"Jadi? Kamu lupa memberi tau pada kami bahwasanya kamu akan pergi dengan Geanna?"
"Bukankah Geanna sudah memberi kabar, kak?"
"Setelah kami semua panik?"
"Maafkan kami"
"Kami?!"
Liano marah. Tangannya di letakkan di pinggang dan nafasnya memburu. Belum sempat menambah pertanyaan, tubuhnya di dorong oleh nyonya Wyu.
"Kami sangat kahwatir padamu sayang" ujar nyonya Wyu, memutuskan duduk di sebelah Jeykey yang duduk tegak di sofa cream milik nyonya Wyu.
Setelah di antar pulang oleh Geanna, keluarganya mulai mengintrogasi dirinya. Jeykey ingat Geanna bilang dia lupa memberi orang tuanya kabar tapi gadis itu memberi kabar, jadi sebenarnya Jeykey tidak mengerti kenapa kak Liano sangat kahwatir hingga marah padanya setelah kak Liano mengantar Geanna pulang.
"Maaf. Tapi ini bukan salah Geanna, ma." Ujar Jeykey. Nyonya Wyu tersenyum geli. Sedangkan Liano murka.
"Sekarang kamu membela dia?"
"Liano!" Pekik nyonya Wyu kesal. "Kenapa kamu harus seperti itu?"
Liano mendengus. Dia berjalan lalu duduk di sebelah Jeykey yang masih kosong.
"Dia ingin berperilaku sebagai kakak yang baik. Dia sudah berlatih sejak tadi" beritahu tuan Wyu yang baru ikut bergabung. Hal itu membuat nyonya Wyu mendengus dan Liano memandang papanya penuh permohonan untuk berhenti.
"Jadi, bagaimana jalan-jalan kalian?" Nyonya Wyu bertanya dengan penuh rasa penasaran. Ini pertama kalinya Jeykey keluar bersama seorang gadis dan gadis itu adalah calon istrinya, bukankah sangat manis?
"Menyenangkan" jawab Jeykey tulus. Tentu menyenangkan. Geanna bahkan membuatnya tertawa berkali-kali Karna tingkahnya. Yang paling lucu adalah saat mereka berada di rumah hantu.
Senyum Jeykey mengembang tanpa dia sadari.
"Ohoo, kamu tersenyum manis. Itu pasti jauh di atas kata menyenangkan" protes Liano. "Kenapa tidak kamu ceritakan saja? Hitung-hitung sebagai rasa bersalah mu"
"Mama setuju!"
Liano memandang papa nya "Bagaimana dengan papa?"
"Papa berpihak pada suara terbanyak"
Jeykey menghela nafas dengan kelakuan keluarganya. Tidak ada kemarahan Karna Jeykey tau mereka memperhatikan dirinya. Itu adalah hal luar biasa yang mereka lakukan untuk Jeykey.
"Awalnya kami pergi makan Karna Geanna kelaparan" Jeykey memulai. "Katanya Geanna tau dari kak Liano bahwa saya suka makanan seafood" lanjut Jeykey. Liano tersenyum bangga.
"Geanna memesan lobster dan menghancurkan cangkangnya, sendiri. Saya kaget saat dia akhirnya menyuapi saya. Saya tau dia telah mengerjakan semuanya. Lalu saya bertanya apa dia baik-baik saja dan dia menjawab kalau dia baik-baik saja"
"Lalu?" Nyonya Wyu bertanya tidak sabaran Karna Jeykey berhenti untuk mengambil nafasnya.
"Ada seorang gadis di sebelah meja kami, tangannya terluka saat menjepit cangkang lobsternya, Geanna membantu nya. Setelah nya dia merasa sedih Karna dia baru saja berfikir bahwa tidak mungkin ada orang yang terluka saat menghancurkan cangkang lobster"
"Sudah saya katakan, Geanna itu gadis sombong" ujar Liano, tertawa Karna kesengsaraan Geanna.
"Bukan sombong tapi berhati emas" protes nyonya Wyu, tidak terima dengan perkataan putra nya.
Jeykey melanjutkan ceritanya, dia bercerita tentang mereka yang menaiki wahana hingga masuk kedalam rumah hantu. Menceritakan semua yang dia alami bersama Geanna dan bagaimana Geanna yang melawan hantu disana. Cerita Jeykey berhasil membuat keluarganya tertawa terbahak-bahak. Liano kembali mengejek Geanna apalagi saat gadis itu menangis tersedu-sedu setelah kening Jeykey bendol.
Nyonya Wyu memuji Geanna saat mendengar Geanna membeli nasi panas dan sapu tangan untuk mengkompres kening Jeykey.
Dan Tuan Wyu, dia berada di pihak Liano.
"Jadi, bagaimana caranya medali ini ada padamu?" Tanya tuan Wyu setelah kehebohan yang mereka lakukan untuk merespon cerita Jeykey.
