sebenarnya dari awal datang, Aghas sadar bahwa orang biadab yang mencelakai Snowy baru saja pergi dari sisi kolam dan kemungkinan masih di sini.
Aghas ikuti jejak langkah kaki itu, dan berhenti di ruang ganti perempuan. Cowok itu tersenyum miring, mungkin terlihat mengerikan jika ada orang yang melihatnya.
Sementara di ruang ganti, di bilik paling ujung, tiga gadis itu sedang diam menunggu keadaan tenang. Mereka hampir saja tertangkap basah sedang mengerjai Snowy, beruntung Tuhan masih melindungi mereka sehingga bisa dengan tepat waktu mengangkat Snowy kedaratan sebelum kemudian kabur dan bersembunyi.
"Gara-gara lo kita hampir ketahuan! Gue bilang udah, udah," kata Stasia kesal. Dia menatap Sahara yang tadi tidak mau berhenti menenggelamkan kepala Snowy atas perintah Sherin "Kalau aja lo nurut, kita udah keluar dan nggak kejebak di sini!"
"Gue pengen dia mati." Sherin berdesis penuh kebencian. "Gue belum puas sik—"
"Sssstt." Sahara memperingati dengan telunjuk di bibir. "Kita bisa siksa dia nanti, sekarang diam dulu atau kita yang bakal mati."
"Kita keluar, kayaknya udah tenang," usul Stasia. "Mereka nggak mungkin di sini, mereka pasti sibuk urusin Snowy."
"Tunggu lima menit lagi."
"Gimana kalau ketahuan?" tanya Stasia. Ada kecemasan di wajah gadis itu, rasa takut mulai merayapi hati, bodohnya, dia baru merasa takut sekarang setelah dengan sadis menyiksa temannya sendiri. "Sher, gimana kalau ketahuan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BEFUDDLES (SELESAI)
Teen FictionSpin off Arunika's World dan SHAGA BISA DI BACA TERPISAH FOLLOW SEBELUM MEMBACA *** "Lo mau nggak pacaran sama gue?" Snowy. "Gue nggak mau pacaran sama lo. Gaya pacaran kita beda. Gue nggak suka main di luar, gue lebih senang habisin waktu di rum...
