41

4K 306 18
                                        

Alyzaa masih bertahan di tempatnya, memperhatikan bagaimana cincin pernikahan mereka yang di buang Ares begitu saja. Bagaimana cincin itu lepas dari jari manis pria itu hingga tergeletak mengenaskan di atas lantai.

Dia masih tampak tertegun, masih tampak beku dan diam. Sampai terdengar deru mobil yang beranjak dari halaman rumah orang tuanya barulah Alyzaa tersadar dari keterkejutannya. Dia secepat kilat berbalik, hendak melangkah namun sudah terlambat.

Mobil itu sudah pergi-menjauh dan menghilang dari jarak pandangnya karna berbelok ke arah kiri dan tertutup oleh tingginya dinding tembok pagar. Tubuhnya kian terdiam kaku. Dia terlambat, benar-benar terlambat ternyata.

Sampai ada mobil lain yang masuk ke halaman rumahnya, setelah melewati pagar tinggi dan kini terparkir di depan rumah kedua orang tuanya. Alyzaa hanya bisa diam. Sama sekali belum bisa beranjak dari tempatnya berdiri. Seakan ada laku besar yang menancap di kedua kakinya.

"Loh, Za ngapain berdiri di sini? Udah selesai makan malamnya sama Ares?" Pertanyaan ramah ibunya membuat Alyzaa kian bisu.

"Wah, happy birthday ya putri, papa. Udah bertambah aja usianya sekarang." Irfan ikut menimpali-lengkap dengan tubuhnya yang mendekat, memberikan pelukan hangat pada putrinya itu. Singkat tapi cukup mampu membuat pria tua itu mengeryit saat tak mendapati balasan apa pun dari putrinya.

Saat menjauhkan tubuhnya, kernyitan di keningnya kian bertambah. Karna itu kini dia menoleh ke arah istrinya yang berdiri di belakangnya. Menatap istrinya itu dengan tatapan bertanya.

Seakan paham dengan apa maksud suaminya, Intan pun bertanya lembut. "Za, ada apa? Apa ada masalah?"

Alyzaa berbalik, menunduk dan memungut apa yang tadi sempat Ares lemparkan di dekat kakinya.

"Itu ... Cincin siapa?" Tanya Intan saat Alyzaa menatap cincin di tangannya lama. Mengusap ukiran namanya di sana. Dia bahkan baru sadar jika ada ukuran namanya di sana. Sejak kapan Ares membuatnya? Kenapa dia tidak tahu?

"Itu bukannya cincin pernikahan kamu sama Ares?" Irfan ingat betul cincin itu, cincin yang sering Ares tatap saat mereka bermain catur. Yang kadang pria itu tersenyum tipis menatapnya, mengusapnya dan memutar-mutarnya di jari manis pria itu. Yang kadang tidak pria itu sadari selalu menarik perhatian Irfan.

Intan melangkah mendekat, meraih cincin di tangan putrinya dan menatapnya-yang ternyata cincin itu memang sama persis seperti cincin yang digunakan putrinya sekarang. Bahkan ada ukuran nama putrinya di sana. "Cincinnya Ares? Tapi kok-" Intan menatap putrinya. "Za, ini kenapa, sih? Kamu berantem lagi sama Ares? Iya?"

Alyzaa menggigit ujung bibirnya kuat, menatap ibu dan ayahnya secara bergantian. "Sebenarnya hari ini Iza punya janji sama Ares untuk makan malam berdua. Dan Iza lupa, Iza juga gak tahu kalau dari tadi Ares nelponin Iza. Selain karna hp Iza ketinggalan di restoran, Iza juga-"

"Ketinggalan di restoran? Emangnya kamu dari mana sampai hp kamu ketinggalan di restoran dan gak tahu kalau Ares hubungi kamu? Kamu gak ada di restoran emangnya?" Sambar Intan cepat. Menatap putrinya menuntut.

"Iza pergi sama Reyhan. Tadi dia minta tolong buat carikan hadiah untuk orang tuanya yang mau datang ke sini."

"Reyhan? Kamu jalan sama Reyhan dan batalin gitu aja janji sama Ares?" Tegur Intan, kian menatap tak percaya putrinya itu.

"Ya Allah, Alyzaa. Kamu itu sadar gak sih apa yang kamu lakukan?" Intan menggeleng. Memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing. "Kamu itu masih istrinya Ares! Emangnya kamu lupa kalau kamu itu masih istrinya Ares?! Huh?! Bisa-bisa kamu jalan dengan laki-laki lain padahal suami kamu nungguin di sini?!"

"Kamu itu sebenarnya pinter apa gimana sih? Otak kamu itu di taro di mana sampai bisa bersikap ceroboh gitu?"

"Ma-"

Turun Ranjang (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang