West Jayakarta, Taman Kota.
October 22 2018, 10:00 AM.
Memandang wajah sang ibunda, benar-benar membuat dada (name) terasa berat. Dengan perasaan yang bercampur aduk, gadis itu masih terus terdiam membisu kala duduk berdampingan dengan Rundaya di sebuah bench taman kota Jayakarta.
"...jadi? Ibu mau ngomong apa sama aku?" Menanyakan hal sesederhana ini saja, sudah membuat lidahnya kelu bukan main. Detak jantungnya benar-benar berdegup kencang, membuat (name) merasa sedikit sesak. Bulir keringat pun bahkan mulai ternampak di telapak tangannya.
"Ibu kangen banget sama kamu (name)... ibu udah cari kamu ke mana-mana, tapi seluruh informasi tentang kamu selalu ditutupi oleh ayahmu. Ibu pengen banget ngajak kamu kembali kayak dulu, kita pergi berdua aja..." Dengan perlahan, Rundaya langsung menyentuh bahu sang buah hati penuh kasih.
Namun, belum apa-apa, tangannya sudah disingkirkan dengan lembut begitu saja oleh (name) yang masih memandangnya kosong. Ah, tatapan gadis itu, betul-betul membangkitkan rasa bersalah yang telah ada sejak lama dalam diri Rundaya. Ia lah yang telah membuat (name) menjadi seperti ini. Ini semua salahnya.
"(name)..."
Sejujurnya, Rundaya sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi kepada (name). Bayangkan saja? Seorang anak ditinggal bertahun-tahun lamanya oleh sang ibu dengan sosok ayah yang kasar, tanpa perlindungan. Bukankah itu akan sangat berdampak bagi kesehatan mental anak tersebut?
Menghela nafas panjang, lagi-lagi (name) hanya bisa menatap langit dengan seksama tanpa menolehkan kepalanya langsung ke arah sang bunda. "Aku nggak tau harus ngomong apa buat rencana ibu." Jawabnya lugas, masih terus menahan seluruh emosi terpendamnya yang memaksa untuk keluar.
Ia mengerti akan posisi ibunya. Penuh kesengsaraan dan kekangan dari sang ayah yang terus berlaku kasar. Sebagai manusia biasa, (name) dapat memaklumi tindakan ibunya tersebut.
Namun, jika kita berbicara sebagai seorang anak, apakah dirinya tidak berhak merasa kecewa?
9 tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Menggigit bibirnya kasar, gadis itu perlahan mulai mengepalkan tangannya kala menahan rasa sakit yang terus menusuk. Sorot matanya sudah sangatlah kosong, tanpa secercah cahaya kehidupan di dalamnya. Melihat hal itu, rasa khawatir Rundaya semakin menjadi-jadi.
"Ibu tau kamu pasti kecewa (name)... ibu akui semua itu emang salah ibu. Salah karena telah ninggalin kamu dan semuanya. Kamu udah nanggung beban yang sangat berat dari kecil, dan itu salah ibu. Ibu minta maaf (name)..."
Kilas Balik malam kelam
Dengan air mata yang telah mengering di sekitar pelupuknya, Rundaya masih terus memasukkan barang-barangnya ke dalam koper guna untuk meninggalkan rumah ini. Ia berharap, suaminya dan anaknya belum terbangun, masih terlelap dalam dunia mimpi.
'Maafin ibu (name). Ibu mohon, jangan benci ibu karena ini...' Pintanya dalam hati, dengan sorot mata yang kentara sekali rasa bersalahnya.
Membuang nafas penat akibat lelah yang dirasa, wanita itu tidak sadar bahwa sang buah hati sudah terbangun sejak lama. "...Ibu? Ibu mau ngapain?" Tersentak kala mendengar panggilan anak tercintanya, Rundaya dapat merasakan air matanya bercucuran kembali.
Ia tidak rela bila harus meninggalkan (name) di sini bersama dengan suami kasarnya itu. Namun, ia tak punya pilihan lagi selain ini. "Eh (name)...? anak ibu? K-kamu udah bangun sayang? Kenapa gak tidur lagi hm? Ibu cuma lagi beresin baju-baju aja kok."
Dengan cepat, dirinya segera menghampiri malaikat kecilnya tersebut dan mendekap (name) erat, tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang sendu dan mata sembabnya akibat menangis. Namun, sepertinya mata gadis itu lebih tajam dari yang Rundaya perkirakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Way Out | Troublemaker
FanfictionAlan / Reader Padahal niatnya kan hanya untuk membantu mengirimkan surat cinta milik sang teman kepada salah satu anak kelas animation. Namun, mengapa dirinya lah yang terlibat masalah? Dengan pentolan kelas pula! "Jujur aja, lu suka bang Alan kan?"...
