Jantungku berdebar kencang ketika menekan tombol lift untuk turun ke lobi. Aku bukannya mau selingkuh atau apa. Nggak. Suer! Tidak ada niatan sama sekali. Aku hanya akan bertemu dengan ... dengan ... ok, tepatnya aku harus menyebut apa tentang Gabriel. Teman? Sudah jelas bukan, kami tidak pernah berteman. Kami hanya pernah tidur bersama, we had sex dan Agni adalah hasilnya. Baiklah, aku memutuskan untuk menyebut Gabriel orang yang pernah aku temui. Itu lebih tepat. Dia memang adalah orang yang pernah aku temui dan ... we had sex. Mind blowing sex! Oh shut up!
Aku mencoba membungkam pikiranku tentang seks, yang susul menyusul di dalam sana seperti kembang api di tahun baru. Berpindar dan menggelegar, dengan warna-warna ceria. Walaupun entah kenapa itu yang selalu melintas di kepalaku setiap kali nama Gabriel ada di sana. Gabriel, identik dengan seks. Hot sex!
Lift berbunyi, pertanda aku telah sampai di lantai tujuan. Breathe Tari ... breathe, selintas timbul keinginan untuk kembali ke atas. Mungkin aku bisa bilang bahwa aku sedang sakit perut. Hhmm ... bukan alasan yang elegan. Ok, meeting penting mendadak. Itu lebih masuk akal, sangat masuk akal. Aku masih menimbang-nimbang mana yang harus aku putuskan ketika sadar bahwa orang-orang yang berada di depan pintu lift memberikan tatapan tidak sabar. Ok, keluar, sebelum mereka menarikku dengan paksa.
Aku menyeret kaki keluar dengan jantung yang berdetak seperti akan menaiki SpaceX milik Elon Musk. Walaupun sudah jelas aku tidak punya duit untuk naik spaceX, lalu aku melihat dia. Orang yang berhasil membuat irama detak jantungku tidak menentu selama beberapa jam terakhir, berdiri di tengah lobi. Apa dia harus terlihat setampan ini ketika hari sudah sore? Seharusnya dia terlihat kusut dan kurang menarik, tetapi kenapa dia tetap gagah dan ... seksi.
Dia menoleh ke arahku, senyum merekah dari bibirnya diiringi dengan pijar di kedua bola mata biru itu. Ada getaran aneh di dalam diriku, aku seperti hendak melakukan tindakan asusila.
"Hi!" sapanya ceria. "I could have picked you up from your office."
"No. Here is good. Here is better." Aku tidak mau orang kantor melihat seorang bule datang menjemputku. Setahu mereka, pacarku adalah Genta.
"You look ...," dia memberikan tatapan intim. Terasa sangat intim, tatapan yang sama ketika dia sedang berada di atasku. Waktu itu. "Nice. You look very nice."
Pipiku terasa panas. Aku memang menyapukan sedikit bedak tadi sebelum turun, baiklah juga blush on, dan memperbaharui lip gloss di bibirku. "Oh ... uumm, thanks."
"Where do you want to go?"
"Any preference?"
"Nope!"
"There," kataku. Menunjuk ke arah hotel yang terletak persis di depan gedung kantor. Pilihan yang langsung aku sesali sedetik kemudian. Memang ada lounge dan restoran di dalam sana, tetapi kenapa hotel? Hotel mengingatkanku kembali dengan malam itu. Ya ampuuun ... seks lagi.
Kami mengambil tempat duduk di sudut ruangan, persis seperti pasangan selingkuh yang tidak ingin keberadaannya diketahui oleh dunia luar. Dia memesan kopi, sedangkan aku memilih chamomile tea dengan sandwich. Ok, beberapa sandwich. On my defends sandwich-nya berukuran kecil-kecil, atau ... paling tidak begitu menurutku, dan aku adalah seorang Ibu menyusui, di mana jam 5.30 sore perutku sudah berteriak-teriak minta diisi.
Gabriel sedang menatapku, kedua bola mata biru yang sedang memandangku dengan seksama itu seharusnya memberikan kesan tidak nyaman. Tetapi aku merasakan sebaliknya, tidak ada yang membuatku tidak nyaman dari tatapan mata teduh tersebut.
"I ... always wonder, if we ever meet again." Bibirnya membentuk senyum tipis yang sangat menggoda.
"Be careful what you wish for ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Occupation, Motherhood
Storie d'amoreBatari Kirana sedang berada di puncak karirnya. Di usia 32 tahun dia menjadi business manager lokal pertama di industri fashion kelas dunia tempatnya bekerja. Muda, enerjik dan ambisius, dengan mudah dia mendapatkan cinta dan wibawa dari anak buahn...
