"Sudah ramai" Nyonya Wyu mendecak kesal memandang putranya yang menjadi penyebab mereka harus berdesak-desakan dengan tamu lain.
Beruntung Liano sudah menyiapkan tempat untuk mereka di depan, tapi meskipun begitu, nyonya Wyu harus berjuang menuntun Jeykey untuk sampai ke tempat duduk mereka yang ada di depan sana.
"Kamu membuat kita semua terjebak Karna mood mu, Jeykey" ceramah nyonya Wyu. Dia kesal setengah mati dengan sifat putranya yang tiba-tiba berubah. Bukankah kemarin dia baik-baik saja? Kenapa sekarang Jeykey terlihat ingin menghindari Geanna?
"Maaf" respon Jeykey. Dia bersalah dan untungnya hanya mamanya yang marah. Untung saja tuan Wyu tidak berada di pihak mamanya.
Mereka berjalan lurus dengan penuh perjuangan hingga akhirnya bisa duduk di tempat yang telah Liano siapkan. Setelah duduk selama lima menit, Liano datang menghampiri mereka.
"Wahh, saya tidak tau bahwa mama akan menerobos semua kerumunan disana" ujar Liano bangga. Dia melihat bagaimana perjuangan keluarganya untuk menggapai tempat yang sudah dia siapkan itu.
"Aku bahkan hampir menjambak wanita di sebelah sana karena menghalangi jalanku" nyonya Wyu menjelaskan kejadian di mana dia kesulitan bergerak Karna berdempetan dengan seorang wanita gemuk.
"Papa, jika butuh sesuatu katakan pada saya" Liano mengubah fokusnya pada tuan Wyu yang kini duduk di sebelah Jeykey. Bagus. Setidaknya Jeykey di apit oleh orang tuanya.
"Kamu akan kemana?" Tuan Wyu bertanya.
"Saya mau mengantar beberapa keperluan Geanna." Jawab Liano
"Apa Geanna belum menyiapkan nya?"
"Sudah, tapi seseorang mencurangi dia"
Tuan Wyu mengangguk mendengar penjelasan Liano, sedangkan nyonya Wyu memulai aksinya mencemooh orang yang melakukan itu pada Geanna dan di sebelah nya, Jeykey tidak berekspresi.
Jeykey itu, itu pasti ulah teman yang pernah Geanna ceritakan padanya. Pasti.
"Saya akan segera kembali" ujar Liano kemudian. Dia dengan segala perlengkapan yang dibutuhkan Geanna untuk olimpiade, berjalan pergi dari hadapan orang tuanya.
***
"Unha?"
Geanna menghadapkan tubuhnya pada Unha yang tersenyum remeh padanya. "Halo tetangga. Ini benar-benar kejutan Karna akhirnya aku akan bertanding denganmu"
Senyum Geanna mengembang. "Ya. Kali ini tidak akan aku biarkan, orang tuaku hanya diam"
Tawa renyah Unha berkumandang. Wajahnya yang bulat, memerah, tampak begitu menikmati kalimat Geanna. "Bukankah kamu terlalu berharap?"
"Aku tau, tapi bukankah harapan adalah awal?"
"Kamu benar. Tapi kamu di takdirkan untuk selalu berada di bawahku! Kamu tidak akan menang! Tidak akan! Selamanya mamamu hanya akan menikmati kebanggaan orang tuaku terhadap diriku" jelas Unha berapi-api. Tidak mungkin. Dia tidak akan menyerahkan posisi satunya untuk seorang anak tetangga yang tidak bisa apa-apa.
"Awalnya aku merasa aku akan berbaik hati padamu, kenapa? Karna kamu tidak seburuk itu, tapi terimakasih karna sudah membuang semua perasaan bersalahku. Kamu akan kalah! Aku bisa pastikan itu padamu"
Eska bertepuk tangan mendengar kalimat Geanna. Jika Elly ada di pihak Unha, maka Eska ada di pihak Geanna. Tidak peduli apapun yang terjadi, Geanna tidak bisa diam saja ketika hinaan itu sudah di tujukan untuk mamanya.
"Percaya diri itu boleh, tau diri di utamakan" cibir Unha. "Apa kamu akan bangga mendapat apa yang bukan milikmu?"
"Aku bukannya meminta darimu tapi akan merebutnya. Setelah aku merebutnya maka kamu harus memiliki jawabku." Geanna tersenyum sinis. "Apa kamu tidak malu? Seorang pemula merebut gelarmu yang berturut-turut?" Di akhiri dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Disana, Eska ikut terkekeh sedangkan Unha dan Elly memasang wajah kesal. Elly tau, Geanna bukanlah gadis biasa yang akan diam saja ketika di tindas tapi gadis itu akan hancur jika di Sandingkan dengan prestasi namun keadaan ini ternyata menjadi bumerang untuknya.
Elly lupa jika Geanna adalah jenius. Gadis itu tidak mau tampil tapi bukan berarti tidak bisa. Sekarang Elly menyesal Karna kurang usaha dalam membuat Geanna menyerah untuk kompetisi ini.
"Kita akan melihat!" Ujar Unha lalu berjalan pergi dari sana di ikuti Elly.
Sepeninggal Unha dan Elly, Geanna menghela nafas berat. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang di sediakan. Dua hari lalu fikirannya terganggu hingga dia kehilangan waktu belajarnya. Sekarang, Geanna merasa bodoh telah memberi celah untuk dua orang tadi.
Seharusnya Geanna fokus, Jeykey benar. Tidak ada gunanya mempertahankan penghianat.
"Kamu bersedih?" Eska duduk di sebelah Geanna. "Kenapa? Mereka tidak pantas untuk rasa sedihmu!"
Helaan nafas Geanna terdengar semakin berat "Ini pasti tidak mudah. Mereka mungkin mempertimbangkan diriku jika aku menang"
"Kenapa?"
"Unha sudah menang berkali-kali"
"Unha?"
Kedua gadis itu menoleh kebelakang. Liano berdiri dengan setumpuk peralatan untuk Geanna.
"Pak Liano?"
"Selamat sore pak" sapa Eska
"Ya selamat sore" Liano mendekati Geanna lalu menyerahkan semua bawaannya. "Ini ambillah. Saya sudah seperti pengawal dan kamu berniat menyerah?"
"Bukan begitu, aku hanya takut sistem penilaiannya___"
"Curang?" Potong Liano. Geanna mengangguk. "Dengar Ge, saya disini sebagai panitia. Saya akan memperhatikan semuanya dengan baik. Jika kamu pantas menang maka saya akan perjuangkan kemenangan itu untuk kamu"
Mata Geanna berkaca-kaca. Terharu. Seumur hidupnya dia tidak pernah punya kakak laki-laki yang akan melindungi dirinya dari semua kejahatan dunia, hal itu membentuk pribadinya menjadi lebih kuat. Namun perkataan Liano berhasil menyentuh lubuk hatinya.
"Tapi saya tetap tidak mau kamu menangis dan membuat orang lain berfikir aneh tentang saya, sekali lagi"
Tawa Geanna menggema.
Sekali lagi, Karna sebelumnya Geanna sudah mempermalukan Liano di depan ruangannya sendiri. Ingatan itu membuat Geanna menunduk malu.
Di sebelah nya, Eska menatap bingung pada Liano dan Geanna. Ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka memang sedekat itu? Geanna dengan Liano? Dosen incaran mahasiswi di kampus ini?
"Maaf tapi apa kalian memang sedekat ini? Atau aku yang melewatkan sesuatu?" Tanya Eska.
Liano terkekeh sebelum menarik nafasnya. "Kamu teman Geanna yang kecelakaan itu kan? Minta dia jelaskan padamu nanti Karna sekarang gadis ini adalah adik ipar saya"
Mata Eska membulat sempurna. Geanna memukul lengan Liano. Liano tertawa keras melihat reaksi Geanna.
Namun belum sempat Eska mengintrogasi Geanna, suara dari pengeras suara yang meminta peserta untuk bersiap-siap, menghentikan tujuannya.
Dengan penuh perjuangan, Eska mengalah di sebelah Geanna yang tampak menghela nafas, bersyukur.
Liano membantu Geanna mempersiapkan semua kebutuhannya dan Eska menyemangati gadis itu.
Dan ketika nama Geanna di panggil, jantungnya berdegup tidak karuan. Ini pertarungan, pembuktian bahwa mama tidak pergi lagi di hina dan ini akan menjadi kado pernikahan untuk mamanya, bahwa Geanna adalah gadis yang membanggakan.
Dengan wajah penuh kepercayaan diri, Geanna muncul.
Sekarang, dia harus membuktikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
BLIND [JUNGKOOK]
RomansaKecelakaan mobil yang menimpa Jeykey, membuatnya kehilangan penglihatan. Disaat terpuruknya, kekasihnya Unha pergi meninggalkannya. Menyisakan rasa sakit dan keputusasaan, rasa benci dan amarah, serta rasa trauma terhadap perempuan. Namun mahasiswi...