West Jayakarta, SMK Cipta Wiyata.
July 17 2018, 11:30 AM.
Sorakan demi sorakan, terdengar jelas di telinga dua siswa yang sedang bersiap untuk bertarung. Saat ini, Budi sang anak baru tengah berada di parking lot bersama dengan Alan setelah temannya Boby dirundung oleh anak kelas animation. Bahkan Boby harus beristirahat di UKS sejenak.
"SINI NGEDEKET SEMAU LU ANJ*NG!" Dengan serangan depannya, Alan melayangkan sapu ke arah Budi dan menargetkan kaki dari sang musuh.
Pertarungan mereka di lapangan parkir, telah disaksikan oleh banyak orang, termasuk (name) yang baru saja sampai di antara kerumunan para siswa. Melihat Budi yang berusaha menahan serangan Alan, para murid semakin bersorak-ria.
"Lo emang kuat, tapi gua lebih kuat!" Mengayunkan sapunya kembali guna untuk melumpuhkan pertahanan Budi, Alan terus menyerang tanpa henti.
Bersamaan dengan hujan yang turun, pertarungan mereka tak kalah sengit. Melihat Yoga yang berdiri di pinggir keramaian, (name) segera menghampiri temannya dengan cepat untuk bertanya mengenai apa yang terjadi.
"Yoga, ini pada kenapa lagi dah? Sekolah kita apa nggak bisa ya sehari tanpa gelut?" Melihat Yoga yang mengedikan bahu tidak tahu, sang gadis kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Sebenarnya, ia hanya mengkhawatirkan Budi. Melihat luka serta darah di tangan pujaan hatinya, cukup membuat (name) cemas tak karuan.
Ia tahu bahwa Budi merupakan individu yang kuat. Kan tidak mungkin bila seorang yang lemah dapat menumbangkan 2 murid sekaligus dari jurusan animation. Terlebih lagi, yang dikalahkan merupakan anak buah terpercaya Alan, suruhan The Final Boss itu sendiri.
Deru nafas kasar berhembus begitu saja dari Alan yang masih menahan pukulan bertubi-tubi Budi. Anak baru ini memang cukup kuat dari pada oponen-oponen sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan pertahanan serangan, ia jauh lebih unggul dibanding sang anak pindahan.
"MAU LU TUH APA B*NGSAT?! Gak puas lu dan para kacung lu ganggu temen gua?!" Lontaran kasar tersebut berasal dari Budi yang tidak terima teman dekatnya dirundung oleh siswa kelas animation. Hanya ditinggal lelap sebentar, tiba-tiba saja Boby sudah berada di UKS. Benar-benar kelewat batas!
"Maunya gua? Ngabisin lo sekarang di sini SIALAN!" Hajar sang pria di depannya, melumpuhkan sang lawan dengan tendangan. Namun, sepertinya Budi tidak akan tumbang semudah itu.
(name) melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan pertarungan keduanya dari balik kerumunan. Sepertinya, para murid-murid SMK Cipta Wiyata sangat menunggu pemenang dari perkelahian ini.
Yoga yang serius memperhatikan, seketika mendapatkan notifikasi panggilan dari ponselnya. "(name) sorry gua pergi bentar yak! Dipanggil gua sama bang Bernard." Yoga pun segera bergegas menjauh dari parkir lot untuk menjawab telepon.
"Yaelah dah pergi aja tuh anak…yaudah deh." Ujar (name), melihat temannya pergi meninggalkan dia sendiri bersama murid kelas lain. Memfokuskan atensinya kembali, ia segera memperhatikan Budi dan Alan yang masih terus beradu jotos.
Perselisihan di antara keduanya semakin pecah, dibarengi oleh antusias dari para siswa. Bahkan rintik hujan pun tidak akan bisa menghentikan mereka. "PUKULAN LU GAK ADA APA-APANYA SAMA PUKULAN BOKAP GUA!"
"Bodo amat k*ntol!!" Budi segera menangkis pukulan sang ketua jurusan animation dengan cepat sembari memperhatikan step langkah selanjutnya.
Sebelum Alan dapat melayangkan serangan balasan, dengan cepat Budi memukul wajahnya cukup kencang, menyebabkan topeng sang kesatria terjatuh. Tercengang? Ya, (name) cukup terkejut melihat wajah Alan, walau tidak terlalu jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Way Out | Troublemaker
Fan-FictionAlan / Reader Padahal niatnya kan hanya untuk membantu mengirimkan surat cinta milik sang teman kepada salah satu anak kelas animation. Namun, mengapa dirinya lah yang terlibat masalah? Dengan pentolan kelas pula! "Jujur aja, lu suka bang Alan kan?"...
