[14] With Me?

1.9K 297 88
                                        

West Jayakarta, Warnet Arik.
October 2 2018, 08:30 PM.

Menggeserkan kursornya guna untuk melihat map, (name) dengan sigap membuka chest serta merampas item-item milik Alan dari markas. "Asik dapet senjata baru." Girangnya sembari terkekeh. Ia baru tahu, ternyata bermain game seperti ini seru juga.

"Woy itu chest gua anj*ng! Balikin cepet!" Decak Alan, berusaha untuk merenggut sniper favoritnya yang telah dicuri oleh sang gadis. Mereka berlari mengejar satu sama lain, mengabaikan musuh yang sedari tadi kebingungan dalam game.

"Bodo amat. Kan yang nemuin gue. Bye-bye sniper favorit lo Lan." Dengan cepat, (name) menaiki helikopter menjauhi sang pemuda. Entah lah, dirinya merasa sangat senang. Meskipun, ia baru saja dihadapi oleh permasalahan, semuanya seakan-akan hilang begitu saja.

Sudah lama dirinya tak merasakan seperti ini. Layaknya melepas beban yang dipikul dengan bermain game, semuanya terasa ringan. Padahal, ini kan hanya game, kenapa rasanya sespesial ini ya? Apa karena...Pemuda di sampingnya? Heh, mustahil.

Arik yang melihat mereka dari kejauhan, hanya bisa mengelus dada sabar. Sudah lama sekali dirinya tak memiliki pasangan. Meringis dalam hati, sang pemuda berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dengan menonton meme FB, dengan harapan dirinya dapat terhibur.

'Kuatkan lah hambamu ini Tuhan dalam melihat kebucinan...' Pekik Arik dalam hati.

Warung internet itu memang sudah sepi sejak pukul 7 PM, meninggalkan dua orang saja di sana yaitu Alan dan (name). Keduanya masih terus asik bermain tanpa melihat waktu.

Lagi pula, jarang-jarang mereka bisa bersama tanpa adanya perselisihan seperti ini. Ya, meski Alan dan (name) sempat berargumen di halte bus sore tadi.

Meregangkan badan usai menyelesaikan match, (name) segera melepas headset di kepalanya dan menoleh ke samping tepat Alan berada. "Lan. Udah jam 9." Panggil sang gadis yang masih bertopang dagu. Melihat teman yang tak bisa dipanggil temannya juga, membuat (name) tanpa sadar menerbitkan senyum.

Sejak kapan mereka menjadi cukup dekat seperti ini? Perasaan, (name) kan hanya berniat untuk memberikan kotak P3K waktu itu kepada Alan selepas pertarungan yang terjadi antara Budi dan sang pemuda. Lantas, mengapa dirinya bisa berinteraksi sejauh ini?

"Mau udahan?" Menekan tombol exit, Alan segera menoleh balik ke arah (name) yang masih tersenyum simpul. Kaget? Pastinya.

Melihat senyuman sang gadis yang ditujukan untuknya, membuat Alan sedikit tersentak. Apa mungkin karena dirinya terbiasa dengan wajah garang (name)? Sehingga, kala melihat senyuman dari sang gadis, itu membuatnya terkejut bukan main.

Menyadari apa yang tengah dilakukan, (name) segera berdeham untuk menyembunyikan kecanggungan yang terbentuk di antara mereka berdua. "Udahan aja. Udah malem pula..." Ujar (name), menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Mengangguk setuju, Alan segera bangkit dari duduknya dan pergi mengajak (name) keluar dari warnet. Tidak lupa, dirinya juga mengucapkan pamit kepada bang Arik yang masih nongkrong dekat pintu masuk.

"Mau pulang Lan? Hati-hati ye." Ucap Arik, melihat temannya yang hendak keluar.

"Iya Rik. Thanks." Balas Alan, menjawab pertanyaan sang teman.

Sebelum keduanya dapat keluar warnet, lagi-lagi Arik berseru kencang agar dapat didengar oleh temannya. "LAEN KALI AJAK CEWE LU LAGI LAN! BIAR RAME!" Mendengar pekikan sang teman, Alan hanya mengacungkan jempol tanpa menoleh balik.

Merasakan terpaan angin menyambut keduanya, Alan dan (name) segera berjalan menuju parkiran. Sebenarnya, mereka berdua juga tak ingin momen ini segera berakhir. "Lo belum makan kan?" Tanya sang pemuda sembari memberikan helmnya kepada (name).

She Way Out | TroublemakerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang