BEFUDDLES || 35

192K 16.4K 1.5K
                                        

Anyeeoong

Pren, buat update bab depan aku nggak kasih target komen ya, tapi target vote bab yang jomplang bngt sama bab lain.

Aku bakal update bab 36 kalau :
Bab 02 sampai dengan bab 31, votenya sama rata di 2.7K yaaa.

Bab 34 bisa 2.8K votesnya masa bab lain beda jauh? :(
Yuk bisaa cek ulang bab yang aku sebut di atas yaa, kalian pasti lupa vote atau mungkin votenya ga masuk karena kadang emang suka begitu :(

Happy reading! 🥰

***

SNOWY benar-benar rewel, kemanjaannya naik dua kali lipat dari hari biasa. Setelah mencetuskan bahwa dia mau pulang dengan syarat Aghas ikut dengannya, yang tentu saja syarat itu langsung di tolak keras oleh Radhit, Snowy menangis dan masuk ke kamarnya.

Bocil. Aghas sudah tahu perangai Snowy yang kekanakan ini dari pertama kali melihat gadis itu tiga tahun lalu. Kabar buruknya, hari ini sikap kekanakan Snowy kambuh membuat semua orang pusing tak terkecuali dirinya.

"Coba kamu yang bujuk, Ghas, suruh keluar," kata Radhit. Dia, Arunika, Winter juga Summer sudah membujuk Snowy untuk keluar kamar, gadis itu sudah mengurung diri tiga jam. Keadaan perutnya hanya terisi sereal saja saat sarapan di rumah Aghas. Mereka khawatir Snowy kelaparan tetapi gengsi untuk keluar.

"Salju." Aghas mengetuk pintu dua kali, belum ada sahutan, tetapi dia mencoba sekali lagi. "Salju."

Radhit menghela napas, sementara Shaga seperti sedang berpikir, pria itu mengusap-usap dagu secara dramatis. "Ancam aja bang," usulnya berbisik, tekut terdengar Snowy.

"Ancam apa?"

"Kalau nggak di buka, abang putusin dia."

Radhit setuju. "Coba, Ghas."

Aghas berdeham, merasa tidak yakin. "Snowy, buka pintunya. Kalau lo nggak buka, kita putus." Aghas lalu bergidik, geli sendiri mengatakan putus seperti itu.

Tapi ternyata cara itu berhasil, suara kunci yang di putar membuat ketiga lelaki itu menegakkan badan. Snowy membuka pintu, dan langsung manyun saat matanya menemukan mata teduh Radhit.

Snowy masuk lagi ke dalam, rebahan di kasur sambil berselimut sampai bawah dagu. Ketiga lelaki itu masuk ke kamar bercat ungu pudar, Shaga refleks terkekeh, ingat kamar Hazel dulu karena warnanya sama. Dulu dia mengatai warna kamar Hazel norak, tetapi dia malah ikutan norak karena mengubah isi mobilnya jadi ungu. Ck, cinta memang buta.

"Snowy demam." Winter mendadak muncul dan menerobos ketiga lelaki itu, cowok bertampang datar tersebut duduk di sisi Snowy lalu menyentuh keningnya dengan telapak tangan. "Demam tinggi."

Shaga melongo. "Kok kamu tahu, Win?" Dia heran, bahkan sebelum Winter menyentuh kening Snowy, cowok itu sudah bisa menebak duluan.

"Snowy hari ini rewel banget, kalau nggak demam, pasti mau datang bulan," jelas Winter, dia hapal betul apapun mengenai adiknya itu. "Aku ambil dulu obat." Cowok itu pamit keluar.

Sementara Radhit langsung duduk di tempat Winter barusan, mata teduhnya menatap penuh sesal pada Snowy yang memejamkan mata sambil sesekali menggumam tidak jelas. Dia merasa bersalah tidak bisa memenuhi keinginan Snowy yang ingin tinggal bersama Aghas. "Pusing kepalanya?"

"Mm."

"Bangun dulu, Nak. Makan, terus minum obat," titah Radhit saat Winter kembali datang membawa nampan berisi satu piring berisi sayur dan satu botol obat.

BEFUDDLES (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang