West Jayakarta, Rumah Dira.
July 23 2018, 06:42 PM.
Mendapati temannya melamun, Dira segera menepuk bahu (name) pelan, berusaha untuk menyadarkan. "Lu kenapa (name)? Ada masalah lagi sama boka-" Sebelum dirinya dapat menyelesaikan ucapannya, sebuah tangan seketika mencubit kulit Dira. "Aw! Aw! Ih kok lu nyubit gua sih?!"
"Lo cerewet banget abisan. Gue juga nggak apa-apa. Dah ah, lo jangan bahas yang tadi lagi. Gue cuma lagi mikirin sesuatu bentar." Elak (name), mengambil keripik di depannya dengan ekspresi tidak bersalah selepas mencubit temannya.
Dira yang merasa curiga, seketika membelalakkan mata dengan semangat. Wajahnya berseri-seri, menatap (name) yang sekarang merasa bingung. Apa jangan-jangan, temannya ini sedang jatuh cinta?! "Kenapa lo natap-natap gue gitu?" Tanya (name), mengerutkan keningnya.
Dira mencengkram bahu (name) pelan dan memekik kesenangan. "Lu pasti tadi mikirin crush lu ya?! Jujur gak sama gue sekarang!" Bahkan saking semangatnya, Dira sampai menarik-narik pipi (name) yang kian memerah.
Menahan malunya, (name) menatap sang teman dengan wajah memanas, lalu menjitak kening Dira. "Aw! Sakitt!!" Seru Dira mengerucutkan bibirnya, membuat (name) geli sendiri.
"Lagian lo cubit pipi gue. Gue juga baru mau deketin doang, belum suka yang gimana-gimana." Menggelengkan kepalanya heran terhadap kelakuan Dira yang super ekstra, ia kemudian membuka social media Rani.
Melihat wajah Budi yang terpampang di sana, membuat gadis itu menahan senyum. Dira yang mengintip dari balik (name), seketika merenggut handphone milik sang teman. "Ini Budi kan?! Ciee lu sukanya sama anak baru? Ternyata lo bisa suka orang juga!"
Mendesis kesal, (name) kembali merebut ponselnya dan menatap Dira tajam. "Lo kira gue apaan? Ya masa gue nggak bisa suka orang? Dah ah balikin HP gue sini!" Ini bukanlah pertama kali mereka berdua sleepover di rumah masing-masing. Bahkan, hal ini sudah menjadi kegiatan wajib yang harus mereka lakukan setiap saat.
Biasanya, (name) akan pergi menginap di rumah Dira untuk 1 minggu. Dan sebaliknya, Dira akan tinggal di rumah (name) pula untuk seminggu penuh. Berbaring di kasur bersama dengan temannya, ia mulai terpikir sesuatu.
"Dir." Panggil (name), masih melihat video Rani di Youtube.
"Hm? Apaan?" Dira yang tengah menyelesaikan boss level di game ponselnya, langsung menoleh menatap temannya segera.
"Gue bingung harus gimana. Gue mau deketin Budi tapi kenapa momennya selalu nggak tepat ya? Kemaren gue mau ngajak si Budi ke kantin bareng, tapi dianya keburu berantem, akhirnya nggak sempet nanya." Bangkit dari posisi berbaring, (name) duduk bersila menghadap Dira.
"Abis itu, besoknya lagi gue mau coba nyapa, eh dianya malah keburu pergi bareng Boby, akhirnya gagal lagi. Kan bingung jadinya. Apa kau ada saran buat ngedeketin dia?" Keluh (name) penuh runyam.
Dari dulu, sang gadis memang tak terlalu pintar dalam masalah percintaan. Makanya, ia sedikit clueless. Kalaupun dirinya menyukai seseorang, pasti akan langsung tertolak atau gagal sedari awal sebelum mencoba. Memang menyedihkan.
"Hm...Gua saranin sih mending deketin temen-temennya dulu. Kan di software engineering ada si Rani sama satu lagi si Boby kan? Coba aja dulu deketin mereka biar lo bisa sering hangout deket Budi plus dia juga gak ngerasa risih." Seperti mendapatkan missing piece dari puzzle yang hilang, sekarang (name) tahu apa yang harus dilakukan.
"Oh ya! Btw lo tau gak Sophia udah putus? Semenjak dia di dorong sama si Ricco di lapangan, dia langsung mutusin tuh cowo berandal." Dira menarik selimut lalu mengambil remote TV guna untuk menyetel Netflix.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Way Out | Troublemaker
FanfictionAlan / Reader Padahal niatnya kan hanya untuk membantu mengirimkan surat cinta milik sang teman kepada salah satu anak kelas animation. Namun, mengapa dirinya lah yang terlibat masalah? Dengan pentolan kelas pula! "Jujur aja, lu suka bang Alan kan?"...
