West Jayakarta, Rumah (name).
October 24 2018, 09:51 AM.
Melihat jam yang telah terpasang di dinding, (name) segera meraih kopernya yang telah dikemas dengan rapi. Memandang kembali seluruh foto akan dirinya dan sang ayah yang terpajang di meja, gadis itu menghela nafas berat.
Dirinya sudah siap dan tak akan menoleh ke belakang lagi. Hanya ini kesempatan untuk dirinya pergi dari rumah serta kota yang telah memuakkan seluruh tubuhnya. Meraih ponselnya dari saku, (name) segera membuka notifikasi yang termuncul.
Tersenyum dalam diam, gadis itu segera menarik kopernya ke ruang tamu dan memposisikan dirinya untuk duduk di sofa. Tak lupa, ia juga meraih secarik kertas dan sebuah pulpen untuk menulis surat perpisahan kepada sang ayah.
Tidak mungkin kan dirinya ini pergi tanpa berpamit?
Menggerakkan pulpen itu dengan lihai dalam sebuah kertas, (name) dapat merasakan perasaan emosional itu kembali. Memang benar jika dirinya ini membenci pria itu. Namun, mau bagaimana pun, pria itu juga sosok ayahnya.
Ayah yang selalu (name) damba-dambakan pelukannya.
Ayah yang selalu (name) ingin-inginkan pujiannya.
Ayah yang selalu (name) harapkan perhatiannya.
Dan sosok ayah—yang berusaha keras untuk menghidupinya sampai sekarang.
Melihat tetesan air mata yang terjatuh pada kertas tersebut, gadis itu segera menarik nafas dalam-dalam dan kembali meletakkan surat yang sudah tertulis kalimat perpisahan. Menyandarkan punggungnya di sofa, (name) tanpa sadar melamun.
Layaknya nyanyian dalam kesunyian, sang gadis dapat merasakan seruas buncah di dada. Duka yang telah menjaganya benar-benar menyesakkan, serasa akan mencabik-cabik hatinya yang perlahan tersisa atas kerinduan.
Ia tahu bahwa sudah tak ada jalan lagi untuk kembali. Lagi pula, ayahnya itu kan tidak peduli akan dirinya. Selalu pergi, berayun-ayun dalam suasana keras kepala dan ego—tanpa memikirkan gadis kecilnya sama sekali.
Sungguh kejam. Namun, itu tetap ayahnya.
Sungguh kasar. Namun, itu tetap ayahnya.
Mau bagaimana pun, pria itu tetap akan menjadi ayahnya sampai dunia berakhir. Meski dengan perilakunya yang sungguh memecah hati.
Sesaat (name) masih terlarut dalam kesenduannya, sebuah suara klakson motor seketika mengejutkannya. Membaca notifikasi yang baru saja masuk, gadis itu segera memasang senyuman indahnya dan menarik koper miliknya ke luar rumah.
Meninggalkan surat tersebut di atas meja beserta dengan pulpen yang berisi tinta hitam.
Melihat sang kekasih di depan rumah, (name) dengan cepat menghampirinya. Pemuda itu tersenyum dan segera membantu sang gadis untuk menaruh kopernya di bagian depan motor, lalu menyerahkan sebuah helm.
"Udah siap buat berangkat, tuan putri?" Tanya Alan dengan nada yang sangat lembut, membuat gadis itu salah tingkah sendiri. Dengan cepat, (name) menaiki motor Alan dan bersiap pada posisinya.
"Udah kok. Ayo cepet, biar aku nggak ketinggalan pesawat. Ibuku juga pasti udah nunggu." Melingkarkan tangannya pada pinggang sang pemuda, sikap (name) benar-benar menuai kekehan dari sang kekasih.
"Hahah ok. Pegangan ya." Menancap gas dari sana, kedua insan tersebut segera pergi menuju tempat tujuan. Angin pagi disertai oleh pancaran sinar dari sang surya, membuat keduanya menikmati perjalanan mereka.
Suasana kota Jayakarta benar-benar ramai pada pagi ini. Terlihat seorang ibu yang tengah menjual sayurnya dengan semangat. Dan ada pula, sesosok tukang parkir yang sedang membantu pasangan lansia untuk menyebrang.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Way Out | Troublemaker
FanfictionAlan / Reader Padahal niatnya kan hanya untuk membantu mengirimkan surat cinta milik sang teman kepada salah satu anak kelas animation. Namun, mengapa dirinya lah yang terlibat masalah? Dengan pentolan kelas pula! "Jujur aja, lu suka bang Alan kan?"...