"Geanna memberikannya pada saya" jawab Jungkook jujur
"Alasannya?"
"Tidak ada alasan. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa saya berharga. Hanya itu" jelas Jeykey dan seluruh keluarga tidak berbicara lagi. Mereka kagum pada Geanna, hanya itu yang pasti.
***
Geanna memeluk tubuh mamanya. Setelah di antar pulang oleh pak Liano, dia memutuskan untuk duduk di sebelah mamanya yang sibuk desainnya untuk pernikahan Geanna. Ya tentu saja mereka memutuskan untuk memakai gaun pengantin yang di desain oleh mamanya Geanna sendiri setelah mengetahui bahwa nyonya Wyn adalah seorang desainer.
"Kamu pergi tanpa memberi kabar, tentu saja mereka akan marah" nyonya Wyn membuka suara sedangkan Geanna menghela nafas.
Nyonya Wyn memang paling mengerti soal dirinya. Dia memang takut Jeykey di marahin oleh keluarganya Karna dia.
"Tidak perlu kahwatir, mereka pasti senang Jungkook keluar bersama calon istrinya"
Masih tidak mendapat respon, nyonya Wyn menghentikan aktivitas nya dan memandang putrinya setelah melepaskan pelukan Geanna darinya.
"Kenapa? Apa kamu sangat merasa bersalah?"Geanna mengangguk. "Pak Liano bahkan hanya diam saat mengantarku pulang" adunya dengan wajah penuh kesengsaraan.
"Mama dengar, Liano sangat senang mengganggumu. Benar begitu?"
"Benar. Jadi jika dia diam saja artinya ada masalah" Geanna menghela nafas lagi.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Mereka marah pada Jeykey dan akhirnya memutuskan tidak peduli pada nya"
"Hanya karna kamu mengajak Jungkook jalan-jalan dan kalian lupa memberi kabar?" Nyonya Wyn terkekeh di akhir kalimatnya. Geanna memang lucu, sejak kapan orang tua berhenti peduli pada anak-anak mereka? Apa ini masuk akal?
"Coba katakan mama katakan itu pada dirimu. Jika nanti anak-anak mu berbuat salah, apa kamu akan melepaskan tanggung jawab mu terhadap mereka?"
Mata Geanna berkedip beberapa kali. Tentu saja tidak. Kenapa mama bertanya hal yang sudah jelas? "Tidak."
"Begitu juga dengan Jungkook. Mereka sangat menyayangi lelaki itu"
"Sayang, kemarin memang kesalahan tapi tidak sefatal itu. Mama ingat mereka semua panik dan pucat. Nyonya Wyu menangis dan menyalahkan Liano, tapi semua baik-baik saja setelah mama memberitahu mereka bahwa Jungkook bersamamu."
Wajah Geanna memerah. Jika kemarin membuat keadaan menjadi seheboh itu, dia tidak mungkin diijinkan untuk menemui Jeykey lagi atau yang lebih parah, nyonya Wyu membencinya.
Geanna mendengus. Sial! Dia lupa memberi salam pada nyonya Wyu kemarin.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Geanna berteriak kuat, frustasi. Gadis itu bahkan menarik rambut panjangnya. Di sebelahnya nyonya Wyn Kembali terkekeh melihat tingkah putrinya."Sudah sudah. Sekarang bantu mama memilih gaun pernikahan untuk mu" suruh nyonya Wyn yang seketika membuat Geanna membulatkan matanya tidak percaya.
"Apa pernikahan masih di lanjutkan?"
"Ya. Tentu saja. Apa semudah itu di batalkan? Kamu sudah membanggakan dirimu pada tetangga kita"
Geanna merotasi kan matanya, kesal. Mengingat bagaimana Unha menghina Jeykey, tidak bisa dia biarkan. "Itu memang kesalahan gadis gila itu. Mulutnya tidak pernah mengeluarkan kalimat bagus" protes Geanna. Tentu saja dia tidak mau di salahkan.
"Jadi, kenapa kamu merasa pernikahan akan di batalkan?"
"Karena aku sudah melarikan putra kesayangan nyonya Wyu."
Nyonya Wyn menggelengkan kepalanya mendengar kalimat putrinya. Itu memang di luar nalar. Bukankah bagus membawa Jungkook jalan-jalan? Apalagi setelah menikah mereka akan menjalani kehidupan rumah tangga, berdua saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
BLIND [JUNGKOOK]
RomanceKecelakaan mobil yang menimpa Jeykey, membuatnya kehilangan penglihatan. Disaat terpuruknya, kekasihnya Unha pergi meninggalkannya. Menyisakan rasa sakit dan keputusasaan, rasa benci dan amarah, serta rasa trauma terhadap perempuan. Namun mahasiswi...